Breaking News:

Anak yang Memiliki Berat Badan Berlebih Berisiko Alami Mikropenis

Anak-anak yang memiliki berat badan berlebih atau yang disebut dengan obesitas punya risiko mengalami mikropenis atau penis pendek.

iStockphoto/nilimage
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Anak-anak yang memiliki berat badan berlebih atau yang disebut dengan obesitas punya risiko mengalami mikropenis atau penis pendek.

Medical Sexologies dr. Binsar Martin Sinaga FIAS menyebutkan bahkan 80 sampai 90 persen anak obesitas bisa dipastikan bersiko mengalami mikropenis.

"Persentasinya bisa 80 sampai 90 persen mikro penis terjadi pada anak yang obesitas," ucap dr. Binsar saat live talkshow edukasi seksual bersama Tribunnews.com, Jumat (17/7/2020).

Lantas mengapa anak obesitas begitu besar berisiko mengalami mikropenis?

Dr. Binsar menjelaskan obesitas disebabkan oleh pola makan yang berlebihan, apalagi anak-anak biasanya sangat suka makan olahan ayam broiler baik itu yang digoreng dengan tepung atau dijadikan nuget.

Baca: Obesitas Ada di Urutan Kelima Penyebab Kematian, Berikut Langkah Praktis Mengatasinya

Baca: Ribuan Hewan Mirip Penis Terdampar di Pantai di California, Ini yang Terjadi

Kalau banyak makan ayam broiler maka kadar hormon estrogen akan meningkat dan menurunkan hormon testosteron atau hormon laki-laki yang membantu perkembangan penis.

"Pada anak pria hormon testosteron yang harusnya banyak tapi ini esterogennya banyak. Jadi kegemukan bukan berarti lucu tapi berbahaya, kalau kegemukan penisnya gak tumbuh," ungkap dr. Binsar.

Sebenarnya masalah mikropenis pada anak ini dapat disembuhkan kalau pengonatan dilakukan sebelum anak berusia 13 tahun.

Sehingga dr. Binsar menyaranakn bagi orang tua yang anaknya gemuk, penis anak ukurannya pendek dan penis anak tidak ereksi saat pagi hari segera konsultasikan saja ke dokter.

Masalah mikropenis yang tidak diatasi akan sangat berbahaya bagi kehidupan anak setelah dewasa karena bisa berefek pada rasa kepercayaan diri hingga kemandulan.

"Mikroprenis itu adalah gangguan yang terjadi pada anak-anak dibawah 13 tahun, kita akan bisa memperbaiki, kalau sudah diatas 13 tahun kita sudah tidak bisa lagi membuat satu pengobatan," pungkas dr. Binsar.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved