Kim Jong Un Tak Akan Hentikan Proyek Senjata Nuklir yang Dibutuhkan untuk Lawan AS

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan negaranya tidak akan menghentikan proyek senjata nuklir yang dibutuhkannya untuk melawan Amerika Serikat.

Penulis: Rica Agustina
Editor: Tiara Shelavie
STR / KCNA MELALUI KNS / AFP
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan negaranya tidak akan menghentikan proyek senjata nuklir yang dibutuhkannya untuk melawan Amerika Serikat. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menekankan negaranya tidak akan pernah meninggalkan senjata nuklir yang dibutuhkannya untuk melawan Amerika Serikat (AS), AP News melaporkan.

Pernyataan itu disampaikan dalam pidato hari Kamis di parlemen Korea Utara, di mana anggota mengesahkan undang-undang yang mengatur penggunaan senjata nuklir.

Kim Jong Un menggambarkan undang-undang tersebut sebagai langkah untuk memperkuat status nuklir negara itu dan menjelaskan kebijakan senjata semacam itu tidak akan dapat diubah.

Undang-undang tersebut termasuk ketentuan yang mengharuskan militer Korea Utara untuk "secara otomatis" melakukan serangan nuklir terhadap pasukan musuh jika kepemimpinannya diserang.

Kim Jong Un juga mengkritik Korea Selatan atas rencananya untuk memperluas kemampuan serangan konvensional dan menghidupkan kembali latihan militer skala besar dengan AS untuk melawan ancaman Korea Utara, menggambarkannya sebagai tindakan militer "berbahaya" yang meningkatkan ketegangan.

Kim Jong Un telah membuat ancaman konflik nuklir yang semakin provokatif terhadap AS dan sekutunya di Asia, juga memperingatkan bahwa Korea Utara akan secara proaktif menggunakan senjata nuklirnya ketika terancam.

Baca juga: Perkuat Militer Selama Invasi, Rusia Akan Borong Amunisi dan Roket dari Korea Utara

Pernyataan terakhirnya menggarisbawahi meningkatnya permusuhan di kawasan itu saat ia mempercepat perluasan program senjata nuklir dan misilnya.

"Tujuan Amerika Serikat tidak hanya untuk menghilangkan kekuatan nuklir kami sendiri, tetapi pada akhirnya memaksa kami untuk menyerahkan atau melemahkan hak kami untuk membela diri dengan menyerahkan nuklir kami, sehingga mereka dapat meruntuhkan pemerintah kami setiap saat,” kata Kim Jong Un dalam pidato yang diterbitkan oleh kantor berita resmi Korea Utara, KCNA.

"Biarkan mereka memberi sanksi kepada kami selama 100 hari, 1.000 hari, 10 tahun atau 100 tahun,” tambah Kim Jong Un.

"Kami tidak akan pernah melepaskan hak kami untuk membela diri yang menjaga keberadaan negara kami dan keselamatan rakyat kami hanya untuk sementara meringankan kesulitan yang kami alami sekarang."

Kim Jong Un kemudian membahas masalah domestik, dengan mengatakan Korea Utara akan memulai vaksinasi Covid-19 yang telah lama tertunda pada November.

Dia tidak merinci berapa banyak dosis yang akan diberikan, dari mana asalnya, atau bagaimana mereka akan diberikan ke seluruh rakyatnya yang berjumlah 26 juta orang.

GAVI, organisasi nirlaba yang menjalankan program distribusi COVAX yang didukung PBB, mengatakan pada bulan Juni bahwa pihaknya memahami Korea Utara telah menerima tawaran vaksin dari China.

GAVI mengatakan pada saat itu secara spesifik tawaran itu tidak jelas.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved