Iran Vs Amerika Memanas
Jubir Kemlu Iran Singgung Memori Kekalahan Romawi Usai Trump Tebar Ancaman
Ketegangan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas lewat retorika politik dan analogi sejarah.
Ringkasan Berita:
- Pernyataan bernada peringatan ini dikeluarkan Iran setelah kedua negara dikabarkan semakin dekat untuk menyepakati draf nota kesepahaman
- Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei mengungkit kembali lembaran sejarah runtuhnya ilusi kemenangan Kekaisaran Romawi saat mencoba menaklukkan Persia, kini Iran
- Trump tetap mempertahankan posisi kerasnya dengan menebar ancaman baru yang membuat atmosfer gencatan senjata kembali tegang
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas lewat retorika politik dan analogi sejarah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, baru-baru ini melontarkan sindiran tajam melalui platform X seperti dikutip Press TV.
Ia mengungkit kembali lembaran sejarah runtuhnya ilusi kemenangan Kekaisaran Romawi saat mencoba menaklukkan Persia, kini Iran.
Baca juga: Donald Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Sedang Dinegosiasikan, Selat Hormuz Akan Dibuka
Baghaei mengisahkan momen ketika Kaisar Romawi, Marcus Julius Philippus, memimpin kampanye militer ke timur melawan Dinasti Sassanid Persia.
Bukannya membawa kemenangan, invasi tersebut justru berakhir dengan perdamaian yang didikte langsung oleh persyaratan dari pihak Sassanid.
"Dalam benak Romawi, mereka adalah pusat dunia yang tak terbantahkan. Namun, bangsa Iran menghancurkan ilusi tersebut. Sang kaisar pada akhirnya harus tunduk pada kesepakatan!" tulis Baghaei.
Pernyataan bernada peringatan ini dikeluarkan Iran setelah kedua negara dikabarkan semakin dekat untuk menyepakati draf nota kesepahaman.
Nota kesepahaman ini diproyeksikan untuk menghentikan agresi militer, mengakhiri blokade laut AS di Selat Hormuz, serta mencairkan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh Washington.
Presiden AS Donald Trump sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait analogi sejarah yang dilontarkan pihak Teheran.
Kendati demikian, dalam sebuah wawancara telepon dengan Axios, Trump tetap mempertahankan posisi kerasnya dengan menebar ancaman baru yang membuat atmosfer gencatan senjata yang telah berjalan hampir dua bulan ini kembali tegang.
Seperti dikutip NBC News, Trump menyatakan bahwa peluang saat ini berada di angka "50/50", antara melahirkan kesepakatan yang baik atau AS akan menghancurkan mereka (Iran) hingga berkeping-keping.
"Aspek dan detail akhir dari kesepakatan ini sedang didiskusikan dan akan diumumkan dalam waktu dekat," ujar Trump melalui unggahan di platform Truth Social.
Ia menambahkan bahwa jika kesepakatan tercapai, salah satu poin krusialnya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz bagi jalur perdagangan global.
Guna mematangkan draf ini, Trump mengaku telah melakukan panggilan telepon yang positif dengan para pemimpin negara-negara kunci, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, serta Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani yang bertindak sebagai mediator.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Amerika-Serikat-dan-Iran-bendera-1.jpg)