Pemilu Malaysia

Perjalanan Karier Politik Anwar Ibrahim, dari Penjara Kini Ditunjuk sebagai Perdana Menteri Malaysia

Setelah menanti selama lebih dari 2 dekade, Anwar Ibrahim akhirnya ditunjuk menjadi perdana menteri Malaysia.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
Arif Kartono / AFP
Foto ini diambil pada 19 November 2022, memperlihatkan pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, ketua Pakatan Harapan, menunjukkan jarinya yang bertinta setelah memberikan suara di tempat pemungutan suara selama pemilihan umum di Permatang Pauh, Penang Malaysia. Setelah menanti selama lebih dari 2 dekade, Anwar Ibrahim akhirnya ditunjuk menjadi perdana menteri Malaysia. 

TRIBUNNEWS.COM - Lebih dari dua dekade setelah dipecat dari partai dan dipenjara, pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim (75) akhirnya menjadi perdana menteri.

Anwar Ibrahim ditunjuk sebagai perdana menteri ke-10 Malaysia oleh Raja Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah pada Kamis (14/11/2022).

Menjadi perdana menteri menutup perjalanan politik Anwar Ibrahim yang bak roller-coaster.

Anwar Ibrahim pernah berada di titik puncaknya saat menjadi wakil perdana menteri.

Namun pemecatan dan pemenjaraannya pada tahun 1990-an menyebabkan protes jalanan besar-besaran, Associated Press melaporkan.

Muncul gerakan reformasi yang kemudian meningkat menjadi kekuatan politik besar.

Baca juga: Anwar Ibrahim Terpilih Jadi PM Malaysia, Megawati dan Keluarga Besar PDI Perjuangan Ucapkan Selamat

Ini adalah kemenangan kedua bagi blok reformisnya, yang memenangkan pemilu tahun 2018 tetapi kehilangan kekuasaan karena perebutan kekuasaan yang menyebabkan kekacauan politik.

Pemilihan Sabtu (19/11/2022) lalu, digelar untuk mengakhiri ketidakstabilan politik.

Malaysia sudah berganti tiga perdana menteri sejak 2018.

Namun pemilu tersebut justru malah menghasilkan ketidakpastian baru, karena tidak ada partai yang memenangkan jumlah mayoritas.

Aliansi Pakatan Harapan (PH) Anwar Ibrahim yang multietnis memimpin dengan 82 kursi, kurang dari 112 yang dibutuhkan untuk mayoritas.

Perikatan Nasional (PN) sayap kanan Muhyiddin Yassin berada di urutan kedua 73 kursi.

Namun salah satu partai yang tergabung dengan PN, Partai Islam Pan-Malaysia, menang besar dengan menjadi partai tunggal yang meraih 49 kursi.

Pada September 2020, Anwar Ibrahim mengumumkan bahwa ia memiliki mayoritas yang 'kuat dan meyakinkan' untuk menggulingkan pemerintahan Perikatan Nasional.
Pada September 2020, Anwar Ibrahim mengumumkan bahwa ia memiliki mayoritas yang 'kuat dan meyakinkan' untuk menggulingkan pemerintahan Perikatan Nasional. (Yusof Mat Isa/Malay Mail)

Baca juga: Sosok Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah, Penentu Siapa PM Malaysia Selanjutnya

Anwar akhirnya menjadi pemenang, setelah blok-blok yang lebih kecil setuju untuk mendukungnya membentuk pemerintahan persatuan.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved