Breaking News:

Gizi Buruk Anak Dianggap Salah Satu Faktor Meningkatkan Resiko Kematian

Tingginya jumlah kematian anak yang terpapar corona virus diduga karena faktor penyerta termasuk status gizi anak Indonesia yang buruk.

Penulis: Toni Bramantoro
Editor: Hasanudin Aco
TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Wasniah mengipasi anaknya yang menderita gizi buruk di rumahnya, Minggu (20/10/2019). Anak 11 tahun ini menderita sejak setahun terakhir ini. 

 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diminta tidak mengabaikan masalah gizi anak Indonesia ditengah pandemi Covid-19.

Tingginya jumlah kematian anak yang terpapar corona virus diduga karena faktor penyerta termasuk status gizi anak Indonesia yang buruk.

Berdasarkan data Kemenkes, hingga akhir bulan Mei lalu terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari jumlah itu, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak yang dilaporkan.

“Para pejabat yang menangani masalah gizi anak di Indonesia harus ikut bertanggung jawab terhadap tingginya angka kematian anak akibat Covid-19 karena masalah gizi buruk anak Indonesia dianggap menjadi salah satu faktor penyerta yang meningkatkan resiko kematian ini,” ungkap Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, Minggu (14/6/2020).

Pejabat pejabat di Kementerian Kesehatan yang manangani gizi anak diakuinya tidak boleh bersikap santai dan harus memiliki ‘sense of crisis’ karena jika tidak maka akan banyak lagi anak anak yang beresiko meninggal ketika terpapar Covid-19.

Juru bicara pemerintah bidang kesehatan merangkap juru bicara pemerintah untuk COVId-19,

Achmad Yurianto mengatakan tingginya angka kematian anak akibat virus corona disebabkan oleh faktor-faktor yang mendasarinya, khususnya kekurangan gizi, anemia dan fasilitas kesehatan anak yang tidak memadai.

“Covid-19 membuktikan bahwa kita harus berjuang melawan malnutrisi. Anak-anak Indonesia terperangkap dalam "lingkaran setan", siklus kekurangan gizi dan anemia yang meningkatkan kerentanan mereka terhadap virus corona,” ujar Achmad Yurianto yang akrab di sapa dengan dr Yuri itu.

Agus menambahkan, dengan berhentinya aktifitas Posyandu karena pandemi Covid-19, maka pemantauan gizi anak menjadi terganggu, dan sebagai otoritas kesehatan di Indonesia, Kemenkes harus membuat terobosan.

“Tidak cukup pantauan dilakukan melalui whatsapp group seperti yang dilakukan saat ini oleh otoritas kesehatan,” tuturnya.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved