Jumat, 1 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Komandan CENTCOM Bakal Beri Pengarahan Baru ke Trump, Perang Iran Pecah Lagi?

Dalam sebuah laporan menyebutkan, Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper dijadwalkan akan memberi pengarahan baru kepada Presiden Donald Trump.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper dilaporkan akan memberikan pengarahan baru kepada Presiden AS, Donald Trump soal operasi militer di Iran.
  • CENTCOM diketahui telah menyiapkan rencana baru untuk melakukan serangan "singkat dan dahsyat" terhadap Iran.
  • Pengarahan terbaru ini menunjukkan bahwa Trump serius mempertimbangkan untuk melanjutkan operasi militer besar-besaran di Iran.

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran diperkirakan akan kembali meningkat.

Meningkatnya ketegangan ini ditandai dengan adanya pengarahan baru dari Kepala Komando Pusat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper kepada Presiden Donald Trump, yang direncanakan akan dilakukan pada Kamis (30/4/2026) hari ini.

CENTCOM diketahui telah menyiapkan rencana baru untuk melakukan serangan "singkat dan dahsyat" terhadap Iran.

Pengarahan terbaru dari Laksamana Brad Cooper ini menandakan bahwa Trump serius mempertimbangkan untuk melanjutkan operasi militer besar-besaran di Iran.

Laporan eksklusif dari Axios menyebutkan bahwa serangan ini ditargetkan menghantam infrastruktur vital Iran guna memaksa negara tersebut kembali ke meja perundingan yang selama ini buntu.

Bukan hanya serangan udara, Laksamana Brad Cooper juga disebut bakal memaparkan rencana ekstrem lainnya, yakni pengambilalihan sebagian wilayah Selat Hormuz.

Jika rencana ini disetujui, AS kemungkinan akan menerjunkan pasukan darat demi menjamin kelancaran jalur pelayaran komersial yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Sebelumnya, Trump mengungkapkan kepada Axios bahwa ia melihat blokade angkatan laut terhadap Iran sedikit lebih efektif daripada pemboman.

"Mereka tercekik seperti babi panggang. Situasinya akan jauh lebih buruk jika mereka tidak segera sadar."

"Intinya satu: mereka tidak boleh punya senjata nuklir," tegas Trump kepada Axios pada Rabu (29/4/2026).

Dua sumber mengatakan kepada Axios bahwa Trump saat ini melihat blokade sebagai sumber pengaruh utamanya.

Baca juga: Iran Siapkan Senjata Baru Dikerahkan di Jarak Dekat, Peringatan Keras ke AS: Musuh Akan Takut!

Tetapi ia akan mempertimbangkan tindakan militer jika Iran tetap tidak mau menyerah.

Para perencana militer AS juga mempertimbangkan kemungkinan Iran akan mengambil tindakan militer terhadap pasukan AS di kawasan itu sebagai balasan atas blokade tersebut.

Trump menepis mentah-mentah permintaan Teheran yang menginginkan blokade dicabut sebelum negosiasi dimulai.

Baginya, blokade adalah kartu as atau posisi tawar utama AS.

Washington hanya akan melunakkan sanksi jika Iran menunjukkan itikad baik dan memenuhi seluruh tuntutan AS terkait program nuklirnya.

Langkah berani ini diprediksi bakal memicu reaksi keras dari kawasan Timur Tengah, mengingat keterlibatan pasukan darat di Selat Hormuz dapat memicu eskalasi konflik terbuka yang lebih luas.

Komunikasi AS-Iran Masih Terjalin

Meski sebelumnya sempat menolak mentah-mentah usulan Iran soal Selat Hormuz, Trump mengaku komunikasi dua negara masih terjalin.

"Kami sedang berbicara dengan mereka (Iran) melalui telepon dan berbagai saluran lainnya," ungkap Trump kepada awak media di Gedung Putih, Rabu waktu setempat, mengutip The Times of Israel.

Sebelumnya, Iran sempat menyodorkan tawaran untuk menjamin keamanan di Selat Hormuz — jalur krusial bagi pasokan minyak dunia.

Syaratnya satu, yaitu AS harus mencabut sanksi ekonomi yang mencekik negara para Mullah tersebut.

Baca juga: Biaya Perang Iran Tembus Rp434 T, Menhan AS: Demi Keselamatan Rakyat Amerika!

Namun, alih-alih menyambut baik, Trump justru melabeli tawaran itu "tidak bisa diterima".

Bagi Trump, Iran tidak bisa sekadar berjanji soal jalur laut, tapi harus berhenti total dari aktivitas nuklir dan menyetop dukungan bagi kelompok militan di Timur Tengah.

Langkah Trump ini menegaskan bahwa strategi "tekanan maksimum" masih menjadi senjata utama Washington.

Trump seolah ingin menunjukkan bahwa AS tidak akan luluh hanya karena gertakan di jalur perdagangan minyak.

Kondisi di Selat Hormuz sendiri saat ini masih mencekam.

Setelah insiden sabotase kapal tanker dan penembakan jatuh drone militer AS beberapa waktu lalu, kehadiran militer kedua negara di kawasan tersebut membuat dunia was-was akan potensi pecahnya perang terbuka.

Meski mengaku masih "teleponan", banyak analis menilai pernyataan Trump ini hanyalah diplomasi di permukaan.

Kenyataannya, kedua negara masih terlibat dalam adu urat syaraf yang sengit, di mana ekonomi Iran terus ditekan dan AS tetap bersiaga dengan armada perangnya di teluk.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved