Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Akhirnya Akui Kesalahan Mobilisasi Parsial, Jubir Putin: Akan Diperbaiki

Rusia mengakui adanya kesalahan terhadap dekrit yang dikeluarkan Presiden Vladimir Putin terkait mobilisasi parsial.

Editor: Daryono
AFP/OLGA MALTSEVA
Petugas polisi menahan demonstran di Saint Petersburg pada 21 September 2022, menyusul seruan untuk memprotes mobilisasi parsial yang diumumkan oleh Presiden Vladimir Putin. - Juru Bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov mengatakan adanya kesalahan yang dibuat dalam upaya mobilisasi. 

TRIBUNNEWS.COM - Rusia telah mengakui adanya kesalahan yang dibuat dalam upaya mobilisasi.

Di tengah-tengah meningkatnya oposisi publik, Rusia menyebut akan memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.

Seperti diketahui, Presiden Rusia, Vladimir mengumumkan mobilisasi parsial saat perang di Ukraina tengah memanas.

"Ada kasus-kasus ketika dekrit itu dilanggar," kata Juru Bicara Putin, Dmitry Peskov, dikutip dari BBC.

"Semua kesalahan akan diperbaiki," lanjutnya.

Beberapa laporan mengatakan orang-orang yang tidak memiliki pengalaman militer - atau yang terlalu tua atau cacat - dipanggil.

Baca juga: UPDATE Perang Rusia-Ukraina Hari ke-215: Polisi dan Orang-orang Anti-Wajib Militer Bentrok di Moskow

Sejumlah pakar militer di Barat dan Ukraina mengatakan, keputusan Putin untuk memanggil pasukan cadangan menunjukkan bahwa pasukan Rusia gagal di medan perang.

Sejak pengumuman mobilisasi, lebih dari 2.000 orang telah ditahan dalam protes di seluruh Rusia.

Peskov mengatakan, di beberapa daerah, "gubernur secara aktif bekerja untuk memperbaiki situasi".

Peskov juga mengatakan, dia tidak mengetahui keputusan untuk menutup perbatasan Rusia dan memberlakukan darurat militer di negara itu.

Sejak mobilisasi diumumkan, banyak pemuda Rusia berusaha meninggalkan negara itu.

Baca juga: MOMEN Terakhir Xi Jinping Tampak di Publik, Satu Acara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin

Penerbangan keluar dari Rusia telah terjual habis dan mobil telah menumpuk di pos pemeriksaan perbatasan.

"Panik. Semua orang yang saya kenal panik," kata David, seorang warga Rusia, dikutip dari Al Jazeera.

"Kami lari dari rezim yang membunuh orang," lanjutnya.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved