Minggu, 18 Januari 2026

Krisis Sopir Bus di Jepang, Tiga WNI Direkrut Jadi Pengemudi di Aichi

Krisis sopir bus di Jepang bikin WNI dilirik. Meitetsu Bus rekrut tiga warga Indonesia sebagai pengemudi trainee di Aichi

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Asahi TV
DIREKRUT JADI SOPIR - Dari kiri Dwi Harjanto (41), yang menjadi peserta tertua, Seto (tengah) dan Azzam (kanan). 

Ringkasan Berita:
  • Krisis kekurangan sopir bus di Jepang mendorong Meitetsu Bus merekrut tenaga asing, termasuk tiga WNI sebagai pengemudi trainee di Prefektur Aichi. 
  • Salah satunya, Dwi Harjanto, melihat peluang ini sebagai jalan masa depan keluarganya. 
  • Program ini didukung pelatihan khusus di Indonesia dan dinilai strategis menghadapi populasi Jepang yang menua

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM , AICHI – Kekurangan pengemudi bus kini menjadi persoalan nasional di Jepang. Untuk mengatasi krisis tenaga kerja tersebut, sebuah perusahaan bus di wilayah Chubu, Jepang tengah, mulai merekrut tenaga asing. 

Pada Agustus tahun lalu, Meitetsu Bus secara resmi mempekerjakan tiga warga negara Indonesia (WNI) sebagai calon sopir bus.

Langkah ini menjadi terobosan baru dan diharapkan dapat membuka jalan bagi masuknya lebih banyak pengemudi asal Indonesia ke Jepang, sekaligus membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor transportasi publik.

Salah satu dari tiga WNI tersebut adalah Dwi Harjanto (41), yang menjadi peserta tertua. Lainnya adalah Seto dan Azzam. 

Dalam upacara penerimaan karyawan, mereka menerima surat penugasan sebagai pengemudi trainee di depo Toyota, Prefektur Aichi.

Baca juga: Penyiar Televisi Jepang Ini Terpikat Keindahan Alam dan Budaya Indonesia, Ingin Tinggal di Bali

“Saya ingin menjadi pengemudi yang baik dan bertanggung jawab,” ujar Dwi.

Ketertarikan Dwi pada dunia kemudi sudah tumbuh sejak kecil.

 “Ayah saya dulu juga seorang sopir. Dari situlah saya mulai menyukai dunia mengemudi,” katanya.

Alasan utama Dwi datang ke Jepang adalah demi masa depan keluarganya. 

Ia memiliki tiga anak di Indonesia dan berharap bisa menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.

“Kalau tetap di Indonesia, itu cukup berat. Di Jepang ada batas usia maksimal 45 tahun untuk menjadi sopir bus. Saya sudah 41 tahun, jadi saya pikir ini kesempatan terbaik,” ungkapnya.

Dwi bukanlah orang asing bagi Jepang. Ia pernah bekerja di pabrik Jepang dan juga memiliki pengalaman sebagai penerjemah bahasa Jepang di Indonesia. 

Meski belum pernah menjadi sopir bus sebelumnya, ia memutuskan mencoba tantangan baru ini demi keluarganya.

Pelatihan dimulai dari praktik mengemudi di jalan umum. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved