Breaking News:

Sofyan Djalil Paparkan Pain Sharing sebagai Kunci Keberlanjutan Program Biodiesel

Ia menuturkan konsep pain sharing menjadi sangat penting tapi bagaimana kita menjaga keseimbangan yang justifiable kepada dua pihak.

Editor: Content Writer
Kementerian ATR/BPN
"Analisis Sensitivitas Skenario Program Biodiesel" diselenggarakan oleh Independent Research & Advisory Indonesia (IRAI) secara virtual pada Jumat (25/9/2020). 

TRIBUNNEWS.COM - Pain sharing adalah kunci keberlanjutan program biodiesel untuk melewati tekanan pada saat ini. Seluruh pemangku kepentingan harus turut berkomitmen dalam mendorong program biodiesel. Hal itulah yang dijelaskan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan Djalil pada acara "Analisis Sensitivitas Skenario Program Biodiesel" yang diselenggarakan oleh Independent Research & Advisory Indonesia (IRAI) secara virtual pada Jumat (25/09/2020).

Menteri ATR/Kepala BPN menjelaskan bagaimana konsep pain sharing yang dimaksud pada biodiesel. "Konsep pain sharing menjadi sangat penting tapi bagaimana kita menjaga keseimbangan yang justifiable kepada dua pihak. Karena pain sharing kepada pemerintah dan industri dan jika terlalu banyak pemerintah yang menanggung pain itu nanti akan menimbulkan politik backfire," jelas Sofyan.

Baca: 24 Juta BIdang Tanah Telah Didaftarkan Kemen ATR/BPN untuk Memperingati Hantaru ke 56

"Justifikasi pemerintah untuk green energy, lingkungan yang lebih bersih tetapi kemudian terdapat narasi yang berkembang di luar seolah-olah pemerintah ini mendukung korporasi sawit yang terbatas, yang oligopolistik padahal tidak seperti itu," tambah Menteri ATR/Kepala BPN, Sofyan A. Djalil.

Menurut Sofyan, kelapa sawit merupakan primadona dalam hal ekspor di Indonesia karena memiliki kontribusi signifikan. Tetapi jika kebijakannya salah ditambah dengan faktor internasional membuat harga kelapa sawit memberikan dampak kurang baik.

"Rekomendasi saya bagaimana kita mencari sebuah formula untuk membuat harga sawit cukup bagus guna memberikan margin sekitar 20-30 persen dan itu bagus sekali karena tidak ada investasi sekarang ini yang bisa kita dapatkan margin seperti itu," ujar Sofyan.

Baca: 60 Tahun UUPA, Menteri ATR: Tingkatkan Pelayanan Pertanahan dan Tata Ruang yang Modern

Menteri ATR/Kepala BPN mengatakan terdapat masih ada ruang dan creative regulation serta policy yang perlu dilakukan sehingga dapat mencari bagaimana sebuah keseimbangan antara berbagai opsi tersebut agar nantinya nasib kelapa sawit ini akan tetap cerah dari kesiapannya, ruangannya dan bagaimana kita memanfaatkan.

Sofyan A. Djalil menuturkan di era Covid-19 harus tetap adaptif sehingga industri kelapa sawit tetap berjalan dengan baik.

"Era Covid-19 ini kita harus berpikir alternatif lain sehingga skema yang ada ini tetap bisa berkelanjutan untuk jangka pendek, tapi setelah Covid-19 mungkin perlu didorong kebijakan yang bagus," ujar mantan Menko Perekonomian tahun 2014-2015 ini.

Pada acara tersebut dimoderatori oleh Founder & CEO IRAI, Lin Che Wei dan diikuti 87 peserta yang terdiri dari jajaran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) termasuk Anggota Dewan Pengawas BPDPKS periode 2015-2020, Loso Judijanto yang juga Staf Khusus Menteri ATR/Kepala BPN, perwakilan dari Kementerian Keuangan, Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan jajaran IRAI. (*)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved