Breaking News:

Kenali Penyebab Penyakit Kejiwaan yang Bisa Terjadi Pada Mayarakat Perkotaan dan Pedesaan

Saat ini dengan perkembangan teknologi permasalahan yang sebelumnya hanya dialami orang-orang perkotaan, kini juga terjadi pada masyarakat pedesaan.

Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Pengendara Motor melintasi Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (4/2/2018). Setelah dilakukan sosialisasi selama 7 hari, mulai 5 Februari 2018, petugas akan melakukan tilang jika pemotor tidak melintasi jalur khusus yang berada disebelah kiri jalan. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Penyakit yang mengganggu kejiwaan kebanyakan terjadi pada masyarakat perkotaan dengan berbagai permasalahan orang perkotaan seperti rutinitas kerja, lalu lintas ataupun gaya hidup.

Saat ini dengan perkembangan teknologi permasalahan yang sebelumnya hanya dialami orang-orang perkotaan, kini juga terjadi pada masyarakat pedesaan.

Alhasil orang yang mengalami gangguan jiwa di pedesaan juga semakin bertambah.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Fidiansjah mencontohkan misalnya saat ini berkembangnya kasus buli yang berawal dari cacian di media sosial.

Kasus buli ini akan membuat korban merasa tertekan yang bisa memacu stres dan penyakit jiwa, bahkan ada beberapa kasus buli yang berakhir kekerasan dari pelaku.

Baca: Dinsos Bandung Barat akan Periksa Kejiwaan Abah Aman yang 3 Tahun Tinggal di Semak-semak

“Di era sekarang ada kemajuan IT, misalnya anak SMK mereka saling ejek di media sosial misalnya lalu diungkapkan dengan ekspresi kemarahan. Teknologi itu tersebut ditempatkan tidak proporsional,” ungkap dr. Fidiansjah saat ditemui di Rumah Berdaya, Bali, Rabu (24/4/2019)

Mengenai gangguan jiwa ini dr. Fidiansjah menjelaskan faktor pertama adalah faktor genetik, karena ada struktur pada otak yang mengalami gangguan.

Kemudian faktor biologinya adalah adanya perubahan di celah-celah syaraf yang harus segera ditangani untuk mendapatkan intervensi obat-obatan.

“Ada komponen tertentu struktur yang terkecil, transmeter di otak itu terganggu. Kemudian ada neotransmeter di celah syaraf yang perlu mendapatkan terapi farmako terapi,” papar dr. Fidiansjah.

Kemudian faktor lainnya yang menyebabkan gangguan jiwa adalah kurangnya nilai religi atau agama pada diri seseorang.

“Memang itu menjdi penguat, betapa memang ada, ketuhanan yang masa esa. sila pertama yang menjadi gantungan kita mencari pertolongan,” pungkas dr. Fidiansjah.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved