Selasa, 9 Juni 2026

RS Al-Shifa Gaza Krisis Obat-obatan, Bius Korban Perang Pakai Gula dan Cuka

Aksi blokade bantuan kemanusiaan oleh militer Israel belakangan membuat Rumah Sakit Al-Shifa di Jalur Gaza krisis pasokan medis.

Tayang:
Mina News
Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza mengalami krisis pasokan medis akibat aksi blokade bantuan kemanusiaan oleh militer Israel. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, GAZA – Aksi blokade bantuan kemanusiaan yang dilakukan militer Israel belakangan membuat sejumlah rumah sakit di Jalur Gaza dilanda krisis pasokan medis.

Hal itu membuat para dokter yang bertahan merawat pasien di Gaza harus berjuang keras menangani pengobatan pasien korban perang di tengah kondisi yang tidak memadai.

Salah satu dokter di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza Ahmed Mokhallalati mengatakan, fasilitas medis di rumah sakit terbesar di Jalur Gaza tersebut saat ini sangat memprihatinkan.

Akibat krisis pasokan obat bius, Ahmed bahkan harus merawat pasien tanpa obat bius, sebagai gantinya ia membalut luka dengan memanfaatkan gula dan cuka.

Situasi yang mendesak juga memaksa para staf untuk menggunakan jarum jahit untuk menjahit luka. Ada pula staf yang membungkus luka bakar besar dengan pakaian alih-alih perban.

“Krisis obat bius di tengah membludakan pasien membuat kami harus mengganti balutan pada anak-anak tanpa diberi anestesi atau obat bius. Sekarang bagi kami, perban standar adalah menggunakan gula, begitu juga dengan cuka untuk para pasien," ujar Ahmed, dikutip dari laman kantor berita PBB, ReliefWeb.

Selain memblokade bantuan kemanusian, militer Israel juga turut menghentikan akses air dan aliran listrik yang masuk ke wilayah Gaza.

Kondisi ini yang kemudian membuat sejumlah rumah sakit termasuk RS Al-Shifa tidak dapat beroperasi secara maksimal. Ini karena sejumlah alat kehilangan fungsi karena terputus dari jaringan listrik.

Baca juga: Instruksi MUI: Gencarkan Khutbah Tentang Palestina untuk Bangkitkan Empati dan Solidaritas

Dengan stok dan bantuan yang terbatas, para dokter dan perawat rumah sakit di seluruh Gaza mulai putar otak memanfaatkan peralatan yang ada untuk menyelamatkan korban yang masih hidup.

Dokter-dokter di RS bahkan menggunakan senter di HP mereka untuk menambah cahaya saat menangani pasien.

"Mereka [pasukan Israel] membunuh orang secara langsung, tetapi sebagian lagi meninggal karena tak mendapat penanganan yang layak," ujar Ahmed.

Baca juga: Breaking News, MUI Terbitkan Fatwa Dukung Agresi Israel ke Palestina Hukumnya Haram

PBB Serukan Gencatan Senjata Kemanusiaan

Mencegah bertambahnya korban jiwa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan gencatan senjata segera pada Israel dan Hamas.

Rencananya Majelis Umum PBB akan menggelar pertemuan darurat dengan sejumlah negara di Eropa untuk membahas konflik yang dipicu oleh serangan militan Hamas terhadap Israel.

Baca juga: Cara Israel Mendanai Perang di Gaza: Ekspor Senjata, Jual Kurma dan Sumbangan AS

Pertemuan Majelis digagas sebagai respons atas gagalnya resolusi Dewan Keamanan PBB terkait konflik di Gaza yang saat ini telah menewaskan 5 ribuan orang.

"Langkah pertama yang harus dilakukan adalah gencatan senjata kemanusiaan segera, menyelamatkan nyawa warga sipil melalui pengiriman bantuan kemanusiaan yang cepat dan efektif," cetus kepala hak asasi manusia (HAM) PBB Volker Turk.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved