Sabtu, 25 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Mesir Bantah Tuduhan Netanyahu setelah Dituding Membuat Gaza Jadi 'Penjara Terbuka'

Mesir menolak pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menuduh Mesir membuat Jalur Gaza sebagai penjara terbuka.

YouTube Egyptian Presidency
PRESIDEN MESIR - Tangkapan layar YouTube Presiden Mesir (Egyptian Presidency) pada Senin (10/2/2025), memperlihatkan Presiden Mesir Abdelfattah El-sisi, berbicara dalam konferensi pers setelah menerima kunjungan Presiden Kenya, William Ruto, dalam agenda penandatanganan perjanjian bilateral antara kedua negara pada 30 Januari 2025. 

TRIBUNNEWS.COM - Mesir mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengatakan Mesir berupaya menjadikan Jalur Gaza sebagai "penjara terbuka" bagi penduduk Palestina.

Menurut Kementerian Luar Negeri Mesir, tuduhan Netanyahu hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian dunia dari kejahatan Israel.

"Pernyataan yang menyesatkan itu untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran mencolok yang dilakukan oleh Israel terhadap warga sipil dan penghancuran fasilitas vital Palestina, termasuk rumah sakit, lembaga pendidikan, pembangkit listrik, dan air minum, selain penggunaan pengepungan dan kelaparan sebagai senjata terhadap warga sipil," kata Kementerian Luar Negeri Mesir dalam pernyataannya, Senin (10/2/2025).

Mesir menegaskan pihaknya berupaya untuk mendesak Israel agar mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah di sisi Palestina yang sebelumnya diduduki Israel.

Mesir juga menolak pernyataan sekutu Netanyahu, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menargetkan pengusiran penduduk Palestina di Jalur Gaza ke Mesir, Yordania, atau Arab Saudi.

Dalam pernyataan itu, Mesir menyatakan solidaritasnya untuk putra-putra Gaza yang pemberani dalam mempertahankan tanah mereka, meski mengalami kengerian dalam mempertahanakn tujuan mereka yang adil dan sah.

"Mesir juga menegaskan kepatuhannya pada prinsip-prinsip Mesir dan Arab yang kuat berdasarkan hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara mereka di perbatasan 4 Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," kata kementerian tersebut, seperti diberitakan Al Arabiya.

Netanyahu: Mesir Cegah Warga Palestina Pergi dari Gaza

Dalam wawancara dengan Fox News yang dirilis Minggu (9/2/2025), Netanyahu mengklaim Mesir sebagai pihak yang mencegah warga Palestina meninggalkan Jalur Gaza.

"Mesir adalah pihak yang mencegah warga Palestina meninggalkan Gaza," kata Netanyahu.

"Mereka mengubah Jalur Gaza menjadi penjara terbuka," lanjutnya.

Baca juga: Donald Trump akan Beli Gaza: Ini Lokasi Real Estate Populer, Disebut Bisa Dibagi ke Negara Arab

Netanyahu mengatakan kepada pembawa acara Fox News, Mark Levin, Mesir seharusnya memberikan kesempatan bagi warga Palestina yang ingin pergi untuk meninggalkan Jalur Gaza.

"Sudah saatnya bagi Mesir untuk memberikan kesempatan kepada warga Palestina untuk meninggalkan Gaza," katanya, lalu menekankan perlunya mencari tempat alternatif bagi warga Gaza yang ingin pergi.

Netanyahu kemudian membela usulan sekutunya, Donald Trump, untuk memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza.

"Dulu ada yang menuduh kami mengubah Jalur Gaza menjadi penjara besar, tetapi sekarang mereka menolak gagasan Trump untuk mengeluarkan mereka dari penjara ini," katanya.

Perdana Menteri Israel memuji "ide cemerlang" Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Gaza dan memindahkan warga Palestina ke negara-negara tetangga.

Dia menjelaskan, Israel akan mengizinkan warga Palestina yang meninggalkan jalan perlawanan untuk kembali ke Gaza setelah pembangunan selesai dilakukan oleh AS, seperti yang direncanakan oleh Donald Trump.

"Israel tidak memiliki teman yang lebih baik daripada Amerika Serikat, dan sekarang, di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Washington tidak memiliki teman yang lebih baik daripada Israel," katanya.

Netanyahu juga memuji kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dan dampaknya terhadap aliansi AS-Israel.

"Saya yakin bahwa Presiden Trump adalah sahabat terbaik yang pernah dimiliki Israel di Gedung Putih. Ia tidak hanya membuat perubahan besar dalam aliansi Israel-Amerika, ia memperkuatnya melampaui apa pun yang telah kita lihat sejauh ini, tetapi ia juga merupakan pemimpin yang hebat bagi Amerika dan dunia," ucapnya.

Sementara itu, berbagai negara telah mengecam pernyataan Donald Trump yang mengatakan AS akan mengambil alih Jalur Gaza, mengusir warga Palestina dari wilayah tersebut dan membangun Jalur Gaza sesuai standar AS.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved