Iran Vs Amerika Memanas
Terjepit Perang Iran, Trump 'Ngemis' Bantuan ke Xi Jinping demi Bisa Bujuk Teheran
Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping bukan membahas perdagangan, melainkan demi bisa membujuk Iran.
Ringkasan Berita:
- Kunjungan Presiden AS, Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China, Xi Jinping membawa misi besar.
- Keadaan yang terjepit gara-gara perang Iran, membuat Trump mau tidak mau 'ngemis' bantuan kepada Xi Jinping agar bisa membujuk Teheran.
- Selain itu, Trump menuju China dengan membawa sedikit petinggi perusahaan, yang menandakan bahwa sikap hati-hati dunia usaha AS di tengah ketidakpastian hukum terkait kebijakan tarif di pengadilan federal.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dijadwalkan akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026.
Kunjungan yang awalnya dirancang sebagai panggung kekuatan ekonomi AS, kini berubah menjadi misi diplomatik kritis bagi Trump yang tengah terdesak oleh krisis domestik dan luar negeri.
Para pengamat politik menilai posisi tawar Trump kali ini berada di titik terendah.
Setahun setelah sesumbar akan melumpuhkan ekonomi China melalui perang tarif, Trump justru datang membawa agenda yang jauh lebih moderat.
Alih-alih restrukturisasi ekonomi besar-besaran, fokus utama Trump kini bergeser pada kesepakatan belanja komoditas seperti kacang kedelai, daging sapi, dan pesawat Boeing.
Isu paling krusial dalam pertemuan ini bukanlah perdagangan, melainkan konflik di Timur Tengah.
Dengan tingkat ketidakpuasan publik Amerika yang mencapai 60 persen terhadap perang dengan Iran, Trump sangat membutuhkan "kemenangan cepat" untuk menyelamatkan popularitasnya menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.
"Trump seolah-olah lebih membutuhkan China daripada China membutuhkannya," kata Alejandro Reyes, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam kebijakan luar negeri China di Universitas Hong Kong kepada Reuters.
"Dia membutuhkan semacam kemenangan kebijakan luar negeri: kemenangan yang menunjukkan bahwa dia berupaya memastikan stabilitas di dunia dan bahwa dia tidak hanya mengganggu politik global," tambah Reyes.
Sebagaimana diketahui, China merupakan pembeli utama minyak Iran dan memiliki hubungan diplomatik yang stabil dengan Teheran, posisi yang tidak dimiliki oleh AS saat ini.
Baca juga: Sebut Dokumen Sampah, Donald Trump Tolak Mentah-Mentah Proposal Damai Perang AS-Iran
Bawa Sedikit Orang Penting ke China
Dalam kunjungan kali ini, Trump akan didampingi oleh para CEO, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Apple, Tim Cook.
Rombongan pengusaha yang dibawa Trump kali ini tercatat lebih ramping dibandingkan kunjungan tahun 2017.
Hal ini mengindikasikan sikap hati-hati dunia usaha AS di tengah ketidakpastian hukum terkait kebijakan tarif Trump di pengadilan federal.
Selain urusan ekonomi dan Iran, agenda panas lainnya yang akan dibahas meliputi rencana penjualan senjata AS ke Taiwan serta desakan pembebasan taipan media Hong Kong, Jimmy Lai.
"Dulu kita sering dimanfaatkan selama bertahun-tahun oleh presiden-presiden sebelumnya, dan sekarang kita berhasil menjalin hubungan baik dengan China," kata Trump.
"Saya sangat menghormatinya (Xi), dan semoga dia juga menghormati saya," lanjutnya.
Pertemuan di Balai Agung Rakyat ini diprediksi akan berlangsung alot.
Di satu sisi, Trump membutuhkan pencapaian nyata untuk meredam kritik di dalam negeri.
Di sisi lain, Beijing tampaknya menyadari posisi lemah Trump dan kemungkinan besar akan menuntut konsesi besar, terutama terkait pelonggaran kontrol ekspor teknologi cip yang selama ini menjepit industri Cina.
Baca juga: Trump Sebut Gencatan Senjata di Fase Kritis, Iran Siap dengan Apa Pun yang Terjadi
Posisi Xi Jinping di Atas Angin
Analis politik internasional menyebut Trump sedang berada dalam posisi "lemah" saat menginjakkan kaki di China.
Penyebab utamanya adalah fokus Washington yang terbelah akibat perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Konflik di Timur Tengah tersebut tidak hanya menguras logistik militer AS, tetapi juga memicu lonjakan harga energi di dalam negeri Amerika yang membuat popularitas Trump di mata pemilih domestik mulai goyah.
Di sisi lain, Beijing tampak lebih percaya diri.
Salah satu "kartu as" yang dipegang Xi Jinping adalah dominasi Tiongkok atas rantai pasok logam tanah jarang.
Mineral kritis ini sangat dibutuhkan oleh industri teknologi dan pertahanan AS.
"Dengan menahan ekspor tanah jarang, Tiongkok berhasil memaksa AS untuk duduk di meja perundingan dan melunakkan kebijakan tarifnya," tulis laporan South China Morning Post.
Keberhasilan ini memberikan Tiongkok daya tawar yang lebih besar dibandingkan periode pemerintahan Trump yang pertama.
Tekanan ekonomi juga menjadi faktor penentu.
Harga bensin di Amerika Serikat telah melambung melewati angka $4,50 per galon akibat gangguan di Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat inflasi tak terkendali.
Trump sangat membutuhkan kemenangan cepat di Beijing — baik berupa komitmen pembelian pesawat Boeing maupun produk pertanian — untuk menenangkan pasar dan menurunkan tensi ekonomi di dalam negeri.
Namun, Xi Jinping bukanlah lawan yang mudah.
Beijing diprediksi akan menuntut konsesi besar, terutama terkait isu Taiwan dan pelonggaran sanksi terhadap perusahaan teknologi Tiongkok, sebelum memberikan bantuan apa pun untuk menstabilkan pasar global.
(Tribunnews.com/Whiesa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-menyapa-Presiden-Tiongkok-Xi-Jinping-sebe.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.