Kementan
Share on

Bendungan Lhok Guci, Sarana Pendukung Kedaulatan Pangan di Aceh Barat

Kedaulatan pangan harus didukung sarana irigasi yang mumpuni. Bendungan Lhok Guci yang dibangun di Aceh Barat merupakan salah satu solusinya

Bendungan Lhok Guci, Sarana Pendukung Kedaulatan Pangan di Aceh Barat
pengairan.acehprov.go.id
Bendungan Lhok Guci yang terletak di Kecamatan Pante Ceurumen, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kementerian Pertanian mengharapkan pembangunan bendungan dapat selesai pada 2017 mendatang. 

TRIBUNNEWS.COMBendungan Lhok Guci terletak di Kecamatan Pante Ceurumen, Aceh Barat. Mencakup beberapa kecamatan seperti Kaway XVI, Bubon, Sama Tiga, dan Johan Pahlawan, bendungan tersebut direncanakan mengairi 18.542 hektar lahan pertanian yang ada di lima kecamatan di Aceh Barat.

Sejak mulai dibangun tahun 2004, bendungan Lhok Guci memang termasuk salah satu proyek strategis nasional di Aceh. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian mengharapkan bendungan itu dapat mendukung target kedaulatan pangan yang sedang dijalankan pemerintah hingga saat ini.

Dengannya, pengembangan pola pertanian yang maju dengan mekanisme yang teratur dapat tercipta. Transportasi petani ke desa-desa juga diharapkan tambah lancar karena ada jalan inspeksi irigasi di tanggul saluran induk dan sekunder. Pada akhirnya, pendapatan dan taraf hidup masyarakat pun akan meningkat.

Ketika sedang melakukan kunjungan kerja ke Aceh Barat, Selasa (4/8/2015) lalu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengharapkan Bendungan Lhok Guci sudah dapat berfungsi dalam dua tahun mendatang.

Nantinya, menurut Mentan, bendungan tersebut dapat memaksimalkan penambahan lahan sawah di Aceh.

Kunjungan Mentan ke Aceh Barat, Selasa (5/8/2015) lalu
Menteri Pertanian Amran Sulaiman ketika melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Aceh Barat, Selasa (5/8/2015) lalu. (pertanian.go.id)

Bahkan, kekeringan yang sedang melanda beberapa lahan pertanian di Indonesia, menurut Mentan, juga dapat diantisipasi oleh pembangunan bendungan seperti Lhok Guci ini.

Sebab, selain berfungsi mengairi lahan sawah, bendungan itu juga dapat meningkatkan intensitas tanam dan pembukaan lahan baru.

Aceh sendiri termasuk salah satu daerah yang menjadi sasaran program kedaulatan pangan yang dijalankan pemerintah pusat. Hal itu terjadi karena potensi pembangunan waduk dan irigasi di Aceh cukup besar. Selain itu, areal hutannya juga masih sangat luas.

Tercatat, 3,5 juta hektar hutan masih ada di Aceh hingga saat ini, sehingga pembangunan waduk dan irigasi dapat dilakukan lebih lanjut di daerah tersebut.

Khusus untuk Bendungan Lhok Guci, total biaya pembangunannya sendiri mencapai Rp 601 miliar. Hingga Desember 2014, serapan dana yang telah terealisasi mencapai Rp 153,9 miliar. Serapan dana tersebut diharapkan Kementan akan terus meningkat seiring pembangunan yang sedang dijalankan.

Di samping itu, Mentan Amran menilai, bendungan tersebut sangat strategis untuk kedaulatan pangan dan pengembangan daerah Aceh, sehingga wilayah tersebut dapat menjadi salah satu lumbung pangan nasional.

“Tahun depan kita akan maksimalkan tambahan lahan sawah di Aceh,” tutur Amran dalam pertemuan bersama jajaran Muspida Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Selasa (4/8/2015).

Selain memantau proses pembangunan bendungan, pertemuan yang Mentan laksanakan sendiri bertujuan membahas masalah-masalah pertanian di Aceh Barat.

Dalam kesempatan itu, Mentan Amran menekankan program pembangunan bendungan seperti Lhok Guci dapat diteruskan dengan maksimal.

Presiden Jokowi pun, menurut Mentan, telah mengarahkan pihaknya untuk terus memantau proses pembangunan sarana-prasarana pertanian di Aceh, sehingga kedaulatan pangan nasional dapat benar-benar tercapai pada 2017 mendatang.

Selain memantau pembangunan bendungan, Mentan juga menyempatkan diri berdialog dengan warga Desa Seumantok, Kecamatan Pante Ceuremen yang terdapat di sekitar lokasi bendungan.

Di sana Mentan Amran memberikan bantuan berupa alat mesin pertanian (alsintan), benih, dan pupuk bagi para petani di Kabupaten Aceh Barat.

Sebagai tambahan informasi, produksi beras di Aceh sendiri mencapai hasil yang cukup memuaskan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pada ARAM I yang berlangsung Juli 2015 kemarin produksi beras di Aceh mencapai 2,1 juta ton atau dengan kata lain naik 18% dari tahun 2014.

Hal itu tentunya menjadi indikator bahwa Aceh merupakan daerah yang sangat potensial untuk pengembangan pertanian. Kedaulatan pangan yang menjadi target kita bersama pun dapat terbantu oleh produksi berbagai komoditi di Aceh. (advertorial)

Penulis: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved