Virus Corona

Warga China Bentrok hingga Ditangkap Pihak Berwenang, Buntut Protes Aturan nol-Covid

Warga China telibat bentrokan dengan pihak berwenang saat memprotes aturan pembatasan Covid-19.

Penulis: Rica Agustina
Editor: Tiara Shelavie
Noel Celis / AFP
Seorang petugas kesehatan mengambil sampel swab dari seorang wanita untuk tes virus corona Covid-19 di Beijing pada 1 Mei 2022. - Warga China telibat bentrokan dengan pihak berwenang saat memprotes aturan pembatasan Covid-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Warga China telibat bentrokan dengan pihak berwenang saat memprotes aturan pembatasan Covid-19.

Bentrokan itu terjadi ketika China melaporkan kasus baru secara nasional, dengan 2.230 kasus pada Selasa (8/11/2022) di pusat manufaktur dan teknologi selatan Guangzhou.

Langkah-langkah nol-Covid telah memicu pertentangan di seluruh negeri, membentuk tantangan yang jarang terlihat bagi otoritas Partai Komunis.

Tidak segera jelas siapa yang ditangkap setelah bentrokan itu.

Berita penangkapan muncul di media sosial Selasa pagi, tetapi dihapus oleh sensor negara sebelum tengah hari.

Tetapi AP News melaporkan, polisi di timur laut China menyebut tujuh orang telah ditangkap.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Guangzhou Naik Tajam, Makin Banyak Kota di China Terapkan Lockdown

Sementara jumlah kasus Covid-19 relatif rendah, China tanpa henti mengejar kebijakan karantina, penguncian, dan pengujian wajib harian atau hampir setiap hari yang ketat.

Sebuah rilis berita dari departemen kepolisian di Kota Shandong Linyi mengatakan keamanan publik akan mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang secara ilegal melanggar hak-hak hukum perlindungan pribadi warga negara.

Pemimpin China Xi Jinping telah menjadikan nol-Covid, sebagai "ciri" pemerintahannya yang bulan lalu mendapat dukungan untuk memperpanjang masa jabatan presiden.

Pendukung Xi Jinping termasuk mantan pemimpin partai Shanghai, di mana penguncian kejam selama musim panas menyebabkan kekurangan pangan, konfrontasi dengan pihak berwenang, dan gangguan parah pada rantai pasokan global yang semakin bergantung pada manufaktur dan pengiriman China.

Ketika sebagian besar dunia telah terbuka, China hanya mengambil langkah-langkah kecil yang sangat berhati-hati, dengan sebagian besar perbatasannya masih ditutup dan para pejabat di bawah tekanan berat untuk menegakkan pembatasan.

China melaporkan perdagangannya menyusut pada Oktober karena permintaan global melemah dan kontrol anti-virus membebani belanja konsumen domestik.

Ekspor turun 0,3 persen dari tahun sebelumnya, turun dari pertumbuhan September 5,7 persen, badan bea cukai melaporkan Senin.

Impor turun 0,7 persen, dibandingkan dengan ekspansi 0,3 persen bulan sebelumnya.

Spekulasi tentang kemungkinan relaksasi pasar nol-Covid mengguncang pasar, tetapi pemerintah telah merahasiakan rencananya, termasuk kemungkinan mengimpor vaksin asing.

Pekan lalu, akses ke zona industri tempat pabrik yang memproduksi iPhone Apple berada ditangguhkan selama satu minggu menyusul lonjakan infeksi di Zhengzhou.

Banyak pekerja yang memanjat pagar dan berjalan di sepanjang jalan raya untuk menghindari ditempatkan di pusat karantina di mana standar makanan, sanitasi, dan privasi telah banyak dikritik.

Apple hari Minggu mengumumkan bahwa pelanggan harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan model iPhone terbaru, dengan mengatakan pabrik Foxconn di kota Zhengzhou, China tengah, beroperasi dengan kapasitas yang berkurang secara signifikan.

(Tribunnews.com/Rica Agustina)

Sumber: TribunSolo.com
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved