Selasa, 19 Mei 2026

Aktivis dan Jurnalis RI Ditangkap Israel

Tiga Jurnalis Indonesia Ditangkap Israel, GPCI: Ada 11 Kapal Dibajak di Laut Internasional

Siaga 1 di Mediterania! Angkatan Laut Israel bajak 11 kapal bantuan kemanusiaan. Tiga jurnalis nasional dilaporkan ikut ditangkap.

Tayang:
Penulis: willy Widianto
Instagram @globalpeaceconvoy
MENCEKAM — Detik-detik militer Israel (IDF) menyerbu kapal misi kemanusiaan di perairan internasional lepas pantai Siprus yang berujung penangkapan sembilan WNI, termasuk jurnalis. Seluruh relawan ditahan saat mengawal pasokan bantuan logistik dalam misi kemanusiaan ke Jalur Gaza, Palestina. 

Ringkasan Berita:
  • Krisis laut lepas! Situasi dinyatakan Siaga 1 setelah Angkatan Laut Israel mencegat paksa armada kemanusiaan global.
  • Laporan terbaru mencatat 11 kapal telah dibajak di perairan internasional, termasuk satu kapal pembawa delegasi Indonesia yang disergap.
  • Antisipasi situasi darurat, pos komando GPCI langsung gerakkan koordinasi diplomatik via Yordania, Mesir, dan Turki.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Situasi di Laut Lepas Mediterania dinyatakan berada dalam status Siaga 1 setelah Angkatan Laut Israel melakukan pencegatan paksa (interception) terhadap armada kapal Global Sumud Flotilla.

Hingga Senin (18/5/2026) sore, dilaporkan sedikitnya 11 dari 61 kapal kemanusiaan internasional telah dibajak di perairan laut internasional.

Satu kapal bernama Kapal Joseph, yang mengangkut delegasi kemanusiaan serta tiga jurnalis asal Indonesia, saat ini terkonfirmasi turut menjadi target pembajakan dan penahanan oleh militer setempat.

Kapal Delegasi Indonesia Berstatus Siaga 1

Ketegangan bermula ketika armada yang membawa 450 relawan dari berbagai negara tersebut diadang di tengah laut. Berdasarkan laporan berkala dari Media Crisis Center Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) di Jakarta, komunikasi terputus setelah militer melakukan penyergapan bersenjata.

Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, mengecam keras operasi militer sepihak yang dilakukan oleh angkatan laut asing tersebut di wilayah perairan internasional.

“Ini menjadi ancaman nyata dari militer zionis yang secara terang-terangan memotong laju kapal berlayar. Di sini, kami mulai mendapat kabar bahwa militer Zionis mulai mencegat kapal-kapal yang berlayar menembus blokade Gaza tersebut,” ujar Maimon Herawati kepada Tribunnews.com, Senin (18/5/2026).

“Sekitar jam dua siang tadi, Kapal Tabariyya (Cactus) mendapat intercepted [dicegat]. Ini dapat dikatakan kondisi Siaga 1 bagi para relawan Global Sumud Flotilla,” tambahnya.

Baca juga: DPR Minta Pemerintah Segera Upayakan Pembebasan Dua Jurnalis Republika Ditangkap Israel

Tiga Jurnalis Media Nasional Ikut Ditawan

GPCI mengonfirmasi terdapat puluhan delegasi domestik yang ikut berlayar dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza tersebut.

Rombongan terdiri dari gabungan lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, SMART 171, serta tiga jurnalis media nasional yang melekat melakukan peliputan dari Harian Republika, iNews, dan Tempo.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Irvan Nugraha, menyatakan bahwa aksi pembajakan massal bersenjata ini berpotensi mengancam keselamatan seluruh relawan sipil internasional yang tersisa di lautan.

"Ini tindakan yang melanggar hukum humaniter internasional. Mengingat setelah cegatan terhadap Kapal Tabariyya, tentu juga akan mengancam kapal-kapal lain yang berlayar untuk misi kemanusiaan tersebut," papar Irvan Nugraha.

Jalur Koordinasi Darurat Tiga Negara Diaktifkan

Menyikapi krisis luar negeri yang genting ini, GPCI langsung mengaktifkan langkah-langkah kontinjensi dan pengamanan darurat bagi para Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di perairan internasional tersebut.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Ahmad Juwaini, menyatakan pihaknya kini tengah bergerak cepat membangun komunikasi dengan jaringan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di tiga negara yang menjadi jalur diplomasi utama, yakni Yordania, Mesir, dan Turki.

“GPCI meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri [Kemlu RI] untuk mengupayakan jaminan perlindungan, keselamatan, serta langkah diplomatik maksimal bagi delegasi Indonesia apabila mengalami penyergapan maupun penahanan secara paksa saat menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Karena dunia internasional wajib bertindak untuk menghentikan kejahatan perang yang dilakukan Israel,” tegas Ahmad Juwaini.

Baca juga: Kemlu RI Ungkap 7 dari 14 WNI Korban Kapal Karam di Perairan Malaysia Ditemukan Tak Bernyawa

Sebagai langkah penanganan lanjutan di dalam negeri, Command Center Lead GPCI, Jajang Nurjaman, memastikan bahwa posko pusat di Jakarta juga memberikan pendampingan menyeluruh bagi keluarga delegasi di tanah air, termasuk layanan informasi berkala serta bantuan psikologis.

“Keselamatan delegasi Indonesia menjadi prioritas utama. Karena itu kami telah menyiapkan jalur koordinasi darurat dan pendampingan menyeluruh apabila terjadi eskalasi situasi di lapangan,” pungkas Jajang.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved