Jumat, 5 Juni 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Israel Bayar Influencer AS Rp112 Juta per Postingan, Sasar Pengguna IG dan TikTok

Israel dilaporkan mengeluarkan hingga 900.000 dolar untuk membayar para influencer AS untuk menyebarkan propaganda pro-Israel.

Tayang:
Facebook GPO
PIDATO BENJAMIN NETANYAHU - Foto yang diambil dari Facebook GPO, Kamis (2/10/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Israel setelah kembali dari kunjungannya ke Amerika Serikat pada Rabu (1/10/2025). 

TRIBUNNEWS.COM - Pengajuan Departemen Kehakiman AS terkait dengan Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing (FARA) mengungkapkan pemerintah Israel membayar para influencer Amerika secara langsung.

Transaksi itu dilakukan tanpa mendaftarkan para influencer sebagai agen asing dan dilakukan sebagai bagian dari kampanye berbayar untuk mempromosikan kepentingan Tel Aviv di Amerika Serikat.

Dokumen menunjukkan kampanye yang dijuluki "Proyek Esther" tersebut memiliki anggaran sekitar 900.000 dolar antara Juni dan Desember 2025, dengan para influencer dibayar untuk menerbitkan 25-30 postingan per bulan, yang semuanya diarahkan oleh Israel.

Program ini melibatkan para influencer yang bekerja untuk firma hubungan masyarakat Israel, Bridge Partners LLC, yang melanggar Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing AS.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan dana tersebut ditransfer dari Kementerian Luar Negeri Israel ke Havas, cabang Bridge Partners di Jerman, dan kemudian ke perusahaan yang sama di Amerika Serikat.

Anggaran tersebut mencakup biaya pendirian dan pelatihan tambahan, di antaranya pembayaran di muka sebesar $60.000 untuk menutupi biaya rekrutmen influencer dan pengembangan konsep, pembayaran tambahan sebesar $140.000 untuk tahap pengembangan ketika lima atau enam influencer mulai memposting, dan alokasi bulanan hingga $250.000 yang dialokasikan untuk biaya influencer, produksi, dan biaya agensi. 

Anggaran terakhir sebesar $50.000 dialokasikan untuk biaya penutupan dan pelaporan pasca-kampanye.

Influencer-influencer ini diharapkan membuat konten pro-Israel dengan arahan langsung dari Israel, dengan bayaran hingga $7000 (sekitar Rp112 juta) untuk satu postingan di media sosial di Instagram, TikTok dan platform lainnya.

Lebih dari setengah anggaran itu dialokasikan untuk pembayaran awal untuk produksi dan influencer, pengembangan konsep dengan setiap influencer, mencocokkan dengan mitra konten Israel, serta menulis posting awal, menurut laporan Sama'a TV.

Dua warga Israel, Uri Steinberg dan Yair Levy, tercatat sebagai pemilik perusahaan tersebut. 

Profil informasi di akun LinkedIn Uri Steinberg, ia bekerja untuk Kementerian Pariwisata Israel selama 11 tahun sebelum mendirikan perusahaannya sendiri pada tahun 2018, meskipun beberapa perusahaan pariwisata Israel terkadang digunakan sebagai kedok untuk operasi keamanan.

Baca juga: Israel: Siapa pun yang Masih Tinggal di Kota Gaza Dianggap Kombatan Hamas

Bridge Partners memiliki alamat lokal di tenggara Washington, tanpa catatan selain pendaftaran FARA-nya.

Patut dicatat bahwa pertemuan terkini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan para pemuka agama Amerika merupakan bagian dari program ini, yang diselenggarakan oleh Gene Zion dan afiliasinya, The Philos Project, dengan banyak di antara mereka yang hadir tergabung dalam satu atau kedua organisasi Kristen.

Gene Zion adalah organisasi yang mendorong kolaborasi antara orang Kristen dan Yahudi dalam mendukung Israel, serta menangkal narasi anti-Israel dan antisemitisme.

Hukum AS mewajibkan setiap influencer yang bekerja di bawah pengawasan pemerintah asing dan menerima dana darinya untuk mendaftar sebagai agen asing

Namun, kampanye Israel ini telah mengabaikan kewajiban hukum ini, sementara sejumlah perusahaan dan individu Amerika baru-baru ini mendaftar sebagai agen asing untuk menyelenggarakan kegiatan serupa atas nama Tel Aviv.

Netanyahu Dorong Propaganda Israel di Media Sosial

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan Israel dan pendukungnya harus melawan melalui media sosial, dalam sebuah pertemuan dengan influencer Yahudi berbasis di New York pada akhir September 2025.

"Kita harus berjuang dengan senjata yang berlaku di medan perang tempat kita terlibat, dan yang paling penting ada di media sosial," kata Netanyahu.

"Kita harus melawan. Bagaimana kita melawan? Para influencer kita," lanjutnya.

Kampanye ini adalah bagian dari strategi Israel untuk menyebarkan pengaruh dan mencari dukungan yang lebih besar di tengah meroketnya dukungan pro-Palestina.

Pada akhir tahun 2024, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar berhasil menaikkan anggaran propaganda luar negeri hingga 20 kali lipat, mencapai USD $150 juta.

Selain itu, Israel juga membayar sekitar $1,5 juta per bulan kepada Brad Parscale, mantan ahli strategi digital Presiden Donald Trump.

Parscale bertugas membuat "komunikasi strategis" dengan bantuan perangkat AI untuk menghasilkan ribuan varian pesan pro-Israel. 

Brad Parscale kini resmi terdaftar sebagai agen asing yang bekerja untuk Israel.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved