Selasa, 2 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Ancam Serangan Besar tapi Tak Kunjung Terjadi, Ukraina Sebut Ini Permainan Psikologis

Para pejabat Ukraina menganggap Rusia mungkin menunda serangannya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap warga Ukraina.

Tayang:
Kremlin
TENTARA RUSIA - Foto prajurit Rusia yang berbaris dalam parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Raya di Lapangan Merah, Moskow, Rusia pada 9 Mei 2026. - Para pejabat Ukraina menganggap Rusia mungkin menunda serangannya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap warga Ukraina. 
Ringkasan Berita:
  • Wakil Kepala Markas Koordinasi Tawanan Perang Ukraina, Andrii Yusov, mengatakan Rusia sengaja memberi sinyal kesiapan menyerang lalu menunda serangan untuk meningkatkan ketegangan dan tekanan psikologis ke warga Ukraina.
  • Sementara itu, Rusia mengklaim tidak menyerang Kyiv pada akhir pekan karena "gencatan senjata Hari Trinitas", tetapi klaim tersebut dibantah pejabat Ukraina.
  • Kepala Kantor Presiden Ukraina Kyrylo Budanov menegaskan tidak ada informasi mengenai gencatan senjata tersebut.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.560 pada Selasa (2/6/2026).

Wakil Kepala Markas Koordinasi untuk Penanganan Tawanan Perang Ukraina, Andrii Yusov, mengatakan Rusia memanfaatkan kombinasi tekanan militer dan psikologis dengan memberi sinyal kesiapan untuk menyerang, lalu menunda atau menghentikan serangan tersebut.

"Mengenai serangan, ya, tentu saja, orang-orang sedang mempersiapkan diri untuk serangan, dan mereka benar melakukannya. Kami tidak pernah melakukan latihan siaga serangan udara sejak dimulainya invasi skala penuh. Dan tentu saja ini juga merupakan alat tekanan dan pengaruh psikologis: memberi sinyal kesiapan untuk menyerang, kemudian menunda atau menangguhkan serangan," kata Andrii Yusov.

Menurutnya, taktik ini bertujuan meningkatkan ketegangan dan kelelahan mental warga Ukraina yang telah hidup dalam kondisi perang selama lebih dari empat tahun.

Meski demikian, Yusov menegaskan pasukan keamanan dan pertahanan Ukraina tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu menanggapi peringatan serangan udara dengan serius dan mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku.

Pernyataan itu muncul setelah media Rusia melaporkan bahwa Moskow tidak melancarkan serangan ke Kyiv pada akhir pekan sebagai bagian dari apa yang disebut "gencatan senjata Trinitas".

Ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yuri Ushakov, mengklaim usulan tersebut telah disampaikan kepada utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, dan diteruskan kepada Presiden Donald Trump.

Namun, pihak Ukraina membantah klaim tersebut. Penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Dmytro Lytvyn, menegaskan tidak ada bukti bahwa Rusia secara sukarela menunda serangan terhadap wilayah Ukraina.

Baca juga: Zelenskyy Tuduh Rusia Latih Anak-anak Ukraina untuk Lawan Negaranya Sendiri

Ukraina Bantah Klaim Rusia Tunda Serangan karena Gencatan Senjata Hari Trinitas

Kepala Kantor Presiden Ukraina, Kyrylo Budanov, membantah laporan yang menyebut Rusia menunda serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap Ukraina karena gencatan senjata Hari Trinitas yang diusulkan Kremlin.

Sebelumnya, sejumlah media melaporkan bahwa ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yuri Ushakov, mengklaim Moskow tidak mengeluarkan perintah serangan jarak jauh selama perayaan Hari Trinitas.

Namun, baik Rusia maupun Ukraina tidak pernah secara resmi mengonfirmasi adanya gencatan senjata tersebut.

Budanov menegaskan bahwa dirinya tidak menerima informasi apa pun mengenai rencana penghentian serangan sementara itu.

"Saya belum menerima informasi apa pun mengenai gencatan senjata untuk Minggu Trinitas. Selain itu, Anda dapat melihat seberapa banyak wilayah yang dihantam oleh Federasi Rusia kemarin dan berapa banyak korban jiwa yang ada," ujarnya dalam Forum Arsitektur Keamanan di Kyiv, Senin (1/6/2026).

Sebelumnya, saluran pemantau militer Ukraina telah memperingatkan adanya potensi serangan besar Rusia pada 30–31 Mei, terutama setelah Moskow mengancam akan melancarkan "serangan beruntun dan sistematis" terhadap fasilitas industri pertahanan Ukraina di Kyiv.

Meski serangan skala besar yang diperkirakan itu tidak terjadi, Ukraina menegaskan tidak ada bukti bahwa Rusia benar-benar memberlakukan gencatan senjata selama akhir pekan tersebut, lapor The Moscow Times.

Zelenskyy Ulangi Peringatannya soal Serangan Besar Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali memperingatkan bahwa Rusia tengah mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina.

Zelenskyy mengatakan informasi intelijen mengenai ancaman tersebut masih berlaku dan pasukan pertahanan udara Ukraina saat ini berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan kapan saja.

"Peringatan intelijen tentang serangan Rusia tetap berlaku. Serangan besar-besaran bisa terjadi - mereka telah mempersiapkannya. Pasukan pertahanan udara kita siap 24/7 sebisa mungkin dengan persediaan yang tersedia," kata Zelenskyy, Senin (1/6/2026).

Peringatan itu muncul setelah Rusia mengancam akan memperluas serangan ke Kyiv dan berbagai fasilitas strategis Ukraina.

Ancaman tersebut disampaikan menyusul tuduhan Moskow bahwa Ukraina menyerang gedung pendidikan dan asrama di Starobilsk, wilayah Luhansk yang saat ini diduduki Rusia.

Namun, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa serangan mereka sebenarnya menargetkan markas unit militer Rusia "Rubicon", yang disebut bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap warga sipil Ukraina.

Pada 25 Mei, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan akan melancarkan serangan sistematis terhadap perusahaan-perusahaan industri pertahanan Ukraina, khususnya di Kyiv. Moskow juga mengancam akan menyerang apa yang disebut sebagai "pusat-pusat pengambilan keputusan" dan pos-pos komando militer Ukraina.

Dalam percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Rusia menyampaikan bahwa serangan terhadap berbagai fasilitas di Kyiv merupakan respons atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia.

Moskow bahkan menyarankan negara-negara asing mempertimbangkan evakuasi personel diplomatik mereka dari Kyiv. Namun, Rubio menilai kekhawatiran tersebut berlebihan.

Ancaman Rusia mendapat kecaman dari sejumlah negara Barat. Kedutaan Besar Prancis dan Polandia di Kyiv menegaskan tetap menjalankan tugas diplomatiknya seperti biasa dan tidak akan terpengaruh oleh tekanan Rusia. Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Maternova, menyebut ancaman terhadap diplomat sebagai tanda keputusasaan Moskow.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Ukraina menilai langkah Rusia sebagai bentuk pemerasan dan eskalasi konflik. Kyiv mendesak para mitra internasional untuk tidak memberikan konsesi kepada Moskow, melainkan meningkatkan dukungan militer dan bantuan pertahanan bagi Ukraina.

Di sisi lain, Kuasa Usaha Amerika Serikat untuk Ukraina, Julie Davis, turut mengecam serangan Rusia terhadap Kyiv yang sebelumnya merusak museum, stasiun metro, bangunan tempat tinggal, dan berbagai objek sipil lainnya.

Ukraina Ingin Akhiri Perang dengan Rusia Sebelum Musim Dingin

Kyrylo Budanov, mantan kepala intelijen Ukraina yang kini menjabat sebagai kepala staf Presiden Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa mengakhiri perang sebelum musim dingin merupakan target yang realistis.

Menurutnya, hal tersebut merupakan instruksi langsung dari Presiden Zelenskyy agar perang segera diakhiri melalui jalur diplomasi maupun negosiasi.

"Ini adalah instruksi presiden – untuk mencoba mengakhiri perang ini sesegera mungkin. Sebaiknya sebelum musim dingin. Sebagai kepala Kantor Presiden, saya akan melakukan segala yang saya bisa untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh presiden Ukraina. Ini benar-benar tepat, tepat waktu, dan telah dipikirkan dengan matang," kata Budanov, Senin.

Ia mengatakan sudah ada tanda-tanda nyata penghentian permusuhan, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Pernyataan itu muncul setelah Zelenskyy kembali mendorong dimulainya pembicaraan damai dengan Rusia sebelum musim dingin tiba. Ia menilai posisi Ukraina saat ini lebih baik dibanding sebelumnya sehingga dapat menjadi modal penting dalam proses perundingan.

Seorang komandan senior Ukraina bahkan menyebut negaranya memiliki waktu sekitar enam bulan untuk memperkuat posisi di medan perang sebelum memasuki tahap negosiasi yang lebih serius.

Budanov juga mengungkapkan bahwa delegasi Amerika Serikat diperkirakan akan mengunjungi Moskow dan Kyiv dalam waktu dekat guna mendukung upaya diplomasi, meskipun ia tidak menjelaskan detail agenda kunjungan tersebut.

Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Warga Diminta Berlindung

Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan besar-besaran Rusia pada Selasa pagi. Otoritas setempat segera mengeluarkan peringatan kepada warga untuk mencari tempat perlindungan dari ancaman rudal dan drone.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan sejumlah kebakaran terjadi akibat puing-puing rudal yang jatuh. Sebuah gedung apartemen sembilan lantai terbakar setelah bagian atapnya terkena serpihan rudal.

Selain itu, beberapa kendaraan di Distrik Obolon juga dilaporkan terbakar akibat jatuhnya puing-puing serangan.

Jurnalis Reuters dan AFP di lokasi melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Ukraina aktif bekerja untuk menghadang serangan tersebut. Presiden Zelenskyy sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan adanya serangan besar Rusia dan meminta masyarakat untuk selalu memperhatikan peringatan serangan udara.

Prancis Tahan Kapal Tanker yang Diduga Bagian dari "Armada Bayangan" Rusia

Prancis menahan sebuah kapal tanker minyak bernama Tagor yang diduga merupakan bagian dari "armada bayangan" Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kapal tersebut ditahan di Samudra Atlantik, lebih dari 740 kilometer di barat Brittany, dengan bantuan Inggris dan sejumlah mitra internasional lainnya.

Kapal tersebut diketahui berangkat dari Murmansk, Rusia, dan diduga menggunakan bendera Kamerun palsu saat menuju Afrika.

Pemerintah Prancis menegaskan kapal itu akan diperiksa lebih lanjut karena dicurigai melanggar hukum maritim internasional.

Macron menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan sesuai hukum laut internasional dan bertujuan mencegah upaya penghindaran sanksi yang dapat membantu pembiayaan perang Rusia di Ukraina.

Sementara itu, Rusia mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pembajakan.

Ukraina Klaim Berhasil Menekan Jalur Logistik Rusia

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa militer Ukraina kini mampu menyerang jalur logistik Rusia hampir di seluruh wilayah Ukraina yang masih diduduki pasukan Moskow.

Menurut Zelenskyy, kemampuan serangan jarak jauh Ukraina telah berkembang pesat sehingga hampir tidak ada lagi jalur aman bagi pasukan Rusia di wilayah selatan dan timur Ukraina.

Serangan terhadap jalur logistik dinilai sangat penting karena dapat menghambat pengiriman pasukan, amunisi, dan perlengkapan militer Rusia ke garis depan pertempuran.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ukraina berupaya meningkatkan tekanan militer terhadap Rusia sambil mempersiapkan posisi yang lebih kuat dalam kemungkinan perundingan damai mendatang.

Rusia Hadapi Krisis Bahan Bakar Akibat Dampak Perang

Pemerintah Rusia dilaporkan tengah menghadapi masalah pasokan bahan bakar dalam negeri. Untuk mengatasi situasi tersebut, Moskow berencana meningkatkan impor bahan bakar dari Belarus serta memperketat pengawasan ekspor bensin dan solar.

Media Rusia RBC melaporkan bahwa pemerintah bahkan sedang mempertimbangkan larangan total ekspor bensin selama dua bulan. Selain itu, Rusia juga telah melarang ekspor bahan bakar penerbangan hingga akhir November 2026.

Di wilayah Krimea yang diduduki Rusia, khususnya di Sevastopol, pemerintah setempat mulai memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar kepada masyarakat. Kelangkaan tersebut disebut berkaitan dengan serangan Ukraina yang mengganggu jalur distribusi dan fasilitas energi Rusia.

Puluhan Negara di PBB Kecam Rusia Setelah Drone Hantam Rumania

Sebanyak 56 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk negara-negara Uni Eropa dan NATO, mengecam Rusia setelah sebuah drone Rusia dilaporkan menghantam gedung apartemen di Rumania.

Insiden tersebut menyebabkan dua orang terluka dan memicu kekhawatiran internasional karena Rumania merupakan anggota NATO.

Menteri Luar Negeri Rumania, Oana-Silvia Toiu, menyampaikan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat diterima menurut hukum internasional.

Negara-negara yang mendukung pernyataan tersebut mendesak Rusia menghentikan tindakan yang berpotensi memperluas konflik di luar wilayah Ukraina dan meningkatkan ketegangan keamanan di Eropa.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer ke berbagai wilayah Ukraina.

Namun, penyebab konflik ini sebenarnya sudah muncul sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada tahun 1991. Setelah merdeka, Ukraina mulai menjalankan kebijakan politik dan hubungan luar negeri secara mandiri.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa.

Ukraina juga menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO, yaitu aliansi pertahanan yang beranggotakan sejumlah negara Barat. Rusia menganggap langkah tersebut dapat mengancam keamanan dan kepentingannya di kawasan.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan di Ukraina. Peristiwa itu menyebabkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal dekat dengan Rusia, kehilangan jabatannya.

Tidak lama kemudian, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk di kawasan Donbas. Sejak saat itu, konflik bersenjata di wilayah tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Berbagai usaha perdamaian sempat dilakukan, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, kesepakatan tersebut sulit dijalankan karena Rusia dan Ukraina saling menuduh telah melanggar perjanjian.

Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer di Ukraina. Rusia menyatakan tindakan tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina dan mencegah perluasan NATO. Namun, Ukraina dan banyak negara Barat menilai tindakan itu sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara Ukraina.

Sejak perang dimulai, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutu memberikan bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan kepada Ukraina. Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menargetkan sektor ekonomi, keuangan, dan energinya.

Perang ini tidak hanya berdampak pada Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi banyak negara di dunia. Konflik tersebut menyebabkan gangguan pasokan energi dan pangan global serta meningkatkan ketegangan politik internasional.

Hingga sekarang, pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencapai gencatan senjata dan perdamaian yang berkelanjutan.

Upaya pembicaraan yang sebelumnya ditengahi oleh AS kini mandek setelah AS meluncurkan agresi terhadap Iran yang membuatnya memprioritaskan konflik tersebut yang hingga saat ini belum berakhir.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved