Selasa, 21 April 2026

Korsel Laporkan Korea Utara Luncurkan Rudal Saat Iran Tutup Selat Hormuz

Kepala IAEA Rafael Grossi memperingatkan bahwa fokus dunia terhadap Timur Tengah tidak boleh mengabaikan ketegangan yang terjadi di Pasifik.

Editor: Willem Jonata
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
UJI COBA RUDAL - Peluncuran rudal Korea Utara. Selama Januari 2026, Korea Utara diketahui sudah dua kali melakukan uji coba peluncuran rudal ke arah Laut Jepang, memanaskan ketegangan yang ada di kawasan. 

Ringkasan Berita:
  • Korea Selatan mengonfirmasi bahwa Korea Utara meluncurkan rudal balistik jarak pendek di Semenanjung Korea dan Jepang
  • Langkah Pyongyang ini disebut sebagai pelanggaran terhadap resolusi PBB dan dilakukan tepat saat perhatian komunitas internasional tersedot oleh krisis di Timur Tengah
  • Kepala IAEA Rafael Grossi memperingatkan, bahwa fokus dunia terhadap Timur Tengah tidak boleh membuat kita abai terhadap ketegangan di Pasifik

 

TRIBUNNEWS.COM – Korea Utara dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal balistik jarak pendek sejauh 140 KM, ke arah Timur laut di antara Semenanjung Korea dan Jepang, Minggu (19/4/2026) pagi waktu setempat.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengonfirmasi bahwa peluncuran dimulai sekitar pukul 06.10 dari kawasan Sinpo, sebuah kota pelabuhan di pesisir timur Korea Utara.

Baca juga: Badan Atom Dunia: Korea Utara Kebut Produksi Senjata Nuklir

“Militer kami memantau dengan cermat berbagai pergerakan Korea Utara di bawah postur pertahanan gabungan Korea Selatan-Amerika Serikat, untuk mempertahankan kemampuan menanggapi setiap provokasi dengan cara yang telak,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Korsel seperti diberitakan The Korea Times.

Langkah Pyongyang ini disebut sebagai pelanggaran terhadap resolusi PBB dan dilakukan tepat saat perhatian komunitas internasional sedang tersedot oleh krisis di Teluk Persia.

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, yang sedang berada di Zona Demiliterisasi (DMZ), memperingatkan bahwa fokus dunia terhadap Timur Tengah tidak boleh membuat kita abai terhadap ketegangan di Pasifik.

"Saat perhatian dunia terfokus pada perkembangan di Timur Tengah, kita tidak boleh melupakan ketegangan dan perpecahan di tempat lain, termasuk di Semenanjung Korea ini," tegas Grossi, seperti diberitakan ABC News.

Ia mendesak Korea Utara untuk kembali ke meja diplomasi.

Namun, perwakilan tetap Korea Utara di PBB sebelumnya telah menolak campur tangan IAEA dan menganggap urusan nuklir mereka sebagai masalah internal yang tidak bisa diintervensi oleh pihak luar.

Sementara itu, situasi di Timur Tengah kembali menghadapi krisis.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz, termasuk koridor yang sebelumnya sempat dibuka untuk perlintasan aman kapal-kapal internasional.

Teheran menyatakan bahwa jalur pelayaran vital tersebut akan disegel sepenuhnya hingga Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran.

Iran menganggap blokade AS sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

"Setiap kapal yang melanggar penutupan ini akan menjadi target serangan," demikian pernyataan resmi IRGC yang dikutip media pemerintah Iran seperti diberitakan Middle East Eye.

Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat.

Ia memperingatkan bahwa pertempuran bisa pecah kembali "kapan saja" jika tuntutan Iran tidak dipenuhi.

Merespons ancaman tersebut, radio nasional Israel melaporkan bahwa militer Israel telah berada dalam status siaga tinggi (high alert) mengantisipasi runtuhnya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved