Sabtu, 9 Mei 2026
Deutsche Welle

Benih Tanaman Bisa “Mendengar” Suara Hujan

Bagi banyak orang, suara tetesan hujan bisa menjadi suara latar yang menenangkan dan membantu mereka tertidur. Namun bagi sebagian…

Tayang:
Deutsche Welle
Benih Tanaman Bisa “Mendengar” Suara Hujan 

Bagi tumbuhan, suara hujan seperti menjadi sinyal untuk "bangun”. Walaupun suara rintik hujan terasa menenangkan bagi kita, bagi benih yang siap berkecambah, suara itu bisa berfungsi sebagai tanda bahwa waktunya untuk mulai tumbuh telah tiba.

Tumbuhan memang dikenal merespons berbagai isyarat lingkungan. Ada yang bereaksi terhadap sentuhan, ada yang terhadap zat kimia, dan sebagian besar terhadap cahaya. Kemampuan merespons gravitasi juga sudah lama diketahui.

Kini, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, menemukan bahwa beberapa benih dapat merespons langsung suara hujan dengan berkecambah lebih cepat.

Bahkan, seolah-olah benih menggunakan tanda lingkungan berupa hujan—yang mereka "rasakan” melalui getaran yang dihasilkan—untuk menentukan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk tumbuh.

Cara benih merespons hujan dan berkecambah

Para peneliti MIT melakukan percobaan menggunakan benih padi. Mereka menemukan bahwa getaran akustik dari tetesan hujan mengguncang benih yang masih dorman (tidur), sehingga memicu mereka untuk berkecambah lebih cepat dibandingkan kondisi normal.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports. Ini menjadi bukti langsung pertama bahwa benih tumbuhan dapat "merasakan” suara dan bereaksi terhadapnya.

Dalam eksperimen tersebut, ribuan benih padi diberi tetesan air terkontrol yang meniru hujan dengan intensitas berbeda, dari ringan hingga deras. Benih ditempatkan dalam air dangkal, kondisi yang umum dalam budidaya padi.

Hasilnya cukup mencolok: Benih yang terpapar getaran tetesan air berkecambah 30–40% lebih cepat dibandingkan benih yang tidak terkena suara (dalam kondisi hening).

Semua ini berkaitan dengan fisika

Saat tetesan hujan jatuh ke air atau tanah, tekanan yang ditimbulkan menciptakan getaran atau "gelombang tekanan” yang merambat melalui medium tersebut dan dapat dipersepsikan sebagai suara. Di dalam air, getaran ini bisa menjadi sangat kuat.

Nicholas Makris dari MIT, salah satu peneliti, membandingkan gelombang tekanan yang diterima benih—hanya beberapa sentimeter dari titik jatuhnya hujan—dengan suara yang didengar manusia beberapa meter dari mesin jet di udara.

Benih tidak benar-benar "mendengar” hujan

Istilah "mendengar” memang memberi kesan seolah-olah ada bagian tanaman yang secara sadar "mendengarkan” dan memproses suara seperti makhluk berpikir. Dan ada sedikit benarnya.

František Baluška, profesor fisiologi dan biologi sel tumbuhan dari Universitas Bonn, Jerman mengatakan bahwa penelitian lain menunjukkan benih mungkin memiliki semacam "pusat pengambilan keputusan”, yang kadang disebut sebagai "otak mini tumbuhan”.

"Tanaman adalah organisme hidup yang nyata,” katanya. "Tanaman mulai dipahami sebagai organisme yang memiliki bentuk kecerdasan.”

Namun, tanaman tentu tidak "berpikir” seperti manusia. Tetapi kemungkinan, benih dapat menentukan kapan harus berkecambah berdasarkan semacam "evaluasi biologis”.

Peran sel pendeteksi gravitasi

Makris dan Navarro berpendapat bahwa getaran ini memengaruhi struktur kecil di dalam sel yang disebut statolit, yaitu organel padat seperti butiran pasir yang membantu tumbuhan merasakan gravitasi.

Statolit biasanya mengendap di bagian bawah sel, sehingga membantu benih menentukan arah atas dan bawah—akar tumbuh ke bawah, batang ke atas.

Namun penelitian ini menunjukkan bahwa energi dari getaran hujan dapat mengganggu fungsi normal statolit.

"Ketika benih diguncang oleh gelombang akustik, sel pendeteksi gravitasi ikut terguncang, dan statolit di dalamnya bergeser seperti garam dalam pengocok,” kata Makris. "Gangguan ini bisa memicu respons pertumbuhan.”

Mendengar hujan memberi keuntungan bagi benih

Benih yang merespons getaran ini biasanya berada dekat permukaan tanah—cukup lembap, tetapi tidak terlalu dalam sehingga tunas masih bisa mencapai cahaya matahari.

Artinya, suara hujan membantu benih menilai apakah mereka berada di posisi yang tepat untuk tumbuh.

"Pendengaran manusia berevolusi agar menguntungkan manusia,” kata Makris. "Hal yang sama tampaknya juga berlaku pada benih tumbuhan—ini menguntungkan bagi kelangsungan hidup mereka.”

Makris juga menyatakan kemungkinan bahwa benih dari berbagai jenis tumbuhan lain juga merespons suara hujan dengan cara yang serupa.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid

Sumber: Deutsche Welle
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved