Virus Corona
PSBB Mau Dilonggarkan? Pakar Kesehatan Masyarakat: Mengatur Physical Distancing Lebih Sulit
Hampir dua bulan masyarakat di wilayah yang menerapkan PSBB bisa berpotensi memicu stres.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reza Deni
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Budi Haryanto menyoroti soal kabar relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi corona ini.
Budi sendiiri menilai relaksasi dengan pelonggaran PSBB dalam artian boleh keluar rumah sangat berisiko besar, karena lebih sulit menjaga atau mengatur social atau physical distancing.
"Kalau menurut saya, tidak usah dilonggarkan, artinya tetep saja stay at home, tetapi hiburannya dihadirkan di rumah. Misalnya lewat teve, serempak stasiun teve bergantian mengajak olah raga bersama, bernyanyi bersama dengan menampilkan liriknya, tayangan komedi, tayangan film, dan sebagainya," kata Budi saat dihubungi Tribunnews, Selasa (5/5/2020).
Budi tak menampik, hampir dua bulan masyarakat di wilayah yang menerapkan PSBB bisa berpotensi memicu stres. Budi menganjurkan agar kegiatan menyenangkan di rumah dilakukan.
Baca: Mengenang Awal Perjalanan Karier Didi Kempot, dari Ngamen Sampai Bisa Keliling Eropa
"Jadi orang-orang tetap di rumah, namun happy. Penggalangan dana untuk disalurkan berupa sembako ke masyarakat yang tidak lagi bekerja lebih digalakkan lagi, sehingga kebersamaan dan saling peduli menjadikan bersama kuat menghadapi pandemi," pungkasnya.
Baca: Kabar Meninggalnya Didi Kempot Langsung Jadi Trending di Twitter Pagi Ini
Sebelumnya diberitakan, Menteri Kordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD mengatakan saat ini pemerintah tengah memikirkan apa yang ia sebut relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena sejumlah pertimbangan.
Relaksasi PSBB yang dimaksud Mahfud adalah pelonggaran-pelonggaran dalam penerapan aturan PSBB namun dalam praktiknya tetap mempertimbangkan aspek keselamatan.
Sejumlah pertimbangan terkait relaksasi PSBB yang disebut Mahfud antara lain keluhan masyarakat yang kesulitan mencari nafkah dan belanja.
Baca: Check Point Sumber Artha Kalimalang Jadi Lokasi Tes PCR Pemkot Bekasi
Selain itu pemerintah juga mempertimbangkan tingkat stres masyarakat.
"Karena kita tahu kalau terlalu dikekang juga akan stress. Nah kalau stress itu imunitas orang itu akan akan melemah, juga akan menurun. Oleh sebab itu kita memikirkan mari kerjakan ini semua secara sabar bersama-sama," kata Mahfud dalam tayangan Berita Satu News Channel bertajuk Inspirasi Ramadhan pada Sabtu (2/5/2020).
Ia mencontohkan bentuk-bentuk relaksasi PSBB nantinya antara lain rumah makan dan tempat perbelanjaan akan bisa beroperasi dengan protokol khusus yang dirancang pemerintah.
"Misalnya rumah makan boleh buka dengan protokol begini, kemudian orang boleh berbelanja dengan protokol begini, dan seterusnya dan seterusnya ini sedang dipikirkan," kata Mahfud.
Karena itu menurutnya saat ini yang diperlukan adalah kesadaran bersama dari semua pihak untuk tetap mematuhi aturan keamanan yang diatur oleh pemerintah terkait covid-19 yang ada antara lain menjaga jarak fisik.
Hal itu karena menurutnya saat ini siapapun yang lengah akan bisa terkena covid-19
"Sekarang ini sama, sama-sama posisinya di depan covid itu sama, siapapun yang lengah akan diserang oleh sebab itu kita harus saling sama-sama menjaga jangan biarkan ditulari orang lain dan jangan juga menulari orang lain. Nah itulah sekarang protokol yang diatur oleh pemerintah," kata Mahfud.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/penumpang-krl-gunakan-masker_20200312_182322.jpg)