Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Sepihak, Desak Komitmen Jelas dari Israel
Hizbullah menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata yang hanya mengikat satu pihak. Kelompok tersebut menuntut komitmen penuh Israel
Ringkasan Berita:
- Hezbollah menolak penerapan gencatan senjata yang bersifat sepihak di Lebanon.
- Kelompok itu menuntut penghentian serangan Israel melalui darat, udara, dan laut serta penarikan pasukan dari wilayah Lebanon.
- Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Israel dan Hezbollah telah sepakat menghentikan serangan melalui jalur mediasi.
TRIBUNNEWS.COM - Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menerima gencatan senjata yang bersifat sepihak di Lebanon.
Menurutnya, setiap kesepakatan penghentian konflik harus mencakup komitmen yang jelas dan setara dari Israel.
Dalam wawancara dengan Al-Manar TV pada Senin, Fadlallah mengatakan posisi Lebanon saat ini berfokus pada gencatan senjata menyeluruh yang mencakup operasi darat, udara, dan laut.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai syarat penting untuk mewujudkan penarikan pasukan Israel serta memungkinkan warga yang mengungsi kembali ke desa-desa mereka.
Fadlallah menambahkan bahwa tuntutan tersebut telah disampaikan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses mediasi.
Selain penghentian operasi militer, ia juga meminta adanya komitmen eksplisit dari Israel untuk menghentikan penghancuran rumah-rumah di wilayah Lebanon selatan.
Menurutnya, Hezbollah akan mematuhi setiap perjanjian yang disepakati apabila Israel terlebih dahulu menunjukkan kepatuhan terhadap ketentuan yang sama.
Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menerima situasi di mana hanya satu pihak yang diwajibkan menjalankan gencatan senjata.
Fadlallah juga menyinggung peran Iran dalam perkembangan terbaru konflik tersebut.
Ia menyatakan bahwa tekanan dan ancaman dari Teheran untuk menangguhkan pembicaraan diplomatik turut memengaruhi perubahan arah situasi di kawasan.
Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Israel dan Hezbollah telah menyetujui penghentian serangan melalui komunikasi yang dilakukan lewat perantara.
Trump menyebut dirinya telah menerima jaminan dari kedua pihak bahwa seluruh aksi penembakan akan dihentikan.
Meski demikian, serangan militer Israel di Lebanon masih berlanjut setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang selama 45 hari melalui pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat.
Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan lebih dari 3.400 orang tewas dalam serangan yang terjadi sejak 2 Maret.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemakaman-Petinggi-Hizbullah-yang-Dibunuh-Israel_20251125_200702.jpg)