Fogging Tak Efektif, Malah Justru Lahirkan Nyamuk-nyamuk Kebal

Hasil penelitian membuktikan, pengasapan alias fogging malah melahirkan nyamuk-nyamuk kebal racun di masa mendatang.

Fogging Tak Efektif, Malah Justru Lahirkan Nyamuk-nyamuk Kebal
Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat/Syahrul Hidayat
Petugas (Kedokteran Kepolisian) Dok Pol Sumsel melakukan fogging (pengasapan) di Markas Polresta Palembang, Senin (9/1).

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jambi menilai tindakan fogging atau pengasapan yang dilakukan untuk pemusnahan nyamuk yang menjadi sumber penyakit malaria dan dan demam berdarah di musim hujan saat ini sangatlah tidak efektif.

"Memang salah satu cara yang paling populer yang dilakukan adalah fogging atau pengasapan di kampung-kampung, dan sekolah-sekolah. Tapi cara ini sangat tidak efektif untuk memusnahkan atau menghilangkan tingkat risiko serangan nyamuk," kata Sekretaris IDI Jambi, dr Emil di Jambi, Senin.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan penyuluhan pencegahan penyakit-penyakit menular ke sekolah-sekolah di kecamatan Jambi Timur belakangan ini.

Menurut dia, cara fogging atau pengasapan terhadap kampung-kampung, sekolah-sekolah dan pasar-pasar bila dilakukan dengan maksud membangun citra sehubungan dengan pencalonan dirinya sebagai kepala daerah menjelang musim Pilkada, justru bisa berdampak negatif.

"Pasalnya dari penelitian yang dilakukan Dinkes dan IDI dari tindakan fogging yang dilakukan hanya 40 persen nyamuk saja yang mati, sementara 40 persen lainnya hanya mengalami pelemahan sementara dan 20 persen lagi justru selamat dan dapat meneruskan hidup serta perkembangkan biaknya," ujar Emil.

Dikatakannya, yang lebih mencemaskan adalah nyamuk-nyamuk yang selamat dari tindakan fogging tersebut itu adalah nyamuk-nyamuk dengan genetik yang kuat dan tahan, sehingga pada perkembangbiakan berikutnya nyamuk-nyamuk kuat ini akan menurunkan genetis nyamuk-nyamuk yang tahan terhadap fogging.

Sehingga akhirnya tindakan serupa di masa-masa berikutnya tidak akan berdampak meninggalkan efek atau dampak apa-apalagi pada keturunan mereka, karena yang tersisa adalah induk-induk terpilih.

"Selain itu, ketidakefektifan fogging juga dikarenakan tindakan ini hanya akan mengenai induk-induk atau nyamuk-nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik-jentiknya yang tersimpan di genangan air justru akan selamat semuanya untuk selanjutnya dalam beberapa hari sudah tumbuh menjadi nyamuk dewasa pula," ujarnya.

Dia mengingatkan, tindakan pemusnahan yang dilakukan sesungguhnya paling ideal adalah memusnahkan jentik-jentik dan sarang-sarang nyamuk berupa genangan air dengan cara 3M atau menebarkan bubuk abate ke dalam tempat penampungan air keluarga.

"Dari penelitian kami, cara penebaran bubuk pemusnah bibit nyamuk digenangan air ini terbukti sangat ampuh, 100 persen jentik dan telur nyamuk yang ada di wadah air tersebut didapati jadi mati semua. Perlu diketahui satu nyamuk betina bisa bertelur 2000 butir, dengan tindakan ini kesemua telur dan jentik nyamuk itu mati semua," kata dia.

Lebih jauh, dr Emil mengkritik apa yang dilakukan para tokoh politik yang mencari atau membangun citra melalui tindakan-tindakan kesehatan massyarakat tersebut.

"Wajar fogging dipilih, karena sangat efektif untuk membangun pencitraan diri meski sangat tidak efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sesungguhnya. Pasalnya dengan fogging yang bisa menelan biaya belasan hingga puluhan juta sekali aksi itu, keberadaan sang tokoh jadi langsung diketahui masyarakat. Ini sungguh sangat tidak sehat," tegasnya.

Baca Artikel Menarik Lainnya

Editor: Agung Budi Santoso
Sumber: Sehat News
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved