Iran Vs Amerika Memanas
Di Tengah Perundingan, Iran Blak-blakan Tak Percaya AS: Ancaman Perang Menguat?
Iran lanjutkan negosiasi nuklir tanpa percaya AS, sementara Washington tambah tekanan dan pertimbangkan opsi serangan jika diplomasi gagal.
Ringkasan Berita:
- Teheran tetap mengikuti perundingan nuklir dengan sikap waspada, memperkuat militer, dan menolak negosiasi di bawah tekanan atau ancaman.
- Petinggi militer menegaskan siap memberi respons keras jika terjadi kesalahan perhitungan dari pihak lawan, sebagai upaya memperkuat posisi tawar.
- Washington mempertimbangkan penambahan kapal induk dan membuka opsi serangan jika negosiasi gagal, membuat ketegangan tetap tinggi meski dialog masih berlangsung.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan belum sepenuhnya mempercayai Amerika Serikat (AS), meski kedua negara kembali melanjutkan perundingan nuklir.
Pernyataan ini diungkap langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa (10/2/2026) waktu setempat.
Dalam keterangan resmi yang dikutip media lokal Iranintl, Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan tetap menempuh jalur diplomatik, namun dengan sikap waspada dan tanpa bergantung pada kepercayaan terhadap pihak lain.
“Kami akan menempuh jalan ini dengan mata terbuka, mempertimbangkan pengalaman masa lalu, tanpa mempercayai pihak lain, dan dengan keyakinan pada angkatan bersenjata,” ujar Araghchi dalam pertemuan dengan para komandan angkatan darat Iran.
Pernyataan Araghchi mencerminkan strategi ganda Iran yakni melanjutkan negosiasi nuklir sambil memperkuat pertahanan nasional.
Pemerintah Iran menilai pengalaman perjanjian sebelumnya, termasuk penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir 2015, menjadi alasan utama sikap tidak percaya tersebut.
Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, bahkan memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan dari pihak lawan akan berujung pada respons yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Jika musuh melakukan kesalahan, mereka akan menerima balasan yang belum pernah mereka lihat,” kata Hatami.
Pernyataan keras ini menegaskan bahwa Iran ingin menunjukkan posisi tawar yang kuat di meja perundingan.
Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman
Komandan Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Bahman Behmard, menambahkan bahwa negaranya tidak akan menerima dialog yang dilakukan di bawah tekanan militer atau politik.
Baca juga: Netanyahu dan Trump Akan Bertemu di Tengah Kritik Terhadap Israel, Bahas Gaza hingga Rudal Iran
Menurutnya, Iran tetap mendukung diplomasi demi stabilitas regional dan global, namun tidak akan mengorbankan keamanan nasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa doktrin pertahanan Iran telah mengalami penyesuaian, dari sekadar pertahanan reaktif menuju strategi pencegahan aktif yang memungkinkan respons lebih cepat dan tegas terhadap ancaman.
Langkah ini disebut sebagai bentuk dukungan militer terhadap upaya diplomasi, dengan prinsip utama: tidak ada dialog di bawah bayang-bayang ancaman.
Sementara itu menyusul pernyataan keras petinggi Iran lainnya, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dalam pernyataan resminya menegaskan kesiapan menghadapi setiap bentuk ancaman, konspirasi, maupun tuntutan yang dianggap berlebihan.
Ia menegaskan bahwa Iran akan berdiri teguh dan merespons setiap tekanan dengan kekuatan yang lebih besar dan luas jika diperlukan.