Virus Corona

Menteri Kesehatan Jepang Tegaskan Belum Realistis Menurunkan Status Covid-19 ke Level 5

Menteri kesehatan Jepang Katsunobu Kato menegaskan belum realistis saat ini untuk menurunkan tingkat bahaya virus corona ke level 5.

Editor: Dewi Agustina
Foto NHK
Menteri kesehatan Jepang Katsunobu Kato menegaskan belum realistis saat ini untuk menurunkan tingkat bahaya virus corona ke level 5. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri kesehatan Jepang Katsunobu Kato menegaskan belum realistis saat ini untuk menurunkan tingkat bahaya virus corona ke level 5.

"Saat ini tidak realistis untuk menurunkan virus corona ke level 5," papar Menteri Katsunobu Kato, Jumat (9/9/2022).

Sebelumnya beberapa pihak di Jepang menginginkan level virus corona diturunkan ke posisi yang sama dengan influenza musiman atau level 5 sesuai Undang-Undang Penyakit Menular.

Menurut Katsunobu Kato, saat ini yang diperlukan adalah untuk mencegah penyebaran infeksi virus corona dan menyeimbangkan kegiatan sosial dan ekonomi.

Baca juga: BREAKING NEWS Covid-19 Indonesia Jumat 9 September 2022, Hari Ini Tambah 2.804 Kasus

Dalam perencanaan, ia menunjukkan bahwa akan mempertimbangkan untuk merevisi seperlunya.

Di bawah Undang-Undang Pengendalian Penyakit Menular, penyakit menular diklasifikasikan ke dalam "Level 1" hingga "Level 5" sesuai dengan risiko tingkat bahaya dan tindakan tegas diambil.

"Strain Omicron memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dan tingkat penyakit parah yang lebih tinggi daripada influenza, terutama di kalangan orang tua. Level 5 itu bukan target," kata Katsunobu Kato pada konferensi pers setelah rapat kabinet.

Sekali lagi Menteri Kato menunjukkan pandangan hati-hati dalam mengurangi klasifikasi menjadi 5 pada tahap ini.

"Kami terus bergerak ke tahap baru dengan corona, tetapi kami fokus untuk melindungi orang tua yang berisiko sakit parah. Kami akan meninjau dan menyesuaikan dengan situasi kondisi yang ada saat itu," ujarnya.

Menteri Kato juha mengatakan bahwa para ahli telah menunjukkan kemungkinan epidemi simultan dari virus corona dan influenza baru.

"Perlu untuk memikirkan tindakan pencegahan sambil mengasumsikan situasi seperti itu. Sementara para dokter diupayakan untuk menunjukkan gagasan tentang mempromosikan vaksinasi lebih lanjut," ujarnya.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif.

Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved