Bulan Peduli Kanker Paru: Masih Jadi Penyebab Kematian Utama di Seluruh Dunia

Kondisi serupa dapat ditemui di Indonesia. Kanker paru menduduki peringkat pertama dalam angka kejadian dan kematian.

IST
Acara bertema "Breathe for Free 2017 Lung Cancer Awareness Month", guna memperingati bulan peduli kanker paru yang jatuh pada November, di Kemang Village, Sabtu (25/11/2017) kemarin. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI) menghelat acara bertema "Breathe for Free 2017 Lung Cancer Awareness Month", guna memperingati bulan peduli kanker paru yang jatuh pada November, Sabtu (25/11/2017) kemarin.

Acara yang berlangsung sore hari di Kemang Village itu diisi oleh berbagai penampilan dengan tujuan menyuarakan kesadaran mengenai pentingnya hidup sehat agar terhindar dari kanker utamanya kanker paru.

Disebutkan, Kanker paru masih menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia, dengan total 1,2 juta (16,8%) angka kejadian baru dan lebih dari 1 juta (30%) kematian yang disebabkan oleh kanker paru (GLOBOCAN 2012).

Kondisi serupa dapat ditemui di Indonesia. Kanker paru menduduki peringkat pertama dalam angka kejadian dan kematian.

Setiap tahunnya muncul 25 ribu angka kanker paru baru, dan lebih dari 25 ribu orang meninggal per tahunnya di Indonesia akibat kanker paru (WHO - Cancer Country Profiles, 2014).

Sekalipun tetap memiliki peranan, peran deteksi dini pada kanker paru tidaklah sebesar perannya pada kanker-kanker lain.

Fakta memang menyatakan semakin dini stadium kanker paru, maka angka kesakitan dan angka kematiannya akan semakin rendah.

Beberapa literatur terbaru menyatakan bahwa pemeriksaan low dose CT-scan (LDCT) dapat mengurangi angka kematian hingga 20%. Namun angka tersebut sesungguhnya tidak cukup signifikan.

Berbeda dari beberapa kanker tertentu yang dominan dengan faktor risiko genetik, kanker paru sebenarnya sangat mudah untuk dicegah.

Merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru yang telah lama diketahui. Orang yang merokok 15 hingga 30 kali lebih berisiko untuk menderita kanker paru dibandingkan dengan yang tidak merokok.

Hal yang menyedihkan adalah, lebih dari sepertiga penduduk Indonesia adalah perokok (pernyataan Menteri Kesehatan RI di Indonesian Conference on Tobacco or Health).

Lebih daripada itu, jumlah tersebut belum termasuk perokok pasif yang membuat mereka yang berisiko terkena kanker paru menjad meningkat.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, ada beberapa terhadap tanda-tanda awal yang dapat dicurigai sebagai kanker paru, yaitu: batuk-batuk lebih dari 3 minggu, pola batuk yang berubah, batuk darah, infeksi paru menetap yang tidak kunjung sembuh.

Berita Populer
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved