Kamis, 16 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pasar Minyak Bergolak, Minyak Brent dan WTI Melemah Buntut Krisis Iran dan Pasokan Global

Harga minyak turun meski risiko geopolitik meningkat akibat protes Iran dan ketidakpastian pasokan dari Venezuela dan Rusia.

Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera
DEMO DI IRAN - Gelombang protes besar-besaran telah terjadi di Iran sejak Minggu (28/12/2025) lalu. Gambar merupakan tangkapan layar YouTube Al Jazeera. Terkini, harga minyak dunia turun sedikit setelah sempat naik di perdagangan siang hari, Senin (12/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Harga minyak Brent dan WTI turun di tengah ketegangan geopolitik AS-Iran dan risiko pasokan Venezuela.
  • Presiden Trump mempertimbangkan opsi militer, sanksi, dan serangan siber terhadap Iran.
  • Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak tetap rendah sepanjang 2026 meski fluktuasi kemungkinan terjadi.

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia turun sedikit setelah sempat naik di perdagangan siang hari, Senin (12/1/2026).

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat protes di Iran dan penyitaan pasokan minyak Venezuela oleh AS.

Minyak mentah Brent turun 0,3 persen menjadi $63,15 per barel, sementara WTI turun 0,4 persen menjadi $58,86 per barel.

“Iran adalah anggota OPEC terbesar keempat, memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari,” kata analis ING.

Ketegangan di Iran memicu kekhawatiran pasar karena setidaknya 1,9 juta barel per hari ekspor minyak berisiko terganggu, menurut ANZ Research.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran tentang konsekuensi jika demonstran dilukai.

Trump mengatakan militer sedang mempertimbangkan opsi, termasuk sanksi, serangan siber, dan tindakan militer.

Investor juga memantau risiko pasokan di Rusia di tengah serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi dan kemungkinan sanksi AS yang lebih keras.

Goldman Sachs memperkirakan harga minyak akan cenderung turun sepanjang 2026 karena pasokan global yang kuat.

“Gelombang pasokan membuat pasar mengalami surplus 2,3 juta barel per hari, meski geopolitik bisa mendorong fluktuasi harga,” kata analis Goldman Sachs.

Brent diperkirakan mencapai titik terendah $54 per barel, dan WTI $50 per barel pada kuartal keempat 2026.

Baca juga: Soal Tindakan Keras Iran terhadap Demo Anti-Pemerintah, Trump: Mereka Memerintah Melalui Kekerasan

Pada 2027, harga diperkirakan rata-rata $58 per barel untuk Brent dan $54 untuk WTI, seiring permintaan yang kuat dan perlambatan pasokan global.

Kontrak berjangka WTI bulan depan naik 1,0 persen menjadi $59,69/bbl, sementara Brent naik 0,9 persen menjadi $63,92/bbl.

Situasi geopolitik di Iran, Venezuela, dan Rusia tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas pasar minyak dunia.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved