YLKI Temukan Informasi tentang Penggunaan Pemanis Buatan kepada Masyarakat Masih Minim

Pemanis buatan merupakan golongan bahan tambahan pangan (BTP) yang tidak memiliki nilai gizi apapun.

YLKI Temukan Informasi tentang Penggunaan Pemanis Buatan kepada Masyarakat Masih Minim
Wartawan Magang/Meliana
Jumpa pers YLKI yang memaparkan hasil survei terkait pemanis buatan di Jakarta, Jumat (11/10/2019) 

Kendati konsumen yang disurvei pernah membaca penandaan adanya pemanis buatan pada label pangan, mereka menyimpulkan bahwa penandaan tersebut tidak efektif.

"Konsumen mengeluh bahwa tulisan terlalu kecil, tulisan tercetak samar-samar, tulisan tersembunyi, tidak ditandai secara khusus, tulisan tidak terbaca, penempatan info penting yang dianggap tidak penting, tulisan terselip di lipatan kemasan dan terkesan tidak niat membuat penandaan," ujar Natalya.

Sementara itu, Ketua YLKI Tulus Abadi menuturkan ada aspek pengendalian dan pembatasan yang digunakan dalam mengkonsumsi pemanis buatan terdapat dalam Permenkes No 33 tahun 2012 khususnya untuk konsumen tertentu, minimal ada tiga yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita.

"Peringatan kesehatan yang sangat minim dan tidak informatif, Kami menduga pesan kesehatan tidak sampai. Akhirnya banyak ibu hamil dan menyusui serta anak balita menkonsumsinya," ucap Tulus.

BPOM diharapkan lebih proaktif dalam menegakkan pengawasan karena regulasinya sudah ada.

"Pre Market Control sudah dibentuk oleh pemerintah tetapi penerapan push market control-nya seperti apa," ujarnya.

Maka rekomendasi dari YLKI adalah pemerintah melalui BPOM dan Kementrian Kesehatan harus bertanggung jawab menyampaikan informasi kepada konsumen dalam kategori rentan agar dapat memahami maksud dari peringatan kesehatan yang tercantum pada label serta dilakukan pengawasan.

Baca: Denmark Open 2019: Prannoy Mundur, Siapa yang Jadi Lawan Anthony Ginting di Babak Pertama?

Natalya mengatakan hanya dua dari 13 pelaku usaha yang mewakili seluruh sampel produk yang memberikan tanggapan melalui contact center konsumen sedangkan sisanya tidak menjawab bahkan banyak nomor yang tidak aktif.

Pelaku usaha agar memberikan informasi yang jelas pada label pangan sehingga tidak terjadi asimetris informasi dimana terdapat info penting yang tersembunyi di balik bombastisnya klaim pada produk pangan.

Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved