Iran Vs Amerika Memanas
Hari ke-8 Perang Iran: 1.332 Tewas, AS–Israel Gempur 3.000 Target, Rudal Hantam Negara Teluk
Perang Iran memasuki hari ke-8. Sedikitnya 1.332 orang tewas saat AS–Israel menggempur ribuan target dan Iran membalas dengan rudal.
Ringkasan Berita:
- Perang antara Iran, United States, dan Israel memasuki hari kedelapan dengan sedikitnya 1.332 orang tewas di Iran akibat serangan udara besar-besaran.
- Militer AS mengklaim telah menyerang lebih dari 3.000 target dan menghancurkan puluhan kapal perang Iran, sementara Iran membalas dengan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk.
- Konflik yang juga melibatkan Hezbollah di Lebanon itu memicu krisis pengungsian dan lonjakan harga minyak global.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki hari kedelapan, Sabtu (7/3/2026).
Konflik yang telah berlangsung selama sepekan itu terus meningkat dan meluas ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Setidaknya 1.332 orang dilaporkan tewas di Iran sejak operasi militer AS dan Israel dimulai.
Gelombang pemboman intensif terbaru kembali menghantam ibu kota Tehran pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Dilansir dari Al Jazeera, Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran serta menghancurkan 43 kapal perang milik Iran sejak operasi militer dimulai.
Situasi di Iran
- Serangan Militer dan Korban Jiwa Meningkat
Serangan udara yang terus berlangsung membuat jumlah korban jiwa di Iran terus bertambah.
Hingga hari kedelapan perang, sedikitnya 1.332 orang dilaporkan tewas akibat pemboman yang menargetkan berbagai fasilitas di negara tersebut.
- AS Tuntut Penyerahan Tanpa Syarat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”.
Ia menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan atau negosiasi jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
- Ancaman di Selat Hormuz
Militer Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran di Strait of Hormuz masih terbuka.
Namun Iran memperingatkan bahwa kapal militer maupun komersial milik AS dan Israel dapat menjadi target jika mencoba melintasi jalur tersebut.
Baca juga: Pejabat Iran Ejek Pernyataan Trump soal Penyerahan Diri dan Perannya Memilih Pemimpin Baru Iran
- Eropa Diperingatkan
Wakil Menteri Luar Negeri Iran juga memperingatkan negara-negara Eropa bahwa mereka dapat menjadi “target sah” bagi Iran apabila ikut bergabung dengan operasi militer AS dan Israel.
- Rusia Disebut Beri Dukungan
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan menyampaikan belasungkawa atas korban tewas di Iran.
Menurut pejabat AS yang berbicara secara anonim, Rusia juga diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran terkait posisi militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, Kremlin menyebut konflik ini memicu peningkatan permintaan energi Rusia di pasar global.
Situasi di Negara-Negara Teluk
Konflik juga meluas ke kawasan Teluk setelah beberapa negara melaporkan adanya drone dan rudal yang melintas di wilayah mereka.
- Qatar, Kuwait, dan UEA
Qatar, Kuwait, dan United Arab Emirates melaporkan adanya rudal dan drone yang masuk ke wilayah udara mereka.
Pemerintah Qatar mengatakan sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat sembilan dari sepuluh drone Iran yang diluncurkan ke wilayahnya.
- Arab Saudi
Saudi Arabia juga melaporkan berhasil mencegat sejumlah drone di dekat ibu kota Riyadh.
- Kuwait Kurangi Produksi Minyak
Kuwait dilaporkan mulai mengurangi produksi di beberapa ladang minyak karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak mentah di tengah situasi konflik.
- Dukungan Militer Inggris
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan menjanjikan dukungan militer Inggris, termasuk jet tempur, helikopter, dan kapal perusak untuk membantu pertahanan Arab Saudi jika diperlukan.
Inggris juga dijadwalkan mengirim pesawat tempur Typhoon tambahan ke Qatar untuk membantu patroli udara.
- Gangguan Penerbangan
Penutupan wilayah udara di kawasan tersebut menyebabkan banyak penerbangan dibatalkan.
Bandara Internasional Hamad di Qatar kemudian membuka kembali navigasi udara secara terbatas melalui jalur darurat khusus.
Maskapai Qatar Airways juga mengumumkan penerbangan repatriasi khusus ke lima kota Eropa, yakni London, Paris, Madrid, Rome, dan Frankfurt.
Baca juga: Pakar UI Klaim Posisi Indonesia Tersandera usai Prabowo Mau Mediasi AS-Iran: Tak Bisa Kutuk Israel
Situasi di Israel
- Serangan Rudal dan Drone Iran
Iran terus meluncurkan drone dan rudal ke berbagai wilayah Israel.
Serangan tersebut memicu ledakan dan sirene peringatan di Tel Aviv, wilayah Israel utara, serta dekat Beersheba di Negev Desert.
- Strategi Melemahkan Pertahanan Israel
Para analis menilai serangan berulang Iran bertujuan untuk membebani sistem pertahanan udara Israel dan menguras stok rudal pencegat.
- Tuduhan di PBB
Di United Nations, duta besar Iran Amir-Saeid Iravani menuduh Israel dan Amerika Serikat telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
- Hizbullah Ikut Terlibat
Kelompok Hezbollah juga menembakkan roket ke beberapa wilayah di Israel utara sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.
Situasi di Amerika Serikat
Pemerintah United States memberikan sinyal yang berbeda terkait durasi konflik.
Gedung Putih menyebut operasi militer dapat berlangsung empat hingga enam minggu, sementara Pentagon belum memberikan perkiraan waktu.
Dikutip dari Bloomberg, Presiden Donald Trump juga mengatakan produsen pertahanan AS akan melipatgandakan produksi senjata untuk mendukung operasi militer tersebut.
Menurut laporan Center for Strategic and International Studies, 100 jam pertama Operasi Epic Fury diperkirakan menelan biaya sekitar 3,7 miliar dolar AS, atau sekitar 891 juta dolar per hari.
AS juga memperkuat kemampuan militernya dengan mengerahkan pesawat pembom B-1 Lancer ke pangkalan udara di Inggris setelah pemerintah Inggris mengizinkan penggunaan pangkalan mereka.
Situasi di Lebanon dan Irak
- Bentrokan dengan Hizbullah
Kelompok Hizbullah mengonfirmasi bentrokan dengan pasukan Israel di Bekaa Valley di Lebanon timur setelah mendeteksi empat helikopter militer Israel memasuki wilayah tersebut dari arah Suriah.
- Serangan Israel di Lebanon
Jet tempur Israel juga membombardir sejumlah kota di Lebanon selatan dan timur.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 217 orang tewas sejak serangan dimulai.
Serangan ini memicu gelombang pengungsian besar di kota Tyre dan pinggiran selatan Beirut, termasuk wilayah Dahiyeh.
Sekolah-sekolah di Beirut kini digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi.
- Respons Diplomatik
Presiden Lebanon Joseph Aoun meminta bantuan negara-negara sekutu untuk menghentikan serangan tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungannya dalam percakapan telepon dengan Aoun.
- Serangan Drone di Irak
Di Iraq, sebuah drone dilaporkan menghantam hotel Erbil Arjaan by Rotana di kota Erbil setelah Kedutaan Besar AS memperingatkan kemungkinan serangan dari kelompok yang bersekutu dengan Iran.
Baca juga: Arab Saudi dan Pakistan Gelar Pertemuan, Desak Iran Tak Salah Melangkah
Dampak Perang Sepekan Terakhir
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, konflik telah menyebabkan korban jiwa di berbagai negara.
Selain 1.332 orang tewas di Iran, lebih dari 200 orang tewas di Lebanon, 11 orang tewas di Israel, serta enam anggota militer AS dilaporkan meninggal.
Kelompok Hezbollah mulai terlibat dalam konflik pada 2 Maret dengan menembakkan roket ke Israel utara, yang kemudian mendorong Israel memperluas serangannya ke Lebanon.
Dilansir Laman resmi UNHCR, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sedikitnya 330.000 orang telah mengungsi di seluruh kawasan Timur Tengah akibat meningkatnya kekerasan.
Konflik ini juga mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak karena gangguan pengiriman di Selat Hormuz, jalur penting yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Baca juga: Analis Prancis: Iran Siap Berperang hingga Mati Syahid, Sangat Sulit Dikalahkan Bahkan Pakai Militer
Iran juga meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Di dalam negeri AS, baik Senat maupun DPR menolak resolusi bipartisan yang bertujuan menghentikan perang dan memilih mendukung kampanye militer pemerintahan Trump terhadap Iran.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.