Pertemuan G7: Harapan Damai dan Sanksi Baru untuk Rusia
Pemimpin G7, termasuk Kanselir Jerman Friedrich Merz, kian optimistis soal perdamaian Ukraina. Meski begitu, sanksi baru untuk Rusia…
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu pagi (17/06), para pemimpin Kelompok Tujuh atauG7bersumpah akan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi Rusia.
"Untuk mendukung dan mempercepat momentum baru ini, kami sepakat meningkatkan pengiriman kemampuan pertahanan udara, sistem tambahan dan pencegat, serta kemampuan jarak jauh,” bunyi pernyataan tersebut.
Para pemimpin negara itu juga berkomitmen memperbesar "tekanan terhadap ekonomi perang Rusia.” Dalam konteks ini, mereka akan memperketat sanksi terhadap Rusia, termasuk di sektor minyak dan gas.
"Kami menilai ini momen yang tepat untuk mengambil langkah tambahan, setelah Presiden AS Donald Trump mencapai kesepakatan yang kami dukung untuk membuka kembali Selat Hormuz,” lanjut pernyataan itu.
Nada optimistis ini sudah terlihat sejak Selasa (16/06), saat para pemimpin G7 memulai agenda resmi pertama mereka dengan menempatkan isu Ukraina sebagai prioritas utama.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, tuan rumah pertemuan tahun ini, menegaskan pentingnya isu tersebut dalam pertemuan G7 tahun ini dengan mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai tamu khusus.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump lebih fokus pada konflik Iran. Bahkan sebelumnya, dukungan terhadap Ukraina banyak diserahkan kepada Eropa, dengan Uni Eropa dinilai mampu mengambil peran tersebut.
Kini, Uni Eropa menjadi penyumbang bantuan finansial terbesar bagi Ukraina.
"Kabar baik” dari Trump untuk Uni Eropa
Pada hari Selasa (16/06), Trump menyatakan bahwa sanksi terhadap Rusia yang sempat dilonggarkan selama konflik Iran, untuk menekan harga minyak, dapat kembali diberlakukan. Hal ini seiring kembali normalnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Ia juga menegaskan bahwa "Rusia harus membuat kesepakatan” untuk mengakhiri perang di Ukraina, dan menyatakan akan melakukan "apa pun yang dia bisa” untuk hal itu.
Pernyataan ini disambut positif para pemimpin Eropa yang sejak awal telah mempersiapkan strategi dukungan untuk Ukraina.
Namun, dua pertanyaan utama masih belum terjawab, sebagaimana dilaporkan oleh Kepala Biro DW di Brussel, Katharina Kroll.
Pertama, seberapa besar Trump akan mendukung upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia agar negara itu mau masuk ke perundingan damai yang serius? Kedua, seberapa jauh Trump akan mengakui bahwa tidak akan ada kesepakatan damai tanpa keterlibatan negara-negara Eropa?
Trump: Perang Ukraina "tidak berdampak pada AS”
Meski demikian, Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa perang Rusia di Ukraina "tidak ada kaitannya dengan kami.”
"Tidak berdampak pada kami, selain kami menjual senjata ke Ukraina," kata Trump. "Kami berada ribuan kilometer jauhnya.”
Ia juga menambahkan bahwa konflik Iran segera akan "berlalu,” meski saat ini masih menjadi fokus utama.
Optimisme dari para pemimpin Eropa
Di sisi lain, para pemimpin Eropa tetap menunjukkan optimisme, melihat adanya momentum baru dalam konflik Ukraina.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut "arus mulai berbalik untuk Ukraina.”
"Situasi pada 2026 sangat berbanding terbalik dengan 2025. Ukraina bertahan dengan berani di garis depan, sementara Rusia mulai terlihat kelelahan,” ujarnya.
Menurut Kepala Biro DW di Brussel, ia juga mendapat pernyataan dari seorang sumber di pemerintah Jerman yang menyebut bahwa G7 menilai Rusia berada di bawah tekanan besar, sementara posisi Ukraina semakin membaik.
Salah satu faktor penting adalah kemampuan perang drone Ukraina, termasuk serangan jarak jauh seperti yang menargetkan fasilitas militer di St. Petersburg awal bulan ini, yang dinilai membantu membalikkan situasi di medan perang.
Kanserlir Jerman Friedrich Merz mengatakan bahwa Trump dalam suasana kooperatif, dan menyatakan optimisme bahwa Eropa dan Amerika Serikat akan melakukan segala upaya untuk mengakhiri perang.
Ia juga menegaskan bahwa Trump tidak keberatan dengan keterlibatan negara-negara Eropa dalam perundingan damai ke depan.
Sementara itu, Rusia terus melancarkan serangan, dengan ratusan drone dan puluhan rudal menghantam kota-kota besar Ukraina. Serangan terbaru pada Senin (15/06) bahkan merusak salah satu situs penting keagamaan dan budaya negara itu.
Materi dari kantor berita Associated Press turut berkontribusi pada laporan ini.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz
Editor: Tezar Aditya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77583542_403.jpg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.