Minggu, 12 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelenskyy: Saya Yakin Putin Telah Memulai Perang Dunia III

Presiden Ukraina Zelenskyy yakin Presiden Rusia Vladimir Putin telah memulai Perang Dunia III dan Ukraina mencegahnya melalui perlawanan.

|
Editor: Suci BangunDS
Website Presiden Ukraina
PRESIDEN UKRAINA ZELENSKYY - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Senin (23/2/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 18 Februari 2026. Presiden Ukraina Zelenskyy yakin Presiden Rusia Vladimir Putin telah memulai Perang Dunia III dan Ukraina mencegahnya melalui perlawanan. 
Ringkasan Berita:
  • Zelenskyy menilai Putin telah memulai Perang Dunia III dan hanya bisa dihentikan melalui tekanan militer dan ekonomi yang kuat terhadap Rusia.
  • Ukraina menolak penarikan pasukan dari Donbas dan wilayah lain yang diduduki Rusia.
  • Jika Rusia diberi jeda, menurutnya itu akan memberi kesempatan Moskow memulihkan kekuatan dan melanjutkan agresinya.
  • Ukraina menegaskan pentingnya jaminan keamanan dari AS dan sekutu Eropanya.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.461 pada Senin (23/2/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meyakini bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah memulai Perang Dunia III. 

Menurutnya, perang itu hanya dapat dihentikan dengan tekanan militer dan ekonomi yang intensif.

Zelenskyy juga memperingatkan bahwa jika Ukraina menarik pasukan dari Donbas dan Rusia mendapatkan jeda yang diinginkan, Rusia akan ingin melanjutkan perang dalam dua tahun.

"Kami memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Saya percaya bahwa Putin telah memulainya (Perang Dunia III - red.). Pertanyaannya adalah berapa banyak wilayah yang akan mampu ia rebut dan bagaimana menghentikannya," jawab Zelenskyy menanggapi pertanyaan wartawan BBC News tentang ancaman nuklir Putin dan posisi pihak Amerika mengenai hal ini.

Dalam wawancara yang dirilis pada Senin, 23 Februari 2026 itu, Zelenskyy yakin Rusia ingin memaksakan ambisi perangnya kepada dunia dan menegaskan Ukraina mencegah Perang Dunia III melalui perlawanan.

Selama wawancara, Zelenskyy sekali lagi menolak tuntutan Rusia untuk menarik pasukan Ukraina dari 20 persen wilayah Donetsk, serta sebagian Kherson dan Zaporizhia. 

Ia menyebutnya bukan konsesi wilayah, melainkan pengabaian terhadap ratusan ribu orang yang tinggal di sana dan ia meyakini penarikan seperti itu akan memecah belah masyarakat Ukraina.

Ketika ditanya apakah Putin akan puas dengan penarikan pasukan seperti itu, Zelenskyy menjawab bahwa Putin hanya butuh istirahat. 

Zelenskyy mengatakan bahwa, menurut mitra Eropa, Rusia dapat memulihkan kekuatannya dalam tiga hingga lima tahun.

Baca juga: Pesan Menohok Zelensky ke Trump: Ukraina Tak Akan Tunduk pada Tuntutan Rusia

Menurut penilaiannya sendiri, dalam dua tahun, setelah itu Rusia ingin melanjutkan perang, dan tidak jelas ke mana Rusia akan melangkah selanjutnya.

Bagi Zelenskyy, kemenangan Ukraina adalah pelestarian kemerdekaannya dan pengembalian seluruh wilayah Ukraina adalah kemenangan bagi keadilan untuk seluruh dunia.

Ia menyebut, kembalinya kedaulatan Ukraina ke perbatasan tahun 1991 hanyalah masalah waktu, tetapi mencatat hal itu tidak mungkin dilakukan saat ini karena kurangnya senjata dan ancaman korban jiwa massal.

"Apa artinya tanah tanpa manusia? Sejujurnya, tidak ada artinya," kata Zelenskyy.

Menurut Zelenskyy, masalah paling mendesak bagi Ukraina adalah pertahanan udara, di mana ia meminta lisensi dari para mitra untuk memproduksi senjata Amerika, khususnya rudal untuk sistem Patriot, tetapi sejauh ini belum berhasil. 

Presiden juga menekankan jaminan keamanan harus disetujui oleh Kongres AS, dan bukan hanya oleh Presiden AS Donald Trump, karena presiden berganti, tetapi institusi tetap ada.

Ketika ditanya oleh pewawancara tentang tuntutan AS untuk mengadakan pemilihan umum, Zelenskyy mengatakan secara teknis hal itu mungkin dilakukan, tetapi pertama-tama diperlukan jaminan keamanan untuk Ukraina

Sementara itu, dia mengatakan bahwa dia belum memutuskan apakah akan mencalonkan diri lagi, lapor Suspilne.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina resmi meletus pada 24 Februari 2022, ketika Moskow melancarkan invasi militer besar-besaran ke berbagai kota strategis di Ukraina. Ledakan artileri dan pergerakan tank di perbatasan timur Eropa itu menandai babak baru konflik yang sejatinya telah lama bergejolak.

Perseteruan kedua negara berakar sejak bubarnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Sejak merdeka, Ukraina perlahan menggeser orientasi politiknya ke Barat, menjalin kedekatan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang Kremlin sebagai ancaman terhadap pengaruh tradisional Rusia di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan mencapai titik krusial pada 2014 melalui gelombang demonstrasi besar yang dikenal sebagai Revolusi Maidan. Pergantian kekuasaan di Kyiv yang dianggap condong ke Barat memicu respons keras dari Moskow. Rusia kemudian mencaplok Krimea dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas, mempertemukan pasukan Ukraina dengan kelompok separatis pro-Rusia.

Berbagai jalur diplomasi sempat ditempuh, namun upaya tersebut gagal menghasilkan perdamaian jangka panjang. Situasi memuncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer skala penuh terhadap Ukraina pada Februari 2022.

Moskow berdalih operasi itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas serta membendung ekspansi NATO. Langkah tersebut memicu gelombang kecaman internasional, dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Rusia, sekaligus mengalirkan bantuan militer dan finansial kepada Ukraina.

Di tengah perang yang masih berlangsung, berbagai upaya perundingan terus dilakukan, dengan AS sebagai penengah yang mendorong Rusia-Ukraina untuk kembali ke meja perundingan.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Korea Selatan Menegur Kedubes Rusia yang Pasang Spanduk Bernada Perang 

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan telah menyampaikan kekhawatiran kepada kedutaan Rusia di Seoul terkait spanduk besar yang tergantung di atas gedungnya yang bertuliskan "kemenangan akan menjadi milik kita" dalam bahasa Rusia.

Yonhap mengutip pejabat kementerian tersebut yang menyebut spanduk itu dapat memicu ketegangan yang tidak perlu dengan warga Korea Selatan dan negara lain.

Kementerian tersebut, menganggap kalimat dalam spanduk itu sebagai referensi terhadap perang Rusia di Ukraina.

Kedutaan Rusia belum menurunkan spanduk berisi pesan tersebut, yang digunakan Uni Soviet selama Perang Dunia Kedua.

Spanduk tersebut, dipasang menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari mendatang.

  • Hongari akan Blokir Paket Sanksi Uni Eropa untuk Rusia

Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, mengatakan negaranya akan memblokir paket sanksi Uni Eropa berikutnya terhadap Rusia.

Paket sanksi itu merupakan langkah terbaru yang bertujuan untuk mendorong Ukraina melanjutkan aliran minyak Rusia melalui pipa yang memasok kilang minyak Hungaria. 

Uni Eropa saat ini sedang mempersiapkan paket sanksi terhadap Rusia terkait perang di Ukraina dan sementara negosiasi sedang berlangsung, banyak negara anggota ingin menyetujui paket tersebut tepat waktu untuk peringatan keempat invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada hari Selasa. 

“Pada Dewan Urusan Luar Negeri besok, Uni Eropa bertujuan untuk mengadopsi paket sanksi ke-20. Hungaria akan memblokirnya,” kata Peter Szijjarto, menteri luar negeri, di X pada hari Minggu (22/2/2026). 

“Sampai Ukraina melanjutkan transit minyak ke Hungaria dan Slovakia melalui pipa Druzhba , kami tidak akan mengizinkan keputusan penting bagi Kyiv untuk dilanjutkan," lanjutnya.

Ukraina mengutuk apa yang digambarkannya sebagai “ultimatum dan pemerasan” oleh Hungaria dan Slovakia pada akhir pekan setelah kedua pemerintah mengancam akan menghentikan pasokan listrik ke Ukraina kecuali Kyiv memulai kembali aliran minyak Rusia, dikutip dari The Guardian.

  • Putin: Perkembangan Nuklir Rusia Adalah Prioritas

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pengembangan kekuatan nuklir Rusia kini menjadi prioritas mutlak setelah berakhirnya perjanjian nuklir terakhirnya dengan AS.

“Pengembangan triad nuklir, yang menjamin keamanan Rusia dan memastikan pencegahan strategis yang efektif serta keseimbangan kekuatan di dunia, tetap menjadi prioritas mutlak,” kata presiden Rusia dalam pesan video pada hari Minggu, bertepatan dengan Hari Pembela Tanah Air Rusia

Putin berjanji untuk terus memperkuat angkatan darat dan angkatan laut dan memanfaatkan pengalaman militer dari perang di Ukraina

Moskow dan Washington, yang merupakan dua kekuatan nuklir utama dunia, tidak lagi terikat oleh pakta pengendalian senjata apa pun sejak perjanjian New Start berakhir awal bulan ini.

  • Ukraina Barat Diguncang Beberapa Ledakan, Zelenskyy Menuduh Rusia

Seorang petugas polisi tewas dan 24 orang terluka setelah beberapa alat peledak meledak tengah malam di Lviv, Ukraina barat , menurut laporan kepolisian nasional pada hari Minggu.

Presiden Volodymyr Zelenskyy menuduh serangan tersebut dilakukan oleh Rusia

Walikota Lviv menggambarkan insiden itu sebagai tindakan teroris dan mengatakan seorang petugas polisi wanita berusia 23 tahun telah meninggal. 

"Dua belas orang masih dirawat di rumah sakit, dua di antaranya dalam kondisi serius," kata Andriy Sadovyi di Telegram. 

Sementara menteri dalam negeri, Ihor Klymenko mengatakan seorang wanita telah ditahan sehubungan dengan penyelidikan.

  • Rusia Tembakkan Puluhan Rudal dan Drone

Rusia telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke berbagai target di Ukraina, menghancurkan sebuah rumah tinggal di Kyiv pada hari Minggu.

Zelenskyy mengatakan, Kremlin telah meluncurkan 297 drone dan hampir 50 rudal pada hari Minggu, dalam gelombang serangan semalam yang terbaru. 

Dia mengatakan, sebagian besar telah ditembak jatuh dan menyerukan kepada sekutu untuk memperkuat pertahanan udara negara itu terhadap serangan musuh. 

"Moskow terus berinvestasi dalam serangan lebih banyak daripada dalam diplomasi," kata presiden Ukraina itu. 

"Kali ini, target Rusia tidak hanya mencakup fasilitas energi, tetapi juga logistik, khususnya infrastruktur kereta api dan pasokan air kota," tambahnya.

  • Serangan Rudal Ukraina Hambat Pasokan Listrik di Belgorod Rusia

Serangan rudal besar-besaran Ukraina menimbulkan kerusakan serius pada infrastruktur energi dan mengganggu pasokan listrik, panas, dan air di wilayah Belgorod Rusia yang berbatasan dengan Ukraina.

Gubernur Belgorod, Vyacheslav Gladkov, menggambarkan serangan itu besar-besaran pada Senin pagi telah memengaruhi kota Belgorod, 40 km (25 mil) dari perbatasan, dan daerah sekitarnya. 

Sementara itu, gubernur yang ditunjuk Rusia untuk bagian wilayah Zaporizhzhia Ukraina yang dikendalikan Moskow, Yevgeny Balitsky, mengatakan tim darurat telah memulihkan aliran listrik ke sebagian besar daerah yang terkena pemadaman setelah serangan besar Ukraina terhadap infrastruktur energi. 

Di Luhansk yang dikendalikan Rusia di timur laut Ukraina, sebuah reservoir bahan bakar terbakar setelah serangan drone Ukraina terhadap depot minyak, kata pemimpin yang ditunjuk Moskow, Leonid Pasechnik.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved