Minggu, 17 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Citra Satelit: Kapal Induk AS, USS Carl Vinson Mendekati Iran

Negosiasi nuklir Iran belum terlaksana, AS sudah mengirimkan kapal induk ke dekat Iran, apa yang akan terjadi?

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
Akun X resmi kapal induk Angkatan Laut AS USS Carl Vinson (CVN 70)/@CVN70
KETEGANGAN AS-IRAN - USS Carl Vinson saat berlayar bersama kapal Angkatan Laut Kerajaan Australia HMAS Warramunga selama operasi bilateral di Samudra Hindia, Desember 2021. Negosiasi nuklir Iran belum terlaksana, AS sudah mengirimkan kapal induk ke dekat Iran 

TRIBUNNEWS.COM – Citra satelit tanggal 5 April 2025 dari Copernicus Browser/European Space Agency menunjukkan bahwa kapal induk Amerika Serikat, USS Carl Vinson, telah memasuki Samudra Hindia melalui Selat Malaka.

USS Carl Vinson, yang sebelumnya ditempatkan di Pasifik Barat, kini dipindahkan ke Samudra Hindia untuk bergabung dengan USS Harry S. Truman di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Newsweek, pengerahan kapal induk ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran dan kelompok Houthi di Yaman.

Dengan kehadiran dua kapal induk, AS kini memiliki kekuatan serangan yang signifikan di wilayah tersebut.

Gabungan pesawat pengebom siluman dari USS Carl Vinson, USS Harry S. Truman, dan pesawat B-2 yang ditempatkan di Diego Garcia secara drastis meningkatkan kemampuan AS untuk melakukan serangan udara dan peluncuran rudal, memperbesar kemungkinan aksi militer berskala luas.

Citra satelit dan data pelacakan maritim menunjukkan bahwa USS Carl Vinson beserta kelompok tempurnya—yang terdiri dari USS Princeton dan USS Sterett—telah melintasi Selat Malaka menuju Samudra Hindia.

Penempatan kembali Carl Vinson ini dilakukan ketika Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan negosiasi nuklir tidak langsung dengan Iran, sekaligus mempersiapkan opsi serangan militer.

Sementara itu, militer AS terus melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi.

Kelompok yang didukung Iran ini mulai menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah sejak akhir 2023.

Houthi mengklaim aksi mereka sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina setelah meletusnya perang Israel-Hamas di Jalur Gaza.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru-baru ini memperingatkan bahwa Iran akan memberikan serangan balasan yang kuat terhadap setiap tindakan agresi dari AS.

Baca juga: Iran Siaga Tinggi, Ancam Negara Tetangganya agar Tak Bantu Serangan AS, Trump Kirim B-2

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan:

“Menteri Hegseth terus menegaskan bahwa jika Iran atau proksinya mengancam personel dan kepentingan Amerika di kawasan, Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas untuk membela rakyat kami.”

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menulis dalam sebuah unggahan di X:

“Keterlibatan diplomatik telah berhasil di masa lalu dan masih bisa berhasil. NAMUN, harus jelas bagi semua pihak bahwa—secara definisi—tidak ada yang namanya ‘opsi militer’, apalagi ‘solusi militer’.”

Negosiasi Nuklir Belum Dimulai

Mengutip Iran International, Iran saat ini menunggu keputusan dari Amerika Serikat mengenai kemungkinan keterlibatan dalam negosiasi tidak langsung, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei pada Senin (7/4/2025).

“Kami telah menyampaikan posisi kami kepada AS dan sekarang menunggu tanggapan mereka terkait partisipasi dalam perundingan,” ujar Baghaei.

Meskipun Presiden Trump mendorong pendekatan diplomatik langsung, Baghaei menekankan bahwa negosiasi tidak langsung tetap menjadi preferensi Iran saat ini, meski kemungkinan penyesuaian masih terbuka ke depannya.

“Keputusan akan diambil sesuai kondisi dan pada waktu yang tepat,” tambahnya.

Ia juga mengonfirmasi bahwa diskusi teknis telah dilakukan, mencakup kerja sama nuklir dan pelonggaran sanksi.

“Sudah ada pertukaran dan konsultasi mengenai berbagai aspek isu ini, termasuk beberapa rincian teknis,” jelas Baghaei.

Menanggapi spekulasi, ia mengatakan Iran akan menunjuk Oman sebagai mediator utama.

“Jika proses baru dimulai, Oman akan menjadi salah satu kandidat utama untuk peran penting ini,” ujarnya.

Oman sebelumnya menjadi mediator penting dalam upaya memulihkan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi pada tahun 2023.

Baghaei juga mengonfirmasi bahwa Iran telah memberikan izin untuk kunjungan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, yang menunjukkan kesiapan Iran untuk bekerja sama dalam pengawasan program nuklirnya.

Baca juga: Sambil Bawa Surat, Menhan Israel Klaim Punya Bukti Iran Danai Operasi Hamas hingga 500 Juta Dolar

Grossi sebelumnya menyatakan bahwa ia berharap dapat mengunjungi Teheran pada akhir April.

Iran terus menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.

Di tengah ancaman dari AS untuk memaksa Teheran menyepakati kesepakatan nuklir baru, atau menghadapi risiko serangan militer, Baghaei menegaskan bahwa militer Iran tetap siaga.

“Angkatan bersenjata kami terus meningkatkan kesiapan mereka untuk menghadapi setiap skenario potensial,” ujarnya.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam Iran akan memberikan "pukulan keras" sebagai balasan atas setiap serangan.

Iran juga mengancam akan menargetkan kepentingan Amerika di kawasan, termasuk pangkalan strategis AS di Diego Garcia, Samudra Hindia, jika serangan terjadi.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved