Jumat, 16 Januari 2026

Amerika Versus Venezuela

Pakar Bicara Situasi Venezuela usai AS Tangkap Maduro: Masyarakat Terbelah

Pakar dari UII Farhan Abdul Majiid bicara situasi setelah Presiden AS Donald Trump yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

HO/IST
PENANGKAPAN MADURO - Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh operasi militer Amerika Serikat yang bergerak dari sejumlah pangkalan militer AS, Sabtu, 3 Januari 2025. Sejumlah negara seperti China mengecam keras, sebagian pemimpin negara lainnya menyatakan mendukung AS. 

Ringkasan Berita:
  • Situasi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026 lalu.
  • Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Islam Indonesia Farhan Abdul Majiid menyebut, saat ini masyarakat di Venezuela terbelah.
  • Ada yang menyayangkan bahwa perubahan rezim justru dilakukan oleh pihak eksternal, yaitu AS.

TRIBUNNEWS.COM - Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Islam Indonesia (UII), Farhan Abdul Majiid, bicara situasi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026 lalu.

Farhan menyebut, saat ini masyarakat di Venezuela terbelah, ada yang menyayangkan bahwa perubahan rezim justru dilakukan oleh pihak eksternal, yaitu AS.

Hal itu disampaikannya dalam program On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews pada Jumat (9/1/2026).

"Situasi di dalam negeri Venezuela sendiri akhirnya masyarakatnya menjadi terbelah begitu," ujar Farhan Abdul Majiid.

"Ada yang memang yang oposisi oposan itu mungkin ada perubahan rezim, tetapi mereka juga banyak yang menyayangkan karena perubahan rezim itu dilakukan oleh pihak eksternal, khususnya Amerika Serikat, bukan dari dalam negeri sendiri," sambungnya.

Sementara itu, pihak yang pro terhadap Maduro menjadi membenci dan juga melawan Amerika Serikat.

Menurutnya, situasi akan lebih berbahaya jika AS, misalnya, mengatakan akan membawa investor-investor untuk kembali membangun Venezuela melalui minyak dan lain sebagainya.

"Itu justru akan lebih membahayakan bagi investor asing terutama karena akan menjadi sasaran baru dari kebencian masyarakat Venezuela yang tidak setuju misalnya cara-cara Amerika Serikat yang menggulingkan pemerintahan Maduro di Venezuela."

"Jadi kemungkinan nanti akan menimbulkan konflik-konflik baru di Venezuela," ungkapnya.

Preseden bagi Negara Lain

Farhan juga menyebut, apa yang dilakukan oleh Trump dan militer AS bisa menjadi preseden bagi negara-negara lain yang ingin melakukan tindakan serupa, yakni menangkap kepala negara lain.

"Kita melihat bahwa kalau apa yang dilakukan oleh Donald Trump oleh Amerika Serikat hari ini bisa menjadi preseden bagi negara-negara lain yang ingin melakukan tindakan serupa," ungkap Farhan.

Baca juga: Donald Trump Mulai Langkah Awal Sedot Minyak Venezuela, Kumpulkan 17 Eksekutif Migas

Saat ini, sambungnya, yang terjadi ialah hubungan internasional tak lagi berbasis kepada aturan, tetapi berbasis kekuatan dan berbasis kekuasaan.

"Karena apa? Karena kita melihat justru hubungan internasional hari ini tidak lagi berbasis pada nilai, tidak lagi berbasis pada aturan, tidak lagi berbasis pada tatanan yang kita sepakati bersama, tetapi kembali pada basis di masa lampau, yakni basis kekuatan, basis kekuasaan," tuturnya.

Jadi, siapa yang kuat dia yang menang. Negara tersebut bisa bertindak semampu kekuasaan yang dia miliki.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved