Kamis, 9 April 2026

Mengintip Kecanggihan Pesawat Pengintai Udara Milik TNI AU

Jika dibandingkan negara tetangga, tentu pesawat yang berjuluk si Camar Emas ini tak kalah ganasnya.

Angkasa/Fida Perkasa
Pesawat pengintai TNI AU 

TRIBUNNEWS.COM - Negara tetangga punya pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control) dengan basis pesawat Boeing 737 series.

Maka, kita pun tak kalah bersaing dengan si pengintai yang basis pesawat yang sama. Saat ini pesawat intai tersebut menjadi salah satu pesawat yang memiliki tugas paling strategis untuk mengawal kedaulatan bangsa.

Jika dibandingkan negara tetangga, tentu pesawat yang berjuluk si Camar Emas ini tak kalah ganasnya.

Pesawat pengintai ini dibekali oleh radar double agent AN/APS-504 v5 yang berfungsi sebagai radar konvensional yang mampuu mendeteksi sasaran di permukaan dan udara hingga jarak 256 mil laut (Nm).

Navigasi dan komunikasi yang ditanam juga tak kalah canggihnya.

Si Camar dijejali sistem navigasi inertial (INS) LTN-72R buatan Northrop Grumman yang terintegrasi dengan GPS.

Selain itu, komunikasi lewat saluran telepon juga bisa langsung terhubung ke komando pusat.

SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar) juga ditanam di pesawat intai ini. SLAMMR merupakan sensor deteksi yang sangat kuat dengan jangkauan yang amat luas.

Dengan radar ini pesawat intai Boeing 737 dapat mendeteksi wilayah perairan hingga jarak 85.000 mil persegi per jam.

Ditambah lagi dengan peralatan infra merah, Search Radar, dan sistem navigasi Omega, juga sistem navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan Data Processing Display System menambah keganasan si Camar Emas saat melakukan operasi pengintaian.

Berbasis di Skadron 5 Lanud Hasanuddin, Makassar, pesawat intai Boeing 737-200 ini hadir sejak tahun 1981 sebagai pengganti pesawat Grumman UF-1 Albatross.

Di Tahun 1993, salah satu pesawat menjalani program peningkatan kemampuan SLAMMR, Infra Red Detection System, Serach Radar, dan seluruh sistem navigasi serta komunikasinya.

Salah satu pesawat juga dimodifikasi di negeri sendiri oleh PT Dirgantara Indonesia.

Tiap kali terbang, pengoperasian pesawat intai ini biasanya didukung oleh 64 kru yang terdiri dari dua orang pilot instruktur/kapten, 12 kopilot, 16 orang enjinir, 5 orang loadmaster, 10 operator konsol, 14 pengamat, tiga juru foto udara, dan dua kru flight surgeon.

Dengan armada yang ada saat ini, Skadron Udara 5 dituntut untuk melakukan pengintaian rutin dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia.

Sumber: Angkasa
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved