Breaking News:

Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Terbesar di Negara Berkembang Hingga Tahun 2020

Survey Kesehatan Nasional menunjukkan 3 dari 1000 atau empat persen penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam beberapa dekade terakhir, kematian penyebab penyakit jantung kian meningkat khususnya pada negara berkembang.

WHO menyatakan penyakit kardiovaskular jantung dan pembuluh darah,  terutama penyakit jantung koroner masih menduduki peringkat teratas di negara berkembang hingga tahun 2020.

"Survey Kesehatan Nasional menunjukkan 3 dari 1000 atau empat persen penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner," kata dr. Antono Sutandar, SpJP selaku wakil chairman Siloam Heart Institute (SHI) di Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Keluhan penderita penyakit jantung koroner bervariasi umumnya berupa nyeri dada yang dirasakan di daerah bawah tulang dada agak ke sebelah kiri dengan rasa seperti beban berat, ditusuk-tusuk, rasa terbakar yang kadang menjalar ke rahang, lengan kiri, dan ke belakang punggung.

Juga disertai keringat yang banyak. Faktor risiko yang mempercepat terjadinya adalah merokok, obesitas, stres, diabetes mellitus, hipertensi, kolestrol tinggi, infeksi, dan gangguan pada darah.

 Celakanya, sebagian besar penderita penyakit jantung koroner sudah terlambat datang ke dokter, bahkan penderita penyakit jantung koroner yang akan menjalani operasi bypass jantung koroner tidak mengetahui jika mereka menderita penyakit jantung koroner dan mengalami serangan jantung sebelumnya.

"Oleh karena itu, penderita memerlukan berbagai investigasi dan penanganan yang komprehensif untuk mendeteksi permasalahan kardiovaskular," katanya.

Salah satunya melalui kardiologi intervensional melibatkan perawatan pasien dengan penyakit katup jantung atau penyakit jantung koroner arteri.

Program kardiologi intervensional  di SHI didukung oleh 1 laboratorium kateterisasi yang dilengkapi dengan teknologi terkini dan fitur canggih biplane dan monoplane flat detectors untuk mengurangi paparan radiasi ke pasien.

"Laboratorium kateterisasi SHI beroperasi 24 jam sehingga dapat memastikan pasien yang sedang mengalami serangan jantung kapan pun dapat menerima acute angioplasty untuk menangani arteri yang tersumbat," katanya.

Penelitian menunjukkan bahwa metode perawatan ini berujung pada hasil klinis yang lebih baik untuk pasien dibandingkan pemberian obat-obatan untuk menangani gumpalan darah. Selain itu, SHI melakukan intervensi mitral, penutupan ASD dengan amplazter dan LAA Closure.

Penulis: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved