Ini Tips Menjaga Tubuh dari Paparan Polusi Udara

Kualitas udara yang menurun akibat polusi udara dapat merangsang timbulnya penyakit yang berhubungan dengan pernafasan misalnya sakit pada paru-paru.

Ini Tips Menjaga Tubuh dari Paparan Polusi Udara
(KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)
Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia. 

“Yang akut itu misalkan yang punya asma jadi terpicu asmanya. Sebenarnya akibat asap jadi mengganggu pernapasan,” kata Imran Pambudi.

Faktor kemarau

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai kualitas udara Kota Jakarta saat ini menunjukkan peningkatan konsentrasi dan sering melampaui nilai ambang batasnya (NAB) sejak 20 Juni 2019.

Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG Nasrullah menjelaskan kondisi ini terjadi pada jam-jam tertentu, konsentrasi partikel polusi udara terukur di BMKG dapat melonjak sesuai dengan kadar polutan yang ada di udara.

Meningkatnya konsentrasi PM10 secara umum terjadi pada pagi hari sekitar pukul 07.00 – 09.00 WIB.

“Pada waktu-waktu ini konsentrasi debu polutan dimungkinkan meningkat drastis dikarenakan beban tinggi transportasi berkaitan dengan waktu berangkat kerja, sekaligus secara meteorologis bersamaan dengan waktu dimana terjadi dapat terjadi peristiwa inversi suhu pada atmosfer perkotaan,” jelas Nasrullah, Kamis (1/8/2019).

Baca: Wacana PLN Sunat Gaji Karyawan Tutupi Ganti Rugi : Respons Serikat Pekerja dan Perkembangan Terkini

Baca: Jokowi Mengaku Perpres Mobil Listrik Belum Sampai ke Mejanya

Selain itu, data BMKG menunjukkan kualitas udara memang biasanya memburuk saat musim kemarau.

Hal ini dikarenakan ketiadaan hujan dapat mengurangi pengendapan (pencucian) polutan di udara oleh proses rain washing.

“Saat musim kemarau cenderung tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi,” paparnya.

Terlebih lagi pada saat ini masih terus berlangsung pekerjaan konstruksi pembangunan tol atas, jalur LRT, dan pengerjaan trotoar.

Hal ini tentu akan menghasilkan debu partikel polutan dan menurunkan kualitas udara pada saat-saat tertentu.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved