AS Pertimbangkan Putaran Kedua Pembicaraan dengan Iran
Pemerintahan Trump mempertimbangkan putaran kedua pembicaraan dengan Iran di Pakistan, menurut Gedung Putih. Sementara itu, IMF memperingatkan…
Amerika Serikat (AS) tengah membahas putaran kedua pembicaraan damai dengan Iran di Pakistan, kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan (15/04).
"Pembicaraan terus berjalan, dan kami optimistis kesepakatan bisa tercapai,” ujar Leavitt. Ia menambahkan, pembicaraan lanjutan sangat mungkin kembali digelar di Islamabad.
Sebelumnya, Pakistan telah menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan antara delegasi AS dan Iran akhir pekan lalu, kontak diplomatik langsung tingkat tinggi pertama antara kedua pihak dalam puluhan tahun.
Pakistan bersiap untuk putaran kedua pembicaraan damai AS-Iran
Para pemimpin politik dan militer Pakistan bekerja keras untuk mendorong kelanjutan pembicaraan damai AS-Iran, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertolak ke Arab Saudi untuk membahas situasi Timur Tengah dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Setelah itu, ia dijadwalkan mengunjungi Qatar dan Turki bersama sejumlah delegasi tingkat tinggi Pakistan, termasuk Menteri Luar Negeri Ishaq Dar dan Menteri Informasi Attaullah Tarar.
Di saat yang bersamaan, Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, mengunjungi Teheran untuk meredam konflik. Ia disebut sebagai mediator kunci antara AS dan Iran.
Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan Munir akan membawa pesan dari Washington yang kemungkinan akan berkaitan dengan perpanjangan gencatan senjata dan rencana putaran kedua perundingan AS-Iran.
Sebelumnya, pembicaraan di Islamabad akhir pekan lalu hanya berlangsung satu hari. Negara-negara di kawasan kini berupaya mendorong AS-Iran kembali ke meja perundingan secepatnya, mengingat konflik ini dinilai membebani perekonomian global.
Iran: Kami akan tenggelamkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz
Mohsen Rezaei, penasihat militer utama Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, melontarkan ancaman kepada AS dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran (15/04).
Rezaei, seorang mantan panglima Pasukan Garda Revolusi Iran tahun 1981 hingga 1997 itu menolak wacana gencatan senjata dan mengkritik dan mempertanyakan peran AS di Selat Hormuz. Ia bahkan mengancam kapal AS bisa diserang rudal Iran.
Ia juga mempertanyakan sikap AS dengan mengatakan, "Tuan Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz, apakah ini benar-benar tugasnya?"
Pernyataan ini muncul setelah Donald Trump merespons penutupan Selat Hormuz oleh Iran dengan langkah blokade. Situasi ini meningkatkan risiko konfrontasi langsung, terutama karena kapal perang AS berpotensi menjadi target di jalur laut sempit tersebut.
Dikenal sebagai tokoh garis keras, Rezaei juga mengatakan ia akan menyambut invasi darat AS, dengan klaim "kami akan menahan ribuan sandera dan untuk setiap sandera kami akan mendapat satu miliar dolar.”
Peringatan bos IMF jika konflik terus berlanjut
Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan dampak negatif harga minyak yang tinggi terhadap ekonomi global di tengah konflik AS-Israel dan Iran.
"Kita harus bersiap menghadapi masa-masa sulit di depan (jika konflik berlanjut)”, ujarnya dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington.
Georgieva menambahkan, lonjakan harga energi bisa mendorong inflasi yang lebih luas, termasuk ke harga pangan, terutama jika pasokan pupuk tidak segera kembali stabil seiringnya berlanjutnya konflik.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz
Editor: Ayu Purwaningsih
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76747335_403.jpg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.