Selasa, 9 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Melonjak! Serangan Netanyahu ke Iran dan Lebanon Guncang Pasar Dunia

Harga minyak dunia melonjak usai Israel serang Iran dan Lebanon. Ancaman krisis energi global hingga gangguan Selat Hormuz makin dikhawatirkan.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen setelah Israel menyerang fasilitas petrokimia Mahshahr di Iran dan target militer lainnya. 
  • Serangan Israel dilakukan sebagai balasan atas rudal balistik Iran, meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya meminta Benjamin Netanyahu menahan diri demi menjaga peluang gencatan senjata.
  • Pasar global semakin cemas karena ancaman gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah konflik di Timur Tengah semakin memanas akibat serangan Israel ke fasilitas strategis Iran dan wilayah Lebanon.

Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan energi global dan stabilitas ekonomi dunia.

Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik lebih dari 4 persen dan menyentuh level 96,15 dolar AS per barel.

Sementara mengutip The Guardian minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat ikut melonjak menjadi 93,48 dolar AS per barel.

Lonjakan harga terjadi setelah Israel mengkonfirmasi serangan terhadap kompleks petrokimia Mahshahr di barat daya Iran, bersamaan dengan operasi militer lain yang menargetkan fasilitas pendukung militer Teheran.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konflik Israel-Iran kini telah memasuki fase yang lebih berbahaya karena mulai menyasar infrastruktur energi strategis.

Israel Serang Pabrik Petrokimia Iran

Militer Israel menyebut serangan dilakukan sebagai respons atas peluncuran rudal balistik Iran ke wilayah Israel beberapa waktu sebelumnya.

Kompleks petrokimia Mahshahr diketahui merupakan salah satu pusat industri energi terpenting Iran. Selain menjadi kawasan produksi petrokimia besar, fasilitas tersebut juga berperan penting terhadap pendapatan ekonomi negara.

Pejabat provinsi Iran mengatakan sebagian area pabrik mengalami kerusakan akibat serangan udara tersebut. Media pemerintah Iran bahkan melaporkan sedikitnya lima jalur produksi terkena hantaman proyektil.

Baca juga: Trump Tegur Netanyahu: Saya Bosnya, Bukan Anda, Kesepakatan Iran Ditentukan AS

Bagi Israel, menyerang fasilitas strategis seperti Mahshahr dinilai dapat memberikan tekanan besar kepada Iran, baik secara ekonomi maupun logistik militer.

Selain alasan keamanan, Israel juga disebut ingin membatasi pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. 

Selama ini Iran dikenal mendukung kelompok bersenjata seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman yang dianggap mengancam keamanan Israel.

Karena itu, Israel berupaya melemahkan sumber kekuatan ekonomi Iran, terutama sektor energi yang menjadi tulang punggung pendapatan negara tersebut.

Trump Minta Netanyahu Menahan Diri

Serangan Israel terjadi meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari operasi militer lanjutan.

Trump diketahui tengah mendorong upaya diplomasi demi menjaga peluang terciptanya kesepakatan damai dengan Teheran.

Namun peringatan tersebut tampaknya tidak dihiraukan. Israel justru kembali membombardir fasilitas energi, jalur produksi, dan infrastruktur yang dianggap mendukung aktivitas militer Iran.

Akibat eskalasi terbaru ini, gencatan senjata yang sempat berlangsung sejak April kini berada di ambang kehancuran.

Selat Hormuz Jadi Kekhawatiran Utama Pasar

Bagi pasar energi global, persoalan paling penting bukan hanya perang antara Israel dan Iran, tetapi ancaman terhadap Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur transit utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur laut strategis tersebut.

Sejak perang AS-Iran pecah pada Februari lalu, Iran disebut masih menghambat sebagian arus pelayaran di kawasan itu. Kondisi tersebut membuat distribusi minyak global terganggu dan memicu kekhawatiran besar di pasar internasional.

Jika Selat Hormuz terus mengalami gangguan, banyak negara produsen minyak diperkirakan akan kesulitan mengirim pasokan ke konsumen dunia.

Karena itulah setiap peningkatan ketegangan di kawasan Teluk langsung memicu lonjakan harga minyak dunia.

OPEC+ Tambah Produksi, Tapi Pasar Tetap Cemas

Di tengah meningkatnya konflik, kelompok OPEC+ pada Minggu memutuskan tetap melanjutkan peningkatan produksi minyak untuk bulan keempat secara berturut-turut.

Tujuh anggota inti OPEC+ diperkirakan menaikkan target produksi sekitar 188 ribu barel per hari pada Juli mendatang.

Namun keputusan tersebut belum mampu menenangkan pasar. Pelaku pasar menilai persoalan utama saat ini bukan jumlah produksi minyak, melainkan kemampuan negara-negara produsen untuk benar-benar menyalurkan minyak ke pasar global di tengah konflik yang terus memanas.

Data OPEC menunjukkan produksi kelompok tersebut justru turun tajam sejak perang pecah. Produksi rata-rata anjlok menjadi 33,19 juta barel per hari pada April dari sebelumnya 42,77 juta barel per hari pada Februari.

Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi menghadapi kendala besar akibat terganggunya jalur ekspor minyak. Rusia juga mengalami tekanan setelah sejumlah infrastruktur energinya terkena serangan.

Kondisi ini membuat pasar mulai mengabaikan tambahan kuota produksi OPEC+.

Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan konflik geopolitik terus meningkat, ancaman kekurangan pasokan minyak dunia masih sangat besar.

Situasi tersebut mendorong harga minyak bergerak mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir.

Pengamat menilai jika perang terus meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global melalui lonjakan biaya transportasi, logistik, dan produksi industri.

Di banyak negara, kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi baru dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Hingga kini, dunia internasional masih memantau perkembangan konflik Israel-Iran dengan penuh kekhawatiran karena eskalasi perang dinilai dapat berkembang menjadi krisis energi global yang lebih besar.

(Tribunnews.com / Namira)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved