Sabtu, 13 Juni 2026

Pagar perbatasan sasar migran ilegal, gajah dan satwa liar lain jadi korban

Di tengah gelombang nasionalisme garis keras yang meningkat, tembok dan pagar pemisah wilayah didirikan di seluruh dunia. Penghalang…

Tayang:

Di tengah gelombang nasionalisme garis keras yang meningkat, tembok dan pagar pemisah wilayah didirikan di seluruh dunia. Penghalang ini menimbulkan ancaman yang semakin besar bagi satwa liar – menghalangi migrasi dan mengancam jutaan spesies yang harus berpindah-pindah untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Betapa malang nasib sekelompok kecil lynx yang hidup di hutan-hutan kuno Polandia. Pada Juni, rumah mereka di Hutan Białowieża dibelah menjadi dua ketika pemerintah Polandia menyelesaikan pembangunan tembok perbatasannya dengan Belarusia. 

Tujuan tembok ini didirikan adalah untuk mengusir para pengungsi dari Timur Tengah dan tempat lain yang diselundupkan ke perbatasan. 

Tetapi tembok sepanjang 185 km – yang menjulang setinggi 5,5 m dari tanah di hutan hingga ke kanopi pepohonan – juga memenjarakan satwa liar yang hendak bermigrasi.

Kawanan lynx yang bersembunyi di sisi Polandia tidak akan lagi bisa berburu, memberi makan, atau berkembang biak dengan teman-teman mereka yang lebih banyak berada di seberang perbatasan. 

Tembok yang membagi hutan seluas 3.100 km persegi ini diperkirakan akan menyebabkan meningkatnya kelaparan di antara kawanan lynx, dan karena tembok itu juga membatasi pilihan pasangan mereka, kelak akan mengurangi keragaman genetik mereka yang sudah rendah.

Dalam sebuah  surat yang dikirim pada bulan Januari, ketika konstruksi tembok dimulai, lebih dari 500 ilmuwan satwa liar memohon kepada Komisi Eropa di Brussel untuk menggunakan kekuatannya untuk menghentikan proyek pemerintah Polandia. 

Jika konstruksi berjalan, kata mereka, ekologi hutan akan menghadapi "konsekuensi yang menghancurkan", termasuk "runtuhnya populasi lynx dataran rendah Polandia".

Tembok itu sudah selesai dibangun sekarang. 

Rafał Kowalczyk dari Institut Penelitian Mamalia Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia, salah satu penandatangan surat tersebut, mengatakan sekarang ada "risiko pemusnahan yang tinggi" dari lynx Polandia. 

Ini berarti, kepunahan lokal.

Barikade di Białowieża ini adalah satu dari sejumlah tembok dan pagar berbenteng yang kini berkembang pesat.

Pembatas perbatasan wilayah ini kerap kali ditutup dengan kawat berduri dan dilengkapi lampu sorot menyilaukan. 

Pembangunan mereka dipicu oleh meningkatnya ketakutan tentang migran lintas batas, teroris, penyelundup narkoba dan, dalam kasus tembok yang dibangun oleh Ukraina pada 2015-2022, upaya yang gagal untuk mencegah angkatan bersenjata Rusia menyusup ke timur negara itu.

Dari rawa-rawa Afrika hingga pegunungan Asia Tenggara, dan dari perbatasan AS-Meksiko hingga stepa Asia Tengah, kebanyakan tembok penghalang ini muncul di daerah terpencil yang hingga kini menjadi cagar alam. 

Mereka memblokir migrasi musiman hewan-hewan besar, mengurangi keragaman genetik dan spesies, dan mengancam masa depan jutaan spesies yang harus berpindah wilayah tempat tinggal seiring dengan perubahan iklim.

Saat berbagai spesies dan ekosistem mencoba bergerak untuk mengakomodasi kondisi yang lebih hangat dan pola cuaca yang berubah karena perubahan iklim, ancaman terhadap satwa liar justru tumbuh dari tembok-tembok perbatasan. 

Lebih-lebih, kata Mark Titley dari Universitas Durham di Inggris, ketika tembok penghalang membentang jauh dari timur ke barat. Atau mengikuti kontur di lereng gunung yang bisa mencegah pergerakan hewan menanjak ke atas, menuju iklim yang lebih dingin.

Sebuah studi tahun lalu oleh Titley dan rekannya menyimpulkan bahwa pada 2070, perubahan iklim akan membuat sekitar 35% mamalia secara global memiliki lebih dari setengah relung iklim mereka di negara-negara di mana mereka saat ini tidak ditemukan. 

Jadi tanpa kemampuan untuk melintasi perbatasan, mereka menghadapi pemusnahan. 

Titley menyoroti tiga perbatasan negara utama dengan jumlah spesies tertinggi yang terancam: perbatasan antara China dan Rusia, Amerika Serikat dan Meksiko, serta India dan Myanmar. Ketiganya saat ini dibarikade.

Padahal, mulanya tidak dimaksudkan untuk menjadi seperti ini. 

"Ketika era Tirai Besi terjadi pada awal 1990-an, tampaknya dunia tanpa batas telah tiba," kata John Linnell dari Institut Penelitian Alam Norwegia, penulis utama studi global tentang dampak penghalang baru terhadap satwa liar. 

“Sepertinya akan ada kerja sama lintas batas dalam penyebaran konservasi satwa liar,” kata dia.

Namun sejak era itu, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, gelombang pasang nasionalisme xenofobia yang meningkat telah membuat banyak negara mendirikan tembok di sepanjang perbatasan mereka.

Tak cukup itu saja, mereka memperkuat serta memiliterisasi pagar-pagar perbatasan yang sebelumnya tipis – yang kebanyakan melanggar undang-undang lingkungan internasional, seperti Konvensi tentang Migratory Species, yang membutuhkan jalur migrasi untuk dilindungi.

Elisabeth Vallet dari University of Quebec di Kanada menghitung bahwa di seluruh dunia, kini ada 74 tembok perbatasan, enam kali lipat jumlahnya dari pada akhir Perang Dingin. Mereka membentang lebih dari 32.000 km.

Beberapa penghalang dapat membunuh hewan-hewan secara langsung, dengan arus listrik, kawat silet, atau dengan menjerat hewan yang mencoba menyeberang. 

Lainnya memblokir rute migrasi, mencegah akses ke sumber daya vital seperti sumber air dan padang rumput musiman, atau menghalangi hewan dengan jalanan, patroli, atau penerangan yang keras. 

"Epidemi pembangunan pagar terus berlanjut," kata Linnell. "Dan pagar generasi modern lebih kokoh daripada yang lebih tua."

India telah memagari sekitar tiga per empat dari 4.000 km perbatasannya dengan Bangladesh, yang menghentikan pergerakan lintas perbatasan gajah liar Asia.

Gajah-gajah ini memiliki jangkauan alami yang membentang dari timur laut India ke Bangladesh, Bhutan, Myanmar, dan Nepal. 

"Tembok pemisah" Israel setinggi 8 meter, yang membentang sejauh 700 km di sekitar Tepi Barat Palestina juga telah menghalangi pergerakan musiman rusa, rubah, serigala, dan hewan lain antara perbukitan Tepi Barat dan dataran rendah sekitarnya.

"Peningkatan fragmentasi [dari habitat mereka] menghilangkan kesempatan rusa untuk melacak sumber makanan secara bebas yang tersedia secara musiman," menurut sebuah penelitian yang dipimpin oleh Yoram Yom-Tov dari Universitas Tel Aviv. 

Akibatnya, jumlah rusa gunung turun drastis, hanya tersisa 2.000 ekor di alam liar.

Di Eropa, tembok Polandia melalui hutan purba Białowieża mendapat perhatian paling besar dari para pecinta lingkungan. 

Surat para ilmuwan memperingatkan bahwa hutan tersebut adalah "hutan dataran rendah sedang terakhir yang tersisa di Eropa, dengan sedikit gangguan manusia sejak akhir zaman es terakhir". 

Tembok itu melintasi koridor ekologis yang "penting bagi pan-Eropa", kata mereka, dan sampai sekarang merupakan bagian dari "jalur penyebaran utama mamalia besar".

Para peneliti di Institut Penelitian Mamalia, yang berbasis di Desa Białowieża yang terletak di jantung hutan itu, mengatakan hewan yang terancam termasuk populasi unik 800 bison Eropa, mamalia darat terbesar di benua itu, serta beruang coklat yang mencoba bergerak ke barat dari Belarusia ke Polandia. 

Perbatasan yang sebelumnya terbuka di hutan diyakini menjadi rute beruang coklat yang kerap terlihat di satu bagian hutan Polandia dalam tiga tahun terakhir – ini adalah kemunculan pertamanya dalam 80 tahun. 

Tetapi ketika tembok itu sekarang berdiri, ini berarti "kemungkinan rekolonisasi di bagian hutan Polandia rusak," kata Kowalczyk.

Saat proyek tembok dimulai, pemerintah Polandia menjawab kritik ini dengan berjanji memasang 24 gerbang satwa liar. 

Tetapi Kowalczyk mengatakan bahwa hari ini "gerbang ditutup dan akan tetap ditutup. [Gerbang] dipakai untuk penenang, memberi kesan bahwa pemerintah akan menjaga konektivitas ini”. 

Bagaimanapun, kata rekan di institut yang sama, Krzysztof Schmidt, "hewan-hewan tidak akan mengantre di depan tembok, menunggu gerbang dibuka".

Tembok Polandia adalah satu dari sejumlah rangkaian yang dibangun di seluruh Eropa sejak gelombang migran dari Timur Tengah dan Afrika yang melintasi Eropa dimulai pada 2015. 

Yunani dan Bulgaria sama-sama membarikade perbatasan mereka masing-masing dengan Turki. 

Hungaria membangun pagar sepanjang lebih dari 320 km di sepanjang perbatasannya dengan Serbia dan Kroasia. 

Slovenia membarikade Kroasia; Austria melakukan hal yang sama ke Slovenia; dan Makedonia Utara memasang penghalang logam sepanjang 37 km antara negaranya dengan Yunani.

Kecepatan pembangunan tembok-tembok ini semakin meningkat setelah invasi Rusia ke Ukraina. 

Pada Agustus tahun ini, Lituania menyelesaikan pagar sepanjang sekitar 480 km dari perbatasannya dengan sekutu Rusia, Belarusia, melengkapi pagar serupa di perbatasan Rusia

Pada Oktober, partai-partai politik utama Finlandia  menyetujui rencana pembangunan pagar di perbatasan negara itu, sepanjang 1.300 km dengan Rusia untuk menghentikan arus orang buangan yang melarikan diri dari wajib militer Rusia. 

"Hasil dari semua ini adalah, Eropa kini semakin memisahkan diri secara ekologis dari timur," kata Linnell.

Pada saat yang sama, AS berusaha menghambat migran Amerika Latin dengan menutup perbatasan AS-Meksiko sepanjang 3.200 km dengan pagar dan tembok. 

Namun dengan melakukan itu, AS juga menyegel kawanan satwa liar. 

Perbatasan tersebut dianggap membagi dua 120 spesies mamalia yang tidak terbang, banyak di antaranya telah lama melakukan perjalanan antara Sierra Madre Occidental di Meksiko dan Pegunungan Rocky, kata Ron Pulliam dari University of Georgia dan organisasi non-profit Borderland Restoration Network.

Hambatan tersebut berisiko menggagalkan kembalinya jaguar ke barat daya AS, kata Pulliam. 

Kucing besar itu telah punah di utara perbatasan sampai beberapa jaguar baru-baru ini dikolonisasi kembali dari Meksiko. 

Tetapi dia memperingatkan bahwa kehadiran hewan di AS "sekali lagi akan menjadi hantu jika penghalang yang ada saat ini dibiarkan tetap ada". 

Sementara itu, spesies oselot (macan tutul kurcaci), telah turun menjadi kurang dari seratus individu di AS. 

Banyak yang tinggal di Texas dan bergantung pada semak belukar di Lembah Rio Grande Bawah yang membentang melintasi perbatasan.

“Tembok perbatasan tanpa jeda dapat memutus lebih dari 34% spesies hewan darat dan air tawar asli AS yang tidak terbang dari 50% atau lebih jangkauan mereka yang terletak di selatan perbatasan,” menurut sebuah studi internasional yang  dipimpin oleh Robert Peters dan Jennifer Miller dari lembaga non-profit Defenders of Wildlife.

Stepa-stepa besar di Asia Tengah telah lama menjadi tempat migrasi beberapa herbivora terbesar di planet ini. 

Tetapi dengan meningkatnya ancaman keamanan dari Afghanistan dan penyelundupan yang merajalela di tempat lain, pemerintah negara-negara juga memasang ribuan kilometer pagar di sini. 

Mereka memblokir jangkauan dan migrasi antelop saiga, unta liar, kijang, keledai liar, beruang, macan tutul salju, harimau, cheetah, rusa, dan kuda Przewalski.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk membuat pagar ramah terhadap satwa liar. Tetapi kesuksesan itu tidak merata. 

Pagar sepanjang 240 km yang memisahkan Kazakhstan dan Uzbekistan antara Laut Aral dan Kaspia didirikan pada 2011 untuk menggagalkan penyelundupan. 

Tapi itu juga menghalangi lebih dari satu juta antelop saiga, sisa-sisa populasi yang dulunya jauh lebih besar, bermigrasi antara padang rumput musim panas di Kazakhstan dan lahan musim dingin ke selatan di Uzbekistan. 

Hewan-hewan menghadapi kelaparan sebelum intervensi oleh kelompok konservasionis membujuk pejabat Kazakh untuk melepaskan kawat berduri terbawah di 125 titik di sepanjang pagar agar hewan-hewan bisa lewat.

Aksi yang diselesaikan pada 2016 ini dipuji sebagai kemenangan konservasi. Namun hingga saat ini, meski jumlah saiga telah pulih di Kazakhstan setelah meredanya epidemi penyakit bakteri dan patroli yang lebih baik terhadap perburuan liar, hewan tersebut jarang menemukan atau menggunakan celah tersebut, menurut Eleanor Milner-Gulland, dari Universitas Oxford dan Saiga Conservation Alliance. 

Terkadang, pagar perbatasan malah dimaksudkan untuk menghentikan hewan daripada manusia. 

China membangun pagar sepanjang 4.670 km di sepanjang perbatasannya dengan Mongolia, melalui Gurun Gobi, sebagian untuk mencegah serigala Mongolia memangsa ternak di China. 

Tapi itu juga menghalangi migrasi musiman keledai liar. 

Botswana membangun pagar listrik sepanjang 480 km di perbatasannya dengan Zimbabwe untuk mencegah ternak yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku. 

Namun pagar itu berdampak besar pada pergerakan lintas batas beberapa spesies liar paling ikonik di kawasan itu, termasuk jerapah, gajah, dan zebra.

Batas-batas antarnegara ini sesungguhnya tidak harus permanen. 

Pada 2015, Slovenia memasang pagar kawat berduri sepanjang 190 km melalui Pegunungan Dinaric di perbatasannya dengan Kroasia, untuk memblokir rute yang digunakan para pengungsi. 

Tapi pagar itu juga memisahkan populasi gunung serigala Eurasia, beruang coklat, dan lynx. 

Sebelum ada pagar, separuh kawanan serigala di kawasan itu memiliki wilayah jelajah yang melintasi perbatasan. 

Pagar "mungkin saja menjadi dorongan terakhir bagi populasi [serigala] dengan cepat menuju kepunahan", Linnell memperingatkan saat pagar sedang didirikan.

Pada musim panas ini, Slovenia mengumumkan bahwa pagar itu telah gagal mengekang pengungsi dan mengirimkan pasukan untuk merobohkannya

Setidaknya dalam kasus ini, satwa liar yang berakhir menang.

--

Artikel ini awalnya diterbitkan oleh Yale e360, dan diterbitkan ulang dengan izin. Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul How national border walls are splitting ecosystems apart dapat Anda baca di BBC Future.

Sumber: BBC Indonesia
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved