Iran Vs Amerika Memanas
Gencatan Senjata Iran-Israel Hanya Jeda, Sikap Trump Ingin Amankan Pemilu Sela
Pengamat militer, Anton Aliabbas nilai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika, Israel, dan Iran yang diinisiasi Donald Trump sangat rapuh.
Ringkasan Berita:
- Pengamat militer, Anton Aliabbas nilai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika, Israel dan Iran yang diinisiasi Donald Trump bersifat sangat rapuh.
- Apa yang terjadi saat ini bukanlah gencatan senjata permanen melainkan sebuah jeda singkat di tengah ketegangan yang membara.
- Anton mencium ada motif politik domestik AS di balik langkah agresif Trump menginisiasi perundingan singkat ini.
- Menurutnya, Trump berupaya mengambil hati donatur besar yang berafiliasi dengan Israel demi Pemilu Sela.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas menilai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang diinisiasi Donald Trump bersifat sangat rapuh.
Anton memandang bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah gencatan senjata permanen (ceasefire), melainkan hanya sebuah jeda singkat atau pause di tengah ketegangan yang masih membara.
Anton menyebut hal ini didasari pada durasi kesepakatan yang hanya dipatok selama dua minggu, waktu yang dianggap sangat mustahil untuk menyelesaikan konflik sedalam itu.
Hal itu disampaikan Anton saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews, Jumat (10/4/2026).
"Amerika dulu bicara soal nuklir saja butuh waktu 19 bulan untuk berunding. Sekarang, masalah nuklir dan perang regional dikasih deadline dua minggu. Ini kayaknya bisa gagal lagi," ujar Anton.
Ia membeberkan bahwa Trump awalnya mengusulkan 15 poin kesepakatan pada 23 September, namun Iran merespons dengan 5 poin hingga akhirnya berkembang menjadi 10 poin yang alot diperdebatkan.
Anton mencium adanya motif politik domestik Amerika Serikat di balik langkah agresif Trump dalam menginisiasi perundingan singkat ini.
Baca juga: Sikap Hati-hati Presiden Prabowo Terkait Konflik Iran vs AS-Israel
Menurutnya, Trump tengah berupaya mengambil hati para donatur besar yang berafiliasi dengan Israel demi menyongsong Pemilu Sela Amerika Serikat pada November mendatang.
"Trump menghadapi Pemilu Sela pada November dan itu membutuhkan pendanaan kampanye yang besar. Siapa salah satu donaturnya? Adalah link-nya Israel," ungkap Anton.
Maka dari itu, Trump dianggap memiliki kepentingan mutual dengan Israel; Israel butuh backup militer AS, sementara Trump butuh dukungan finansial dari lobi-lobi pro-Israel.
Dinamika ini membuat perundingan menjadi tidak murni untuk perdamaian dunia, melainkan sarat dengan kepentingan kekuasaan di Washington.
"Jadi pertempuran ini tidak lepas dari urusan domestik Amerika. Dinamika ini yang membuat posisi perundingan di Islamabad nanti menjadi sangat kompleks," pungkasnya.
Berikut perikan wawancara khusus dengan Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas dengan Tribunnews;
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-tuduh-media-berkhianat-OK.jpg)