Rabu, 13 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Naik Pitam! Ancam Beri 'Pelajaran Tak Terlupakan' ke AS Usai Tolak Proposal Perdamaian

Iran murka usai proposal damai ditolak Trump. Teheran ancam beri “pelajaran tak terlupakan”, dunia khawatir konflik Timur Tengah meluas.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Iran murka setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian Teheran yang berisi penghentian perang, pencabutan sanksi, dan pemulihan keamanan Selat Hormuz.
  • Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengancam siap memberi “pelajaran tak terlupakan” kepada setiap agresi AS.
  • Ketegangan AS-Iran memicu kekhawatiran perang lebih besar di Timur Tengah karena dapat mengganggu jalur minyak dunia di Selat Hormuz serta mengguncang ekonomi dan harga energi global

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak proposal terbaru yang diajukan Teheran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Media-media Iran melaporkan proposal tersebut memuat sejumlah poin penting, mulai dari penghentian perang secara permanen, pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, hingga pemulihan keamanan maritim di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Namun, proposal itu ditolak mentah-mentah oleh Trump. Presiden AS tersebut bahkan menyebut usulan Teheran sebagai proposal yang “sama sekali tidak dapat diterima”.

Penolakan tersebut langsung memicu respons keras dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf. Ia menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan berbagai opsi untuk menghadapi kemungkinan eskalasi baru di kawasan Timur Tengah.

Menurut Qalibaf, pihak-pihak yang mencoba menekan Teheran akan “terkejut” dengan respons yang dapat diambil Iran apabila situasi kembali memanas.

Ia juga memperingatkan bahwa negaranya siap memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” terhadap setiap bentuk agresi yang diarahkan kepada Iran.

Gertakan itu disampaikan Qalibaf melalui media sosial X dan kemudian dikutip oleh Anadolu Agency pada Selasa (12/5/2026).

“Angkatan bersenjata kita siap memberi pelajaran yang tak terlupakan kepada setiap agresi,” tulis Qalibaf.

Situasi ini juga memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi meningkatnya konflik militer di Timur Tengah, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak global.

Konflik Bermula dari Serangan AS dan Israel

Ketegangan terbaru ini merupakan lanjutan dari konflik besar yang pecah sejak 28 Februari 2026 lalu.

Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran yang disebut berkaitan dengan ancaman keamanan di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Perang Iran: Trump Sebut Gencatan Senjata “Di Ujung Tanduk”

Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran dengan menargetkan kepentingan Israel dan sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. 

Situasi yang terus memanas membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam tekanan tinggi akibat ancaman konflik terbuka.

Di tengah eskalasi tersebut, Iran sempat mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi lintasan utama distribusi minyak global. 

Penutupan jalur tersebut sempat mengguncang pasar energi internasional karena sebagian besar ekspor minyak dunia melewati kawasan itu.

Namun, ketegangan kembali meningkat setelah sejumlah pejabat Amerika Serikat mengungkap bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi untuk melanjutkan serangan terhadap Iran.

Trump Pertimbangkan Serangan Baru ke Teheran

Menurut laporan Al Arabiya, Trump menggelar rapat tingkat tinggi bersama jajaran tim keamanan nasionalnya pada Senin (11/5/2026) waktu setempat. 

Pertemuan tersebut membahas berbagai opsi militer yang dapat diambil Washington setelah gencatan senjata dinilai tidak menghasilkan kemajuan signifikan.

Hal itu turut dikonfirmasi sejumlah pejabat AS yang identitasnya dirahasiakan, menyebut pemerintahan Trump masih memandang Iran sebagai ancaman terhadap kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Terbukti, dalam beberapa hari terakhir, militer AS juga dilaporkan kembali menyerang sejumlah aset militer Iran setelah Washington menuding Teheran mengancam kapal-kapal Amerika yang melintas di kawasan Teluk Persia.

Hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda kedua negara akan mencapai kesepakatan permanen. Pernyataan keras dan ancaman balasan dari kedua pihak justru memperlihatkan bahwa situasi masih sangat rentan berubah menjadi konfrontasi terbuka sewaktu-waktu.

Dunia Khawatir Konflik Berubah Jadi Perang Terbuka

Meningkatnya tensi antara Iran dan AS kembali memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi perang yang lebih besar di Timur Tengah.

Sejumlah pengamat menilai konflik antara Iran dan AS tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan regional, tetapi juga berpotensi mempengaruhi perekonomian global. Salah satu perhatian utama dunia internasional adalah keamanan jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan utama distribusi minyak dunia. 

Gangguan di kawasan tersebut dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok energi internasional.

Meningkatnya ketegangan juga membuat banyak negara mulai mencermati kemungkinan dampak lanjutan terhadap perdagangan internasional, investasi global, hingga stabilitas pasar keuangan dunia.

Di tengah situasi yang belum menentu, para analis menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih terbuka, namun hubungan kedua negara saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif. Setiap keputusan politik maupun langkah militer dari Washington dan Teheran dinilai dapat memperbesar risiko konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.

(Tribunnews.com / Namira)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved