Breaking News:

Ganja Diusulkan Jadi Komoditas Ekspor Karena Bisa Mengobati, Benarkah?

Menurut Rafli ganja bisa bermanfaat sebagai obat dan ia siap menyediakan lahan untuk ditanami ganja.

Dok Humas Polres Bireuen
Satuan Intelkam Polres Bireuen, berhasil memusnahkan sekitar dua hektar ladang ganja, di kawasan pegunungan Desa Krueng Meuseugob, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen, Sabtu (4/1/2020) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Anggota Komisi VI DPR RI dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rafli mengusulkan ganja menjadi komoditas ekspor Indonesia ke pasar internasional.

 Menurut Rafli ganja bisa bermanfaat sebagai obat dan ia siap menyediakan lahan  untuk ditanami ganja.

 Lalu bagaimana ganja dalam segi kedokteran?

 Dokter sekaligus peneliti dalam bidang adiksi di Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN), Jakarta, Hari Nugroho menjelaskan pengobatan ganja (medical marijuana) sampai saat ini masih menjadi sejumlah perdebatan.

Baca: Kata Ikatan Dokter Indonesia Terkait Usulan Ganja Jadi Komoditas Ekspor

 “Ada kelompok yang Pro terutama karena menilai manfaatnya dan yang kontra karena melihat risiko penyalahgunaannya,” ungkap Hari Nugroho kepada Tribunnews.com, Jumat (31/1/2020).

 Ada ratusan zat aktif di dalam ganja dan yang saat ini yang sedang dilirik banyak peneliti internasional adalah kandungan cannabidiol (CBD) pada ganja.

Baca: PKS Usul Ganja Jadi Komoditas Ekspor, Ini Respon Istana

 Kandungan CBD ini katanya berbeda dengan efek THC yang punya efek negatif psikoaktifnya yang bisa bikin orang nge-fly sementara CBD katanya tidak membuat orang nge-fly dan berungsi sebagai anti nyeri, kehang, maupun obat mual.

 Tapi hasil penelitian tersebut masih belum kuat, perlu riset yang lebih dalam lagi terutama terkait efek sampingnya yang masih minim riset.

 Beberapa riset uji klinis dari CBD itu ada yang mengalami kejang, maupun efek samping lain seperti muntah-muntah.

Baca: BNN Keberatan Usulan Ganja Jadi Komoditi Ekspor Indonesia

 “Evidence penelitiannya masih belum kuat sekali baru pada level B, sehingga dibutuhkan riset lebih dalam terutama untuk uji klinis pada manusia,” kata dr. Hari.

 Penggunaan pengobatan dengan ganja pun yang dikhawatirkan risiko penyalahgunaannya terutama bagi orang-orang yang punya gangguan jiwa.

 “Efek dari ganja terutama bagi orang-orang yang punya gen gangguan jiwa yang menginduksi gangguan jiwa utamanya psikosis maupun schizophrenia,” kata dr. Hari.

 “Kemudian karena kebanyakan dirokok tentu akan berdampak bagi kesehatan paru-paru apalagi jika di mix dengan rokok,” sambung dr. Hari.

 Penyalahgunaan ganja pun ternyata dapat menurunkan kemampuan kognitif seseorang.

 “Beberapa riset menunjukkan adanya gangguan kognitif seperti penurunan IQ terutama pada pengguna ganja berat dan dimulai saat remaja,” pungkas dr. Hari.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved