Konflik Rusia Vs Ukraina

Cerita Warga Ukraina 'Ditodong' Senjata oleh Pasukan Rusia saat Pemungutan Suara Referendum

Petugas pemungutan suara referendum di empat wilayah Ukraina didampingi tentara Rusia yang bersenjata saat mendatangi warga.

AFP/JUAN BARRETO
Para pengamat berkumpul di depan rumah sakit bersalin yang hancur di Kramatorsk, wilayah Donetsk pada 12 September 2022, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. (Photo by Juan BARRETO / AFP) - Petugas pemungutan suara referendum di empat wilayah Ukraina didampingi tentara Rusia yang bersenjata saat mendatangi warga. 

TRIBUNNEWS.COM - Warga Ukraina di wilayah yang diduduki pasukan Rusia atau kelompok separatis, menceritakan ketegangan selama referendum berlangsung.

Sebelumnya, empat wilayah yakni Luhansk dan Donetsk (Donbas), Zaporizhia dan Kherson di Ukraina timur telah merampungkan referendum untuk bergabung dengan Federasi Rusia.

Saksi mata yang merupakan warga lokal dari keempat wilayah tersebut mengaku pasukan Rusia menyuruh orang-orang memilih di jalanan, tempat pemungutan suara, hingga dari rumah ke rumah.

Jika menolak memberikan suara, kata para saksi mata, nyawa mereka bisa terancam.

Mereka mengatakan "komite pemilihan" untuk referendum ini didampingi oleh personel militer Rusia yang bersenjata, lapor DW

"Dua wanita dan tiga tentara Rusia dengan senapan bertanya kepada saya apakah saya akan memilih," kata seorang wanita yang tinggal di sebuah desa dekat Melitopol di wilayah Zaporizhia.

Baca juga: 5 Tentara Rusia Didakwa Pemerintah Ukraina karena Diduga Tembaki Mobil Sipil di Kyiv

Ia mengaku sempat bertanya apakah ia memiliki pilihan, namun rombongan itu bungkam.

"Saya harus meletakkan salib di mana mereka menunjuk dengan laras pistol," ujarnya.

Meskipun tidak ingin memberikan suara, wanita ini mengaku melakukannya karena takut militer Rusia akan merekrut putranya sebagai tentara.

"Untung suami dan anak saya sedang bekerja di ladang saat itu. Saya tidak ingin mereka mengambil anak saya, dia ada dalam daftar mereka," kata wanita itu sambil menangis.

Pemilih Dipaksa dan Diancam

Pasukan cadangan yang direkrut selama mobilisasi parsial menghadiri upacara keberangkatan di Sevastopol, Krimea, pada 27 September 2022. - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan pada 21 September mobilisasi ratusan ribu pria Rusia untuk mendukung tentara Moskow di Ukraina, memicu demonstrasi dan eksodus pria ke luar negeri.
 (Photo by STRINGER / AFP)
Pasukan cadangan yang direkrut selama mobilisasi parsial menghadiri upacara keberangkatan di Sevastopol, Krimea, pada 27 September 2022. - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan pada 21 September mobilisasi ratusan ribu pria Rusia untuk mendukung tentara Moskow di Ukraina, memicu demonstrasi dan eksodus pria ke luar negeri. - Petugas pemungutan suara referendum di empat wilayah Ukraina didampingi tentara Rusia yang bersenjata saat mendatangi warga. (Photo by STRINGER / AFP) (AFP/STRINGER)

Pasukan Rusia menekan dan mengancam orang-orang selama referendum palsu, kata Yaroslav Yanushevych, kepala administrasi militer Kherson.

"Kolaborator, ditemani oleh penjajah bersenjata, menangkap orang-orang di jalan-jalan dan menggunakan ancaman untuk memaksa mereka memilih," tulis Yanushevych di Telegram.

Penduduk yang disebut "Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk" melaporkan bahwa di Luhansk tempat pemungutan suara didirikan di halaman belakang bangunan tempat tinggal atau di pintu masuk pasar.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved