Konflik Rusia Vs Ukraina

Putin Ancam Balas 'Aksi Teror' Ukraina hingga Sebut Pasukan Rusia Tak akan Hentikan Serangan

Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan membalas 'aksi teror' Ukraina hingga berjanji pasukannya tak akan menghentikan serangan.

AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu meninggalkan Lapangan Merah setelah parade militer Hari Kemenangan di Moskow tengah pada 9 Mei 2022. - Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan membalas 'aksi teror' Ukraina hingga berjanji pasukannya tak akan menghentikan serangan. 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Vladimir Putin menuduh pasukan Ukraina mencoba melakukan "aksi teror" dan menyebabkan kerusakan pada infrastruktur sipil Rusia.

Untuk itu, Putin tidak akan menahan diri dalam menanggapi serangan Ukraina tersebut.

Jika serangan terus terjadi, Rusia akan memberikan tanggapan yang lebih serius.

"Kami benar-benar menahan diri dalam menanggapi ini untuk saat ini," kata Putin pada konferensi pers pada Jumat (16/9/2022).

"Jika situasinya terus berkembang seperti ini, responsnya akan lebih serius."

Putin juga berjanji akan terus melancarkan serangannya di Ukraina.

Baca juga: Tingkatkan Hubungan dengan China dan Rusia, Turki Berupaya Gabung ke Organisasi SCO

Putin tetap teguh meskipun ada bukti kuat bahwa pasukannya mengalami kerugian besar dalam serangan balasan Ukraina bulan ini.

Putin mengatakan tujuan utama dari serangan Rusia adalah pembebasan seluruh wilayah Donbas, yakni wilayah Ukraina timur termasuk Donetsk dan Luhansk yang sebagian besar berbahasa Rusia.

Menurut Putin, pasukannya memang bergerak dengan lambat, tetapi tentara Rusia terus menduduki wilayah yang lebih baru dan lebih baru lagi.

"Rencana itu tidak tunduk pada penyesuaian," kata Putin sebagaimana dikutip Al Jazeera.

"Operasi ofensif kami di Donbas sendiri tidak berhenti."

"Mereka berjalan dengan lambat. Tentara Rusia menduduki wilayah yang lebih baru dan lebih baru," lanjutnya.

Sementara itu, Kanselir Jerman Olaf Scholz berbicara dengan Putin di telepon pada hari Selasa setelah istirahat beberapa bulan.

Menurut pemerintah Jerman, percakapan itu berlangsung selama 90 menit.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved