Fenomena Hujan Merah
Masuk 10 Cuaca Paling Aneh di Dunia
Hujan merah juga digolongkan ke dalam sepuluh cuaca paling aneh di dunia. Dalam bahasa Inggris, hujan ini disebut The Sky is Bleeding
Awalnya, hujan merah diduga terjadi karena debu atau pasir yang tertiup ke atmosfer dan terbawa oleh angin dengan jarak yang sangat jauh, sehingga akhirnya bercampur dengan awan hujan. Teori lain menyebutkan, hujan merah terjadi akibat jatuhan radio aktif ledakan meteor saat menubruk atmosfer bumi.
Baru pada awal tahun 2006, fenomena hujan berwarna ini menjadi perhatian dunia setelah media memberitakan dugaan bahwa partikel-partikel berwarna tersebut berasal dari sel-sel dari luar angkasa. Temuan itu berawal dari peristiwa hujan merah di Kerala tahun 2001.
Contoh air hujan dibawa untuk diteliti oleh Pemerintah India dan ilmuwan mancanegara. Di antara ilmuwan independen yang meneliti fenomena itu adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 kilometer.
Mereka sempat mengira bahwa partikel merah di dalam air itu adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 di mana pasir dari Gurun Sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris.
Namun, mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup. Komposisi sel tersebut terdiri atas 50 persen karbon, 45 persen oksigen dan 5 persen unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri.
Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur di dalam membrannya. Namun, tidak ada nukleus (inti sel) yang dapat diidentifikasi. (Serambinews.com/yocerizal)