Jumat, 5 Juni 2026

Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Sepihak, Desak Komitmen Jelas dari Israel

Hizbullah menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata yang hanya mengikat satu pihak. Kelompok tersebut menuntut komitmen penuh Israel

Tayang:
/Bilal Jawich
PEMAKAMAN - Warga menghadiri pemakaman korban tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, 24 November 2025. Serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut menewaskan komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Al-Tabtabi, pada 23 November, menurut militer Israel dan kelompok Lebanon tersebut. Serangan ini merupakan pembunuhan tingkat tinggi yang semakin memperkeruh gencatan senjata yang telah berlangsung selama setahun. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan tersebut menghantam sebuah apartemen di Haret Hreik, menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 28 lainnya. (Xinhua/Bilal Jawich) 

Ringkasan Berita:
  • Hezbollah menolak penerapan gencatan senjata yang bersifat sepihak di Lebanon.
  • Kelompok itu menuntut penghentian serangan Israel melalui darat, udara, dan laut serta penarikan pasukan dari wilayah Lebanon.
  • Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Israel dan Hezbollah telah sepakat menghentikan serangan melalui jalur mediasi.

 

TRIBUNNEWS.COM - Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menerima gencatan senjata yang bersifat sepihak di Lebanon.

Menurutnya, setiap kesepakatan penghentian konflik harus mencakup komitmen yang jelas dan setara dari Israel.

Dalam wawancara dengan Al-Manar TV pada Senin, Fadlallah mengatakan posisi Lebanon saat ini berfokus pada gencatan senjata menyeluruh yang mencakup operasi darat, udara, dan laut.

Ia menyebut langkah tersebut sebagai syarat penting untuk mewujudkan penarikan pasukan Israel serta memungkinkan warga yang mengungsi kembali ke desa-desa mereka.

Fadlallah menambahkan bahwa tuntutan tersebut telah disampaikan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses mediasi.

Selain penghentian operasi militer, ia juga meminta adanya komitmen eksplisit dari Israel untuk menghentikan penghancuran rumah-rumah di wilayah Lebanon selatan.

Menurutnya, Hezbollah akan mematuhi setiap perjanjian yang disepakati apabila Israel terlebih dahulu menunjukkan kepatuhan terhadap ketentuan yang sama.

Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menerima situasi di mana hanya satu pihak yang diwajibkan menjalankan gencatan senjata.

Fadlallah juga menyinggung peran Iran dalam perkembangan terbaru konflik tersebut.

Ia menyatakan bahwa tekanan dan ancaman dari Teheran untuk menangguhkan pembicaraan diplomatik turut memengaruhi perubahan arah situasi di kawasan.

Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Israel dan Hezbollah telah menyetujui penghentian serangan melalui komunikasi yang dilakukan lewat perantara.

Trump menyebut dirinya telah menerima jaminan dari kedua pihak bahwa seluruh aksi penembakan akan dihentikan.

Meski demikian, serangan militer Israel di Lebanon masih berlanjut setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang selama 45 hari melalui pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat.

Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan lebih dari 3.400 orang tewas dalam serangan yang terjadi sejak 2 Maret.

(*)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved