Amerika Versus Venezuela
Donald Trump Mulai Langkah Awal Sedot Minyak Venezuela, Kumpulkan 17 Eksekutif Migas
Donald Trump mengumpulkan 17 eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih untuk mendorong investasi kembali ke Venezuela setelah penggulingan Maduro.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump mengumpulkan 17 eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih untuk mendorong investasi kembali ke Venezuela setelah penggulingan Nicolás Maduro.
- AS berencana mengendalikan penjualan hingga puluhan juta barel, dengan janji perlindungan bagi perusahaan yang berinvestasi.
- Meski Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, banyak perusahaan migas masih menahan diri karena risiko hukum dan politik
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumpulkan para eksekutif perusahaan minyak dan gas untuk mendorong mereka segera kembali ke Venezuela, guna menghidupkan kembali kemampuan negara tersebut dalam memanfaatkan cadangan minyak buminya yang melimpah.
Dilansir abc7chicago.com, sejak serangan militer AS untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026), Trump dengan cepat mengubah narasi dengan mengatakan langkah tersebut sebagai peluang ekonomi baru bagi Amerika Serikat.
AS telah menyita kapal tanker yang membawa minyak Venezuela dan menyatakan bahwa AS mengambil alih penjualan sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak Venezuela yang sebelumnya dikenai sanksi.
Pemerintah AS juga menyebut, akan mengendalikan penjualan minyak tersebut ke seluruh dunia tanpa batas waktu.
Saat membuka pertemuan dengan para eksekutif industri minyak di Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026), Trump berusaha meyakinkan mereka agar tidak ragu berinvestasi atau kembali beroperasi di negara Amerika Selatan itu.
Venezuela diketahui memiliki sejarah penyitaan aset, sanksi AS yang berkepanjangan, serta ketidakpastian politik.
“Anda memiliki keamanan total,” kata Trump kepada para eksekutif.
“Anda berurusan langsung dengan kami dan sama sekali tidak berurusan dengan Venezuela.”
“Kami tidak ingin Anda berurusan dengan Venezuela.”
“Perusahaan-perusahaan minyak raksasa kami akan menghabiskan setidaknya 100 miliar dolar dari uang mereka sendiri, bukan uang pemerintah.”
“Mereka tidak membutuhkan uang pemerintah. Tetapi mereka membutuhkan perlindungan pemerintah.”
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Pasar Ketar-Ketir Pantau Dinamika AS–Venezuela
Gedung Putih mengatakan, pihaknya mengundang para eksekutif dari 17 perusahaan minyak, termasuk Chevron yang masih beroperasi di Venezuela, serta ExxonMobil dan ConocoPhillips.
Kedua perusahaan terakhir tersebut sebelumnya memiliki proyek minyak di Venezuela yang hilang akibat nasionalisasi bisnis swasta pada 2007 di bawah pemerintahan pendahulu Maduro, Hugo Chavez.
“Jika kita melihat konstruksi dan kerangka kerja komersial yang ada di Venezuela saat ini, negara itu tidak layak untuk investasi,” kata CEO ExxonMobil, Darren Woods.
“Oleh karena itu, perubahan signifikan harus dilakukan pada kerangka kerja komersial tersebut dan sistem hukum."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-AS-Donald-Trump-saat-10jan.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.