Rabu, 27 Mei 2026

Menelusuri Keunikan Gunung Padang

Menikmati Karya Zaman Megalitikum di Puncak Padang

Siang begitu terik pada Sabtu (16/6/2012). Tribun menyusuri jalan sejauh 20 kilometer dari Jalan Raya Sukabumi-Cianjur.

Tayang:
Penulis: Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, CIANJUR - Siang begitu terik pada Sabtu (16/6/2012). Tribun menyusuri jalan sejauh 20 kilometer dari Jalan Raya Sukabumi-Cianjur.

Jalan berkelok-kelok ditambah sebagian yang masih berlubang, seakan menambah perjalanan menjadi begitu berat.

Setelah berjalan sekitar satu jam, keindahan pemandangan pegunungan dan kebun teh yang begitu hijau mulai terasa. Sebuah tempat di selatan Kota Cianjur pun tersinggahi, setelah dua jam perjalanan menggunakan kendaraan.

Warung-warung menyambut di lokasi bersejarah, yang tampak saat akan masuk sebuah pos pendataran, untuk bisa melihat keunikan yang saat ini sudah menjadi pembicaraan ahli-ahli purbakala.

Seorang petugas pun menyodorkan sebuah buku daftar tamu, dan meminta uang tiket masuk Rp 1.000. Saat akan mendaki bukit setinggi 880 meter di atas permukaan laut, sebuah pemandangan menarik yang cukup mengejutkan muncul.

Batu-batu besar berbentuk panjang yang seperti diukir sederhana, langsung menyita perhatian. Itulah batu-batu yang berasal dari zaman megalitikum, yang diukir untuk membuat sebuah pundan berundak-undak di puncak Bukit Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Untuk melihat karya dari zaman batu besar (megalitikum), Anda harus melangkahkan kaki menyusuri tangga yang terbuat dari batu dengan kemiringan sekitar 60 derajat, dan panjang sekitar satu kilometer lebih. Lumayan cukup menguras tenaga bila Anda ingin melihat situs Gunung Padang.

Saat menaiki Gunung Padang, seorang siswa yang akan melihat situs bersejarah pingsan. Ia dikerubungi teman-temannya, yang mencoba memberikan pertolongan supaya sadar.

Kemudian, seorang petugas mendatanginya dan memberikan sebotol air mineral ke teman-teman siswa yang pingsan.

"Mungkin dia kecapaiaan, basuh saja mukanya dengan air ini," ucap seorang petugas menyambangi rombongan siswa SMA dari Sukabumi, yang akan melihat situs Gunung Padang.

Memang cukup berat untuk menaiki Gunung Padang bagi orang-orang yang tidak terbiasa. Namun tak usah khawatir, pengelola Gunung Padang sudah menyiapkan jalan lain yang lebih landai untuk pengunjung, meski jalannya lebih lama.

Di puncak Gunung Padang, rasa lelah seakan sirna tersirap pemandangan balok-balok batu berserakan di mana-mana.

Orang-orang ternyata sudah banyak yang berada di atas Puncak Gunung Padang dengan berbagai aktivitas.
Ada yang sibuk mengabadikan gambar, melihat berbagai keunikannya, dan mencari tahu asal-usul batuan yang berserakan.

Sejak dikelola pemerintah, Situs Gunung Padang menjadi tempat favorit untuk wisata budaya, dan menjadi ladang penghasilan bagi masyarakat setempat.

Deni Aritonang, petugas yang menjaga Situs Gunung Padang menjelaskan, sejak dikelola pemerintah, Gunung Padang tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari selalu ada yang datang, apalagi menghadapi musim liburan sekolah.

"Sekitar seribuan orang datang kemari kalau hari Minggu, banyak juga yang dari luar kota," tutur Deni ketika berbincang dengan Tribun.

Bila Anda tidak membawa air minum dari bawah, di Puncak Gunung Padang sudah ada orang yang berjualan minuman dan makanan ringan.

Sebuah tempat pun disediakan pengelola untuk memanjakan pengunjung, agar bisa melihat Situs Gunung Padang dari tempat yang tinggi.

Para pengunjung tampak menikmati keindahan bebatuan peninggalan zaman megalitikum. Di bawah teduhnya pepohonan, Anda bisa mendapatkan ilmu sekaligus berwisata bersama keluarga atau teman.

Dadang, seoarng pegawai negeri, sengaja datang ke Gunung Padang bersama anaknya. Ia pun banyak bertanya kepada Deni mengenai seluk-beluk Gunung Padang.
"Inilah wisata sambil mencari ilmu," katanya sambil membimbing anaknya.

Situs Gunung Padang merupakan peninggalan megalitik terbesar di Asia Tenggara, dengan luas bangunan purbakala sekitar 900 meter persegi, dan areal situsnya sekitar 3 hektare.

Diperkirakan, batu yang berserakan berusia
4.000-9.000 sebelum Masehi. Situs megalitik ini berasal dari periode 2.500-4.000 Sebelum Masehi.

Rustandi, petugas lainnya, menjelaskan arti Gunung Padang. Padang dalam bahasa sunda artinya caang atau terang benderang.

"Memang dari zaman nenek saya, gunung ini disebut Gunung Padang," jelasnya.

Ada juga pengertian lain dari istilah 'Padang'. Menurut Rustandi, kata Padang terdiri dari tiga kata, pa artinya tempat, da artinya besar atau agung, dan hyang artinya eyang, moyang, atau leluhur. Dari ketiga kata tersebut, kata padang dimaknai sebagai tempat agung para leluhur. (*)

BACA JUGA

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved