Senin, 8 Juni 2026

Jangan Makan dan Minum Saat Serangan Jantung! Ini Bahayanya

Ketika terjadi serangan jantung, jantung tidak bisa memompa darah dengan baik, akibatnya darah itu tidak bisa dipompa dan akhirnya membanjiri paru-par

Tayang:

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketika terjadi nyeri dada, yang terpikirkan adalah mendapat serangan jantung.

Apakah anda atau anggota keluarga yang mendapat nyeri dada menjadi panik? Hal yang lumrah dan tak terhindarkan.

Mendapat serangan jantung bagaikan berpacu dengan malaikat pencabut nyawa.

Sebanyak 50 persen terkena serangan jantung meninggal sebelum mendapat perawatan di rumah sakit.

Walaupun panik hal yang lumrah, namun sangat disarankan ketenangan sambil menuju ke rumah sakit terdekat.

“Ketika terjadi serangan harus tenang dulu enggak boleh banyak gerak. Tiduran setengah duduk dan jangan lakukan aktivitas apapun termasuk batuk. Jangan juga diberi makan dan minum. Segera saja dibawa ke rumah sakit terdekat,” kata Dr dr Ismoyo Sunu SpJP(K) FIHA FasCC kepada wartawan saat diskusi tentang Kenali Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pencegahannya di kantor Direktorat P2PTM Ditjen P2PL Kemenkes RI Jalan Percetakan Negara, Kamis (22/9/2016).

Ia menjelaskan, memberikan minum dan makan ketika terjadi serangan jantung sangat berbahaya.

“Tidak boleh aktivitas apapun, makan dan minum itu aktivitas. Dikhawatirkan juga paru-parunya bisa terjadi ‘kebanjiran’,” kata dokter Ismoyo.

Ketika pasien minum, otomatis volume darah meningkat.

Padahal, ketika terjadi serangan jantung, jantung tidak bisa memompa darah dengan baik, akibatnya darah itu tidak bisa dipompa dan akhirnya membanjiri paru-paru.

Nyeri dada menjadi salah satu tanda serangan jantung, ciri lainnya terjadi rasa mual, keringat dingin.

Serangan jantung dengan nyeri yang tidak biasa ini sebenarnya tidak terjadi mendadak.

Sebelumnya ditandai dengan nyeri yang ringan atau tanda lain namun kerap diabaikan.

Oenedo Gumarang (60), terkena serangan jantung tahun 2013 lalu diusia 57 tahun. Ternyata itulah serangan jantung yang ketiga.

“Ketika dibawa ke Rumah sakit, dan dilakukan kateterisasi ternyata sudah banyak sumbatan, dan harus diopersi, dokter melihat sudah terjadi serangan jantung yang sebelumnya setidaknya 3 kali,” kata pria yang disapa Edo yang juga berprofesi sebagai dokter.

Ketika terjadi serangan jantung yang berujung dilakukan operasi, Edo merasakan kondisi tubuh yang panas, dan keluar keringat dingin dan sakit yang sekitar lambung.

Diberi obat maag ternyata sakitnya tidak berkurang. Ia lalu curiga terkena serangan jantung lalu buru-buru diantar ke rumah sakit.

“Waktu operasi, kita dibius jadi enggak terasa. Tapi pas dicabut selangnya itu barulah sakit sekali seperti habis ditikam dengan pisau. Itu bagian horor dari sakit jantung,” ujar Edo yang sebelumnya merokok hingga 4 bungkus perhari dan kini telah berhenti total.

Aspirin

Ketika terjadi serangan jantung, sebagai pertolongan pertama disarankan mengunyah aspirin.

Aspirin ini banyak dijual bebas yang biasanya berfungsi sebagai obat sakit kepala dan nyeri demam.

Lihat saja bila obat itu mengandung asam asetisalisilat, nah itulah obat yang dikenal dengan aspirin dengan merek berbeda.

Dokter Ismoyo mengatakan, salah satu tata laksana mengobati penyakit jantung pasien diberi obat pengencer darah.

Aspirin yang dikunyah dulu sebelum ditelan, (bukan langsung diminum, Red) punya dampak mencegah aktivitas bekuan darah yang bisa menyumbat arteri saat serangan jantung.

Bila langsung di telan, aspirin itu butuh waktu untuk hancur, sehingga harus dikunyah terlebih dahulu.

Mengunyah aspirin sangat dianjurkan selama perjalanan ke rumah sakit.

Bahkan ia menyarankan, setiap orang berusia 40 tahun keatas sangat disarankan mengantongi aspirin ini sebagai pertolongan pertama terjadinya serangan jantung.

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved