Mantan PM Jepang Shinzo Abe Ditembak

Mengapa Pemakaman Kenegaraan Shinzo Abe Menuai Kontroversi? Biaya Tinggi Jadi Salah Satu Alasannya

Pemakaman kenegaraan mantan PM Jepang Shinzo Abe digelar Selasa (27/9/2022). Banyak pemimpin dunia berkumpul, tetapi sebagian besar rakyat menentang.

AFP/PHILIP FONG
Orang-orang berkumpul untuk memprotes pemakaman kenegaraan mendiang perdana menteri Jepang Shinzo Abe, di depan stasiun Shinjuku Tokyo pada 19 September 2022. Pemakaman kenegaraan mantan PM Jepang Shinzo Abe digelar Selasa (27/9/2022). Banyak pemimpin dunia berkumpul, tetapi sebagian besar rakyat justru menentang acara tersebut. 

TRIBUNNEWS.COM - Seminggu lalu, para pemimpin dunia berkumpul di London untuk menghadiri pemakaman kenegaraan Ratu Elizabeth II.

Kini, para pemimpin dunia kembali menghadiri pemakaman kenegaraan, kali ini untuk mantan PM Jepang Shinzo Abe, Selasa (27/9/2022).

Namun, tak semua masyarakat Jepang menerima acara pemakaman kenegaraan ini.

Salah satunya dikarenakan pemakaman kenegaraan menelan biaya tinggi, sekitar 1,65 miliar yen.

Dalam beberapa minggu terakhir, seperti dilaporkan BBC.com, penolakan terhadap pemakaman kenegaran Shinzo Abe meluas.

Jajak pendapat mengungkapkan bahwa lebih dari setengah populasi Jepang menolak acara tersebut.

Baca juga: Para Pemimpin Dunia Hadiri Pemakaman Mantan PM Jepang Shinzo Abe, Termasuk Wapres Maruf Amin

Bahkan, seorang pria membakar diri sendiri di dekat kantor perdana menteri sebagai bentuk penolakan.

Sehari sebelum pemakaman, sekitar 10.000 demonstran turun ke jalanan Tokto meminta pemakaman kenegaraan dibatalkan.

Di sisi lain, para pemimpin dunia terbang ke Tokyo untuk memberi penghormatan terakhir mereka.

Sebut saja wakil presiden Indonesia Maruf Amin, wapres AS Kamala Harris, dan PM India Narendra Modi.

Lantas mengapa para pemimpin dunia berkumpul meski rakyat Jepang sendiri menolak pemakaman ini?

Nyata, pemakaman kenegaraan bukanlah acara biasa.

Di Jepang, pemakaman kenegaraan hanya dilakukan untuk anggota kekaisaran.

Hanya sekali, sejak Perang Dunia Kedua, seorang politisi diberi kehormatan ini, dan itu terjadi pada tahun 1967.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved