Iran Vs Amerika Memanas
Obama Bongkar Rahasia Lama, Sebut Netanyahu Pernah Desak AS Gempur Iran
Obama bongkar tekanan Netanyahu agar AS serang Iran. Kritik Trump ikut dorongan itu, sebut militer picu konflik dan belum tentu untungkan AS-Israel.
Ringkasan Berita:
- Mantan Presiden AS Barack Obama mengungkap Benjamin Netanyahu sejak lama mendesak AS menyerang Iran, namun ia memilih diplomasi lewat kesepakatan nuklir 2015.
- Obama mengkritik Donald Trump yang mengikuti dorongan tersebut. Ia menilai serangan militer memicu balasan Iran, memperluas konflik, dan mengganggu stabilitas global.
- Obama meragukan manfaat jangka panjang bagi AS dan Israel. Ia menilai pendekatan militer berisiko, sementara diplomasi dianggap solusi lebih aman dan berkelanjutan.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah lama mendorong Washington untuk melakukan serangan militer terhadap Iran.
Pernyataan itu dilontarkan langsung oleh Obama dalam wawancara dengan media The New Yorker, Rabu (5/5/2025).
Obama mengatakan bahwa selama 2 periode masa jabatannya, ia kerap menerima tekanan dari Netanyahu untuk mengambil langkah militer terhadap Iran.
Namun, ia memilih pendekatan berbeda dengan mengedepankan diplomasi, negosiasi dan kerja sama internasional sebagai cara untuk mengendalikan potensi ancaman, termasuk melalui kesepakatan nuklir yang pernah dicapai pada 2015.
Menurutnya, serangan militer tidak menjamin mampu mengatasi ancaman yang dianggap berasal dari Iran.
Lebih lanjut, Obama menegaskan bahwa serangan militer tidak menjamin mampu menghilangkan ancaman yang dianggap berasal dari Iran.
Ia menilai langkah tersebut justru berpotensi memperpanjang konflik dan memicu ketidakstabilan baru di kawasan Timur Tengah yang pada akhirnya memberikan dampak negatif pada keamanan regional dan global.
Obama Kritik Trump yang Ikuti Dorongan Netanyahu
Dalam kesempatan itu Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, juga turut melontarkan kritik terhadap Donald Trump, yang mengikuti dorongan PM Netanyahu, untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Perlu diketahui AS dan Israel meluncurkan serangan brutal ke Iran pada 28 Februari. Operasi ini menyebabkan pemimpin tertinggi dan pejabat top pertahanan Iran tewas.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan balik ke Israel serta aset militer AS di negara Teluk dan menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz, hingga membuat pasar global terancam krisis BBM.
Baca juga: DPR AS Desak Marco Rubio Akui Nuklir Israel, Minta Akhiri Standar Ganda ke Iran
Obama menyoroti bahwa Netanyahu menggunakan pendekatan yang sama seperti yang pernah ia gunakan lebih dari satu dekade lalu untuk meyakinkannya agar mengambil langkah militer.
Meski operasi militer yang dilakukan Donald Trump diklaim berhasil memukul mundur Iran, namun menurut Obama keputusan Trump yang mengikuti dorongan Netanyahu tidak serta-merta memberikan hasil yang lebih baik.
Ia bahkan mempertanyakan apakah langkah tersebut benar-benar menguntungkan Amerika Serikat maupun Israel.
Ia juga menilai bahwa meskipun Netanyahu mungkin telah mencapai tujuannya dengan mendorong serangan tersebut, dampak jangka panjangnya masih dipertanyakan.
Obama Soroti Dampak Serangan Iran bagi AS
Tak sampai disitu, Obama turut mempertanyakan efektivitas dan dampak jangka panjang dari langkah militer terhadap Iran yang didorong oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Menurutnya hasil dari kebijakan tersebut belum tentu memberikan keuntungan strategis yang nyata, baik bagi Israel maupun Amerika Serikat. Justru serangan itu membawa konsekuensi negatif bagi kedua negara, memicu serangan balasan dari Teheran ke berbagai target termasuk wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa aksi militer tidak menghentikan konflik, melainkan memperluasnya. Bahkan konflik juga berdampak pada sektor ekonomi. Ketegangan di kawasan Teluk, terutama di jalur vital seperti Selat Hormuz, menyebabkan gangguan distribusi minyak dunia dan memicu kenaikan harga energi global.
Situasi tersebut pada akhirnya tidak hanya merugikan negara-negara di kawasan, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi Amerika Serikat dan sekutunya.
“Apakah itu yang terbaik bagi rakyat Israel, saya mempertanyakan hal itu,” ujar Obama, sebagaimana dikutip dari The Times of Isael.
Pernyataan ini kembali menegaskan adanya perbedaan mendasar antara Obama dan Netanyahu dalam menyikapi Iran.
Obama menekankan pentingnya pendekatan diplomasi sebagai solusi jangka panjang yang lebih stabil dan terukur. Sebaliknya, tekanan dari pihak Israel dinilai lebih condong pada penggunaan kekuatan militer sebagai respons cepat terhadap ancaman.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.